Pada 1979 Imron sendiri sudah mulai dikenal sebagai mubaligh yang berpengaruh. Terutama di daerah Cimahi, kota administratif yang berbatasan dengan kotamadya Bandung dan Kabupaten Bandung. Imron sendiri datang ke Cimahi paska bebas dari bui. 

Selain untuk berdakwah dia juga datang untuk berdagang arloji. Kedatangan Imron ke Cimahi bukan tanpa alasan. Dia datang kesana karena sudah ada kenalan. Diantaranya Etek Minang dan Azhar Zulkarnaen. Etek Minang dikenal Imron di Arab Saudi saat lelaki asal Bukit Tinggi itu naik haji. 

Sementara Azhar Zulkarnaen adalah teman baik Salman Hafidz di Pesantren Gontor. Imron mengenalnya di Arab Saudi ketika Azhar mengantar ibunya naik haji pada 1976. Di Etek Minang, Imron pertama kali berceramah di Cimahi. Azhar Zulkarnaen yang juga ketua HIPMA (Himpunan Pemuda Masjid Agung) Cimahi turut datang bersama teman-temannya aktivis HIPMA.

Dalam ceramahnya itu Imron belum menyinggung soal politik. Ia masih ngomong ihwal pentingnya kembali kepada Islam yang murni sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Meski tak menyinggung soal politik, ceramah Imron cukup pedas. Ia mengkritik praktek-praktek ibadah di Indonesia yang dianggapnya banyak bid’ah. Semangat Imron mengajak untuk kembali kepada Islam yang murni dan bersih dari penyimpangan yaitu menentang segala hal yang berbau Syirik, bid’ah dan khurafat.

Ceramah Imron ini berhasil mempesona para peserta pengajian. Ceramahnya yang berkesan berhasil menaikkan pamornya dikalangan para aktivis Islam di Cimahi. Dalam hitungan bulan ia berhasil menghimpun banyak pengikut. Walaupun begitu, Imron belum mengajak para pengikutnya masuk jamaahnya yang saat itu dipimpin oleh Mahrizal.

Cara-cara diatas adalah salah satu trik untuk menarik pengikut untuk di follow upi, memberikan kesan mendalam adalah hal yang terpenting dalam tahapan ini, dalam beberapa tekhnis dakwah mengikat hati adalah dengan cara memberikan kesan yang mendalam, untuk itu tidak sulit untuk tarbiyah selanjutnya yaitu mengenalkan ide-ide gagasan revolusi, satu sisi aspek di atas cukup efektif mengubah karakter apatis terhadap dakwah Islam menjadi orang yang sangat militan dan mau peduli terhadap kondisi sosial masyarakat yang di hinggapi banyak penyakit. Dengan bahasa simple yang jauh dari njlimet dan kesesuian sosial telah mampu menggugah perasaan dan pikiran anak-anak muda yang masih labil guna mencari jatidiri mereka.  

Perkenalan Imron dengan para aktivis HIPMA juga mengantarkan dirinya berkenalan dengan para aktivis pemuda masjid Istiqomah, Bandung yang bergabung dalam IPI (Ikatan Pemuda Istiqomah). Hubungan antara HIPMA dengan IPI sendiri memang rekat. 

Kedua organisasi itu bisa dikatakan sebagai tulang punggung dari BKPMI(12) (Badan Koordinasi Pemuda Masjid Indonesia). Selain itu Azhar Zulkarnaen, ketua HIPMA, bersahabat dekat dengan Gunawan Tambunan yang merupakan ketua IPI. Azhar memperkenalkan Imron kepada Gunawan Tambunan.

Pengetahuan agama Imron yang luas mengesankan Gunawan Tambunan. Imron pun diundang untuk ceramah di kelompok usroh yang dipimpinnya. Pada saat itu konsep usroh memang sudah populer di kalangan aktivis IPI(13).

Kebanyakan para pengikut Imron adalah organisasi HIPMA. HIPMA adalah organisasi pemuda muslim masjid agung Cimahi. Para pemuda yang bergabung umumnya mahasiswa dan pelajar. Didaerah Cimahi dan Bandung Barat organisasi ini cukup punya nama. Pasalnya HIPMA aktif mengadakan berbagai kegiatan keagamaan mulai dari daurah training agama sampai pengajian. Beberapa mubaligh kondang dari Bandung rutin mengisi training dan pengajian disana. Misalkan, dr. Syamsudin Manaf, Ir. Bambang Pranggono, Ir. Imaduddin Abdurrahim, KH. Rusyad Nurdin dll.

Bagi warga Cimahi saat itu, HIPMA bukan hanya mampu mengorganisir berbagai kegiatan keagamaan, tapi juga punya banyak anggota aktif yang cukup banyak untuk ukuran saat itu: lebih dari 100 pemuda. Banyak para aktivis HIPMA yang menjadi pengikut Imron dan kelak punya peran penting dalam amaliat Jihad kedepan, antara lain: Azhar Zulkarnaen, Pikiantoro, Nazif Romawie. Tapi pengikut Imron tak melulu para aktivis ada juga ulama lokal. Salah satunya adalah Bachtiar Ismail, anggota MUI Cimahi yang juga adik kandung Etek Minang. Bachtiar Ismail juga seorang pengusaha sepatu. Nah, selama mukim di Cimahi, Imron sudah terbiasa menginap dirumah Bachtiar Ismail.

Bersambung ke bag 10

————–

(12) BKPMI adalah organisasi payung dari organisasi-organisasi pemuda masjid yang ada di Indonesia. Organisasi ini didirikan di Bandung pada 1978. Tokoh-tokoh pendirinya antara lain Toto Tasmara, Ir Bambang pranggono, dr.Syamsudin Manaf,dll.

(13). Wawancara anonim beberapa eks aktifis IPI.

Catatan:

Di world yg saya tulis baru 10 halaman dengan 7 bag tulisan di Facebook, masih ada 80 halaman lagi, entah sampai seri keberapa tulisan ini berakhir.

Jika di jadikan buku, tentu terlalu tebal, riset kecil-kecilan ini sejatinya untuk di membandingkan gerakan Imron yang mati muda (seumur jagung) dengan Aman Abdurrahman.

Perbedaan keduanya cukup banyak, Aman lebih metodologis, lebih Alim dan banyak meninggalkan Turast2, baik audio maupun beberapa kitab rujukan.

Kekurangan Aman, adalah jeblok komunikasi politik nya, ngawur dalam menentukan target, tidak punya visi dan misi politik, seakan2 mampu berjuang sendiri, bahkan sengit permusuhan nya dengan sesama jihadis selain ISIS, belum apa2 sudah ngajakin ribut sesama jihadis.

Kelebihan Imron, mereka punya komunikasi politik yang baik, walau di tolak mentah2 tapi upaya mereka boleh di bilang keren pd waktu itu, di akhir 70 dan awal 80an, ktk komunikasi rada sulit, mereka kemana2 cari dukungan.

Mereka boleh di bilang kelompok yang pertama kali memakai media taklim dgn menggunakan Audio rekaman, ketika kami oprak2 arsip di pengadilan negeri Jakarta pusat, BB berupa kaset banyak yang rusak, menggunakan kaset2 inilah, kelompok Imron menyebarkan fahamnya.

Tapi waktu itu, intelejen sangat kuat, kelompok ini tdk luput dr pantauan nya, boleh saya katakan dari 5 orang yang berkumpul di kelompok Imron, satu sudah pasti ada intelnya, walau ada satu korban Intel yang bernama kopral Najmuddin, tulisan ini akan membntah hipotesa yang mengatakan bahwa Jamaah Imron adalah rekayasa intelejen, intelejen menyusup iya, agar gerakan ini di pantau terus, hal ini terlihat dari lengkapnya arsip tentang mereka, setiap BAP mereka pasti terlampir data intelejen, sehingga mereka tidak bisa mengelak, ckckckck gile men.

Adapun isu komando Jihad ini dijadikan komoditas politik jaman itu, itu jelas syai’un Akhor, tetapi bicara radikalisme, Terorisme itu fakta, lagian sih pada ekstrem, makanya di manfaatkan, makanya yang adem2 aja ber-Islam.

Saya sempat tidak setuju Aman Abdurrahman di hukum mati, saya protes ke densus 88, Aman itu kita harapkan tobatnya, agar pengikutnya ikut bertaubat, jangan di hukum mati, protes saya salah alamat, ternyata itu kewenangan hakim persidangan di pengadilan negeri.

Metode penulisan ini mengandalkan cerita BAP mereka, dari Salman Hafidz, Mahrezal, Imron, Ubaidillah dll, mencari media2 dan buku2 yang menceritakan tentang mereka, dan mewancarai tokoh2 yg sudah bebas.

Mohon maaf jika belum bisa melanjutkan tulisan ini, karena ada beberapa penerbit yg meminangnya, hehehe, emang bahasan bgnian jarang yang publish, kecuali yang nekat2 kayak saya… Insya Alloh, saya pastikan ada 3 tulisan lagi akan menyusul.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *