Ketika Tuhan hendak mengajarkan kepada kita tentang amalan yang berat. Seringkali diawali dengan kalimat-kalimat bernada sumpah. Menariknya kadang Dia bersumpah dengan bentuk-bentuk ciptaan Nya sendiri. Diantaranya adalah Demi Malam ketika membawa kegulitaan dan Demi siang yang membawa membawa kecerahan. Seolah Tuhan hendak mengatakan “Aku ingin kalian belajar, merenung dan berpikir tentang semua ciptaan Ku, dimana kusimpan semua hikmah di dalamnya. (yang) Jika kalian menyadarinya, maka kalian akan mendapatkan kemudahan dalam mengembangkan potensi kehambaan kalian menuju manusia kamil yang Aku ridhoi.”
Manusia adalah mahluk paling sempurna yang disiapkan Allah untuk menjadi “pengelola” dunia, agar dunia yang menjadi tempat ujian manusia bisa dikelola dengan baik sampai hari “pembalasan” semua amal terjadi. Bagaimana kita sebagai manusia mengelola lingkungan kita? Itulah amanah yang diberikan Tuhan kepada kita, karena kita telah menerima tantangan tersebut. Ketika semua mahluk “menolak” karena merasa tak sanggup menaklukkan tantangan dunia. Semua mahluk merasa heran dengan “kebodohan” manusia yang justru (menurut pengetahuan malaikat) akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di dunia. Dimana memang itulah yang terjadi dan manusia jalani sejak awal manusia “dikirim” ke dunia. Lantas hikmah apa yang bisa kita pelajari dari semua “keanomalian” ini?
Manusia adalah mahluk cerdas yang diberi kemerdekaan oleh Allah untuk memilih menjadi dan menjalankan peran seperti apa yang dia kehendaki. Manusia adalah ciptaan Nya yang paling mewakili Diri Nya. Iblis yang sombong tak mungkin berani mendaku dirinya sebagai tuhan. Tapi banyak sekali manusia yang melakukannya. Penolakan mereka terhadap “amanah” berat yang akhirnya diterima oleh manusia adalah bukti betapa mereka memang disiapkan sebagai mahluk yang bisa makrifat kepada Allah dengan sendirinya. Berbeda dengan kita, dimana kemakrifatan kita terhijab ketika kita lahir dan semakin besar. Hanya orang-orang tertentu yang mau dan mampu menyadari potensi biologis dan spiritualitasnya bisa tetap makrifat dan mengamalkan semua perintah Allah dan Rasul Nya. Salah satu pintu kemakrifatan yang tetap terbuka lebar adalah “kedermawanan”. “Barangsiapa dermawan dan bertaqwa, dan membenarkan dengan penuh keyakinan pahala perjumpaan dengan Allah. Maka akan selalu disegerakan menemukan jalan yang mudah untuk membuka hijab duniawi. Sehingga akan selalu merasakan kehadiran Nya yang abadi, menenangkan, menyenangkan dan membahagiakan. #SeriPaijo

No responses yet