Saya mengenal beliau sejak kuliah S1 dulu. Sering pula sowan ke ndalemnya yang waktu itu ada di Wonokromo Surabaya. Beliau mengajar kelas kami mata kuliah Fiqh Siyasah. Bahasa lisan dan tulisannya sama-sama bagusnya. Referensi yang beliau gunakan juga komplit: Indonesia, Arab dan Inggris. 

Bahkan jika menjelaskan sesuatu secara lisan, beliau menyebut salah satu rujukan buku secara lengkap: nama penulis judul, penerbit, hingga daftar halamannya pula! Di S1 pula, saya juga diajar beliau materi Akhlaq Tasawwuf, dimana kewajiban kami saat itu meresensi buku “PARA PENCARI TUHAN: Dialog Al-Quran, Filsafat dan Sains dalam Bingkai Keimanan” karya Syaikh Nadim al-Jisr”.

Di S2 pada kampus yang sama, saya diajar beliau Ushūl Fiqh. Waktu itu saya diberi tugas menulis makalah pemikiran Dr. Ahmad Arraysūnī, pakar Ushūl Fiqh Maroko, yang dijuluki “juru bicara” Abū Ishāq Asy-Syathibī, peletak rancang bangun konsep Maqāshid Asy-Syarī’ah. 

Awalnya, materi Ushūl Fiqh diasuh Prof. Dr. Sjechul Hadi Permono. Namun setelah wafatnya beliau, MK ini diampu oleh Prof. Ahmad Imam Mawardi. Waktu itu pula, pada 2011, buku karya Prof. Mawardi terbit. Judulnya “FIQH MINORITAS ; Fiqh Al-Aqalliyyāt dan Evolusi Maqāshid al-Syarī‘ah dari Konsep ke Pendekatan” yang diterbitkan LKiS Yogyakarta. Isinya mantab betul! Waktu itu, kami diminta untuk mendiskusikan buku tersebut di kelas, dan juga diminta oleh Prof. Imam untuk memberikan masukan dan kritik atas buku yang beliau tulis di atas. Sebuah pertanggungjawaban ilmiah yang menarik! Selain tugas makalah, Prof. Mawardi juga meminta kami membaca dan menulis resensi atas novel karya budayawan-sastrawan Prof. Kuntowijoyo. Judulnya, “Impian Amerika”. Novel budaya yang menarik. Mengisahkan kurang lebih 30 orang diaspora Indonesia yang datang ke New York dengan tujuan masing-masing. Syakir dari Aceh, Suleman dari Madura, Sukiman dari Yogyakarta, dan sebagainya. Adaptasi budaya dan kecermatan dalam mempertahankan prinsip keIndoensiaan   dirangkai dengan baik oleh Prof. Kunto.

Tahun 2018, bulan April, acara diskusi dan pelatihan Metodologi Islam Nusantara digelar di Pesantren Alif Laam Min, yang diasuh Prof. Mawardi. Beliau bukan saja bertindak sebagai tuan rumah yang baik, melainkan juga sebagai pemateri yang ciamik. Kalau menyampaikan ulasan, walaupun tetap akademis dan ilmiah, Prof. Mawardi selalu menyelipkan dua kategori humor untuk menertawakan diri sendiri: joke tentang santri dan ledekan tentang orang Madura. Saya masih ingat waktu beliau menyampaikan joke orang Madura kaya yang sedang erada di restoran Eropa. Dia melihat tikus berkeliaran di sekitar meja. Karena lupa bahasa Inggris-nya tikus, tapi ingat sosok Jerry dalam serial kartun Tom and Jerry, akhirnya dengan percaya diri dan logat Madura yang kental, dia bilang ke pelayan, “Excuse me. There is Jerry here!” sembari menuding tikus di pojokan.

28 Januari 2020 silam, INAIFAS Kencong Jember mengundang beliau untuk menjadi pemateri dalam Studium Generale. Isinya motivasi penuh bagi adik adik mahasiswa. Terimakasih Prof!

***

Alhamdulillah, segenap keluarga besar INAIFAS Kencong Jember mengucapkan selamat, sukses dan berbarakah atas dikukuhkannya Prof. Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi MA., sebagai guru besar bidang Filsafat Hukum Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *