Imam Abu Bakr Az Zur’i rahimahullah berkata, bahwa salah satu perkara yg wajib diwaspadai oleh setiap Muslim adalah :
اَلتَّهَاوُنُ بِالْأَمْرِ إِذَا حَضَرَ وَقْتُهُ
“Kewajiban telah datang tetapi kita tidak siap untuk menjalankannya”.
Beragam cara penyambutan, sangat mempengaruhi cara memperlakukan. Ada yg bersungguh2 pun ada yg biasa saja, sebagaimana bulan lainnya. Para ulama, memberi banyak contoh bagaimana memperlakukan Ramadhan demikian istimewa. Dengan persiapan yg luar biasa.
Kesibukan para ulama salafush sholeh, setiap akhir bulan sya’ban, merupakan perwujudan kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan yg penuh berkah, permohonan dan bentuk ketawakkalan mereka kepada-Nya. Tentunya, mereka tidak hanya berdo’a, namun persiapan menyambut Ramadhan mereka iringi dgn berbagai amal ibadah.
Karena sudah seyogyanya siapapun yg ingin berangkat menjumpai satu keadaan ia mesti punya bekalan. Allah ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu……” (QS: At Taubah: 46).
Dan bekal menyambut Ramadhan adalah memperbanyak doa dan amal saleh serta memperbaharui taubat sebagaimana para ulama salafus soleh.
Dalam Kitab Lathaiful Ma ‘arif fima li Mawasimil Ami minal Wadhaif, karya Abdurahman ibn Syihabuddin Ahmad ibnu Rajab ibnu Abdurrahman ibnu Hasan ibnu Muhammad ibnu Abil Barakat Mas’ud al Hafidz Zainuddin Abul Faraj al Baghdadiy ad-Dimasyqi al Hanbaliy atau Imam Ibnu Rajab rahimahullah (4 November 1335 M, Bagdad – 14 Juli 1393 M, Damaskus, Suriah), disebutkan bahwa salah seorang ulama tabi’ut tabiin, Muhammad bim ʿUmar al-Hakim at-Tirmidzi al-Balkhi atau Imam Abu Bakar al Warraq al Balkhi rahimahullah (wafat 240 H / 854 M) mengatakan,
شهر رجب شهر للزرع و شعبان شهر السقي للزرع و رمضان شهر حصاد الزرع
“Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.”
Dalam kitab yg sama, sebagian ulama yg lain mengatakan,
السنة مثل الشجرة و شهر رجب أيام توريقها و شعبان أيام تفريعها و رمضان أيام قطفها و المؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر و بمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر
“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu menumbuhkan daun, Syaban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yg “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dgn taubat di bulan2 ini, sedang mereka yg telah menyia2kan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik2nya (dgn mengerjakan ketaatan) di waktu tsb.”
Doa ulama salaf
Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah dalam kitab yg sama, menyebutkan salah satu contoh doa ulama tabi’in salafus soleh. Diriwayatkan dari Abu Nashr Yahya bin Abi Katsir Shalih bin Al Mutawakkil Ath Tha’iy Al Bashri atau Imam Yahya bin Abi Katsir (wafat 132 H / 749 M, hidup di Yamamah), bahwa beliau mengatakan bahwa :
“Diantara doa sebagian sahabat ketika datang Ramadhan,
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (kitab Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)
Semoga kita diberi kesadaran dan kekuatan untuk menjalankan keutamaan persiapan ramadhan dgn Istiqomah. Aamiin
Semoga bermanfaat
from various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet