Agama memang mengandung radikalisme jika dipahami sebagai sikap merasa paling benar sendiri, baik sendiri dan paling sempurna sendiri — semua pemeluk agama punya sikap sama : benar sendiri. Dan itu radikal. Lantas apanya yang salah ? 

*^^^^*

Samuel Huntington menjelaskan apik tentang benturan peradaban — Islam mungkin masih dijadikan musuh bersama dan itu realitas. Barat tetap saja arogan, merasa paling beradab dan paling berbudaya, lantas menjadikan budaya selain barat sebagai nista dan harus di barat-kan (westernisasi). Modernisasi juga radikalisme bila dipahami sebagai ikhtiar mengalahkan yang natural. 

Memisahkan agama dengan teroris saya pikir bentuk lari dari tanggungjawab, cuci tangan, mengingkari realitas dan enggan menerima resiko — teroris lahir dari iman yang kuat dan amal yang kokoh —teroris sudah pasti punya agama. Apapun itu. 

Dengan sikap macam itu lah maka saya memeluk Islam, yang saya yakini lebih benar, lebih baik, lebih sempurna ketimbang 4300 agama yang ada. Jika saya merasa bahwa Islam adalah agama yang paling benar sendiri, lantas apanya yang salah ? apa saya keliru jika dalam urusan iman saya eksklusif.

*^^^*

Memisahkan agama dengan sikap radikal, ibarat memisahkan api dengan panas, angin dan gerak, dingin dan salju —- kata Ibnu Araby ketika menjelaskan eksistensi dirinya dengan Rabb yang dia cintai. Maka tasbih yang di ucapkan pun juga tak sama : sub-hani—sub hani, maha suci aku-maha suci aku— ini juga paham sangat radikal mungkin mbahnya radikal. Bikin berang para fuqaha dan cukup alasan untuk menghalalkan darahnya. 

Merasa paling benar adalah sunatullah — alamiah dan natural. Dengan begitu lahir ghirah, spirit mempertahankan dan memperjuangkan kebenaran yang diyakini. Ini juga bagian dari sejarah kemanusian —- bhagawat ghita adalah jawaban Kresna atas bantahan Arjuna yang mulai ragu, kenapa ia harus membunuh sesama saudara dalam kisah perang Bharata Yudha. 

Bharata Yudha adalah kisah tragis, tapi juga simbol atas kemanusian dan humanitas — kadang kita lupa bahwa kita hanya bermain peran. Mungkin saja kita bakal masuk surga yang sama atau neraka yang sama meski berbeda jalan. Bergantung pada niat masing-masing. Bahkan Bhisma tokoh kebajikan itu harus perang pada pihak yang salah dan melawan nurani nya. Tapi siapa bisa menolak peran. 

*^^^^*

Tapi bagaimana jika membunuh menjadi bagian dari iman — sepeti halnya kelompok Syiah Qaramithah yang membunuh lawan dengan pisau belati — mungkin semacam seni menghabisi lawan dengan cara eksotik. Termasuk bom bunuh diri — de-radikalisasi juga cara ekstrim untuk mengalahkan — sebab semangatnya juga sama : membunuh dengan cara legal. 

Seperti halnya ideologi, agama juga punya daya rusak — bisa saja menjadi bahan bakar atas perang yang lazim disebut jihad. Agama juga menciptakan musuhnya sendiri untuk dilawan dan dikalahkan, dengan begitu maka setiap pemeluk agama tetap merawat ghirah tanpa kecuali. 

Prof Haidar mengingatkan agar mewaspadai fanatisme partisan di Persyarikatan — saya tau arahnya, meski tak baik disampaikan vulgar. Tapi saya kawatir, menjadi rumah singgah bagi ideologi partisan  yang sedang kehilangan rumah 

*^^^^*

Bukankan negara juga harus punya musuh untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan — teroris salah satunya. Jadi jujur saja saya iklas, ketika teroris ditabalkan pada suatu agama tanpa terhalangi. Bukankah keduanya bersinergi saling membutuhkan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *