Mari jujur. “Seteru’ antara Muhammadiyah dan NU bukan seteru biasa. Ini bukan sekedar soal

niat yang dibaca jahr atau sir, dikotomi bid’ah hasanah dan dhalalah yang tak kunjung selesai ditangan para ulama nahwu, ada tidaknya bacaan qunut dalam shalat subuh atau sebutan sayidina dalam tahiyat. Tapi telah jauh mengakar karena terus dirawat dalam berbagai doktrin dan tausiyah. Semacam etno-religion yang memproduksi ke aku-an. Dan pikiran benar sendiri. 

Semoga semua masalah bisa diurai—

*^^^^**

Kedua ormas besar itu mengandung etnoreligion yang tidak sederhana. Rumit dan klasik. Ini bukan hanya soal dua ormas yang berdiri, kemudian menyelenggarakan pengajian atau bersaing membangun masjid dan berebut umat. 

Diantara keduanya ada sekelompok yang sangat militan, yang gampang disulut marah, terus merawat selisih dan konflik kecil-kecil yang diagamakan, tapi juga ada sekelompok moderat yang melihat kesamaan dan memandang  perbedaan sebagai keniscayaan. Keduanya terus bersinggungan dalam titik yang boleh jadi sama. 

Tapi Jujur saya katakan kami saling ‘musuhan’. Ada beberapa kelompok pandangan terhadap Muhammadiyah dan NU, 

Pertama sebagian kecil jamaah Muhammadiyah menganggap NU adalah kawanan ahli bid’ah, tempat di mana tbc bakal diberantas. NU adalah proyek dakwah yang harus ‘disunahkan’ dan ‘dibersihkan’ dari tbc. NU adalah kawanan orang-orang jumud, kolot, tradisional yang harus diberi pencerahan dan pemodernan. Pikiran ini demikian kuat dikalangan sebagian Muhammadiyah yang mengandung militansi sebagai bentuk gerakan purifikasi. Sampai disini maka terlihat gerakan MUHAMMADIYAH begitu ofensif. Nahy munkar kerap diarahkan untuk memberantas bid’ah, takhayul dan churafat. 

Sebaliknya bagi NU, MUHAMMADIYAH adalah kaum puritan, kawanan kecil tapi militan, yang melawan tradisi dan kemapanan. Bahkan disebut pula sebagai inkarnasi Salafi Wahabi. Bahkan beberapa ulama menyebut MUHAMADIYAH tidak masuk kategori golongan ahli sunah. Radikal dan fundamentalis. Muhammadiyah anti adat, tak suka tradisi. MUHAMAMDIYAH adalah Wahabi itu sendiri yang secara diametral berhadapan dengan tradisi pesantren dan doktrin aswaja. Karena itu ‘aqidah’ nya beda. Muhammadiyah itu ‘bukan kita’. 

Setidaknya kedua ormas besar terindikasi saling merawat perbedaan dan selisih kecil-kecil. Meski irisan perbedaan ideologi keduanya juga semakin menipis. Terlihat berbagai upaya untuk mendamaikan keduanya makin menguat. Meski tidak menyatukan secara ideologis. 

*^^^*

Walhasil Para peneliti barat malah ikutan ‘ngompori’ dengan berbagai stigma yang ditabalkan pada keduanya agar berhadapan secara diametral—- para pengamat barat malah memposisikan Muhammadiyah dan NU antitesis bagi yang lainnya: tradisionalis><modern, desa><kota. Ahli bidah><ahli sunah. Moderat><puritan. Kolot><pembaharu, meski stigma macam ini sudah usang, seiring berkembangnya waktu dan dinamika keduanya. 

Bagi saya perbedaan MUHAMMADIYAH dan NU sesunguhnya sudah tak bisa lagi relevan dengan pikiran dialektik itu. NU sudah berubah, pun dengan Muhammadiyah, ibarat pendulum bisa begeser ke kanan atau ke kiri sesuai sunatullah. 

Sayannga ‘pikiran konfrontatif’ tak ikut reda bahkan tensinya cenderung naik meski stigma dialektik keduanya telah menipis atau boleh jadi sudah tiada. Puluhan universitas modern,  boarding school, rumah sakit yang sebelunya dimonopoli Muhammadiyah justru lahir dari rahim pesantren yang dulunya pernah di cap kolot. Muhammadiyah pun juga balance tidak melulu membangun universitas, rumah sakit, atau sekolah-sekolah ‘sekuler’ tapi juga membangun tradisi pesantren berbasis agama yang sangat kuat. Dan rajin menghafal Quran, hal mana pernah dikritik habis Kyai Dahlan di awal berdirinya dalam teologi Al Maaun yang mengedepankan amal ketimbang hafal. 

*^^^*

Realitasnya ada ikhtiar agar keduanya saling mendekat dan tak lagi bisa ditarik batas tegas untuk membuat perbedaan. Tapi kenapa masih bersaing ? Membangun rivalitas dan konflik-konflik yang terus dirawat ? Ada banyak jawaban, sebanyak itu pula soalan—jadi tak perlu di nafikkan sebab perbedaan keduanya adalah niscaya sebagai sebuah sunatullah. 

Kami sadar tidak semua jamaah Persyarikatan paham sikap wasatihyah yang digagas para ulama Muhammadiyah —terjadi pengerasan bahkan tidak menutup kemungkinan ada sebagian kecil yang mengalami migrasi ideologi dan kita sedang bekerja keras membangun gagasan gerakan wasathiyah dan moderasi —- saya pikir d NU juga sama, tidak semua . sepaham dengan konsep Islam moderat yang dikemas dalam Islam nusantara, tidak dinafikkan ada sebagian Nahdhiyin yang keras, intoleran dan kaku bergaul— kita berada pada titik yang sama melawan fanatisme dan radikalisme di tubuh sendiri. Ini tulisan cinta agar damai dan sentosa.  Wallahu taala a’lam 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *