Pasca peristiwa tragis 11 September 2001, yakni serangkaian empat serangan bom bunuh diri atas Twin Tower WTC di New York yang menelan korban tewas  sebanyak hampir 3000 orang dan lebih dari 6000 orang terluka, al-Qaeda bertransformasi menjadi Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) atau al-Daulah al-Islamiyyah fi al-Iraq wa al-Syam (DAISY) dalam bentuknya yang lebih radikal, sehingga eksistensinya menimbulkan ancaman bagi perdamaian dan keamanan global. 

Awal mulanya, kelompok ISIS bernama Jama’at al-Tauhid wa al-Jihad yang dibentuk pada tahun 1999 oleh seorang tokoh radikal Yordania, Abu Mus’ab al-Zarqawi, yang berbaiat kepada Osama bin Laden, pimpinan al-Qaeda pada 2004, setelah itu namanya dirubah menjadi AQI (Al-Qaeda in Iraq) dan bergabung dengan kelompok perlawanan Iraq. Setelah pada Oktober 2006 al-Zarqawi tewas terbunuh, pimpinan AQI beralih dikendalikan oleh Abu Omar al-Baghdadi dan Abu Ayyub al-Mishri, lalu namanya berubah menjadi ISI (Islamic State in Iraq). Kemudian pada 2010, Abu Ayyub al-Mishri tewas terbunuh dalam operasi militer gabungan  Amerika-Iraq dan sejak itu ISI dipimpin sendiri oleh al-Baghdadi. Setelah ISI berhadil menguasai front al-Nushra di wilayah Suriah, al-Baghdadi mengubah nama ISI menjadi ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant). Pada 8 April 2013, al-Baghdadi menyatakan bahwa seluruh wilayah front al-Nushra sudah digabungkan menjadi suatu negara yang dinamakan al-Daulah al-Islamiyyah atau Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).

Tepatnya pada 29 Juli 2014 telah dideklarasikan Tandzim al-Daulah al-Khilafah (ISIS) dan mengumumkan nama Abu Bakr al-Baghdadi sebagai Khalifah barunya. Nama aslinya Ibrahim ‘Awwad Ibrahim. Pengumuman itu dibacakan oleh Juru Bicara resmi ISIS, Abu Muhammad al-‘Adnani, asal Syiria. Di bawah kepemimpinan “Khalifah” Abu Bakr al-Baghdadi,  ISIS yang semula merupakan gerakan lokal di Iraq kemudian menjadi gerakan transnasional yang ideologinya menyebar sangat cepat ke seluruh penjuru dunia, hingga merambah ke wilayah Asia Tenggara, khususnya ke Malaysia dan Indonesia. 

Melalui media sosial, menggunakan sarana teknologi informasi, dan komunikasi yang intens dan efektif, ISIS menyebarluaskan propagandanya kepada seluruh umat Islam agar mendukung “jihad”nya dan bergabung dalam mencapai tujuan tersebut, yakni menegakkan Khilafah Islamiyyah yang telah mereka deklarasikan.

Di Indonesia ISIS antara lain mendapatkan dukungan dari JI, JAT, JAD, dan FPI. Tujuan kelompok teroris ISIS adalah menciptakan dan meneguhkan al-Daulah al-Islamiyyah atau al-Khilafah al-Islamiyyah. Hal mana tujuan ini sama dengan tujuan organisasi tersebut di atas. 

Para pentolan FPI aktif bergerak mempengaruhi banyak anggotanya untuk “berjihad” mendukung ISIS, di antaranya adalah  ceramah HRS pada 17/8/2014 di Tanah Abang yang pada intinya mendukung ISIS karena sama-sama ingin menegakkan Syariat Islam. 

Pemberian dukungan FPI tersebut tidaklah mengherankan, karena tujuan ISIS sejalan dengan Visi dan Misi FPI sebagaimana termaktub pada Pasal 6 Anggaran Dasar FPI, “Visi dan Misi FPI adalah penerapan Syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah Islamiyyah menurut Manhaj Nubuwwah, melalui pelaksanaan dakwah, hisbah, dan pengamalan jihad”.

Bahkan, Pasal 6 ART FPI juga menjelaskan bahwa, “FPI harus berperan aktif dalam upaya menegakkan Khilafah Islamiyyah ‘Alamiyah sesuai Syariat Islam…” Hal mana frase “Khilafah Islamiyyah ‘Alamiyah”, yakni Khilafah Islam Global, juga merupakan misi utama yang tiada henti dimimpikan oleh pegiat khilafah dari organisasi terlarang Hizbut Tahrir atau HTI di Indonesia.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *