Imam Ad Darimi meriwayatkan cukup eksotik tentang suara gemuruh dari arah masjid adalah salah satu ciri umat Rasulullah saw di akhir zaman: semoga riwayat ini tidak di dhaif kan karena merugikan kelompok tertentu—
*^^^*
‘.. ..,Mereka memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dalam keadaan senang atau susah, mereka selalu mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap kemenangan, mereka membasuh anggota wudlu mereka, mengenakan kain sarung pada bagian tengah mereka, bereka berbaris dalam shalat seperti berbarisnya mereka dalam peperangan, suara mereka di masjid-masjid mereka seperti gemuruh suara lebah, terdengar suara mu`dzin mereka di angkasa”.
Apa yang tersisa dari hari raya? Mesin Toa diheningkan. Mercon dan kembang api di alpakan. Bedhug dibungkam. Takbir keliling di bid’ahkan. Ketupat lontong dikaferkan. Halal bi halal dipertengkarkan. Baju baru di mubazirkan karena dianggap pemborosan. Galak gampil disesatkan karena tidak ada contoh dari nabi saw. Bahkan mudikpun tinggal nama.
Saya bukan pengagung suara Toa, mesin pengeras suara buatan Jerman itu— terpenting mesin Toa tidak di politisisasi apalagi sampai diberi cap identitas manhaj tertentu sebagaimana warna merah, kuning, biru dan kotak-kotak.
*^^^^
Dunia terasa kian sempit karena banyak aturan dan larangan yang dilembagakan —
Mesin Toa hilang. Menara pun melemah. Juga bedhug— bahkan mungkin adzan suatu saat bisa hilang karena dianggap mengganggu ketertiban umum.
Sebagian merasa sangat terganggu dengan ‘suara berisik’dari arah masjid— tak dipungkiri diantara kita ada banyak macam didalam menikmati ritual. Ada yang beranggapan bahwa khusyuk hanya bisa dicapai dalam hening, meski saat hening juga tak ada jaminan tidak mikir yang lain.
Sebagian yang lain menganggap sebagai syiar agar masjid tidak sepi seperti kuburan, meski kemudian tak mengenal waktu dan melahirkan suara berisik yang amat sangat.
Apapun mengandung resiko— mematikan mesin Toa dan membatasinya juga bukan tak mengandung masalah. Mengeraskan suara dengan tidak mengenal waktu juga banyak masalah.
*^^^*
Dalam kitab Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Al Albani dikisahkan: Saat sidak kepada dua sahabatnya yang sedang shalat malam, Rasulullah saw berkata : ‘wahai Umar pelankan sedikit suaramu, kemudian kepada Abu Bakar Rasulullah saw bersabda wahai Abu Bakar keraskan sedikit suaramu’.
Sayang sekali tidak ada rekaman yang bisa dijadikan rujukan sekeras apa suara Umar dan sepelan apa suara Abu Bakar—
Pada akhirnya, memang kita harus kompromi, bukan saling menyalahkan apalagi bertengkar untuk urusan teknis, senyumin saja

No responses yet