Kiai Agus Sunyoto adalah salah satu yang mengendorse Buku “Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah”. Beliau mengatakan, buku ini sebagai bacaan yang sangat dibutuhkan di jaman krisis multidimensi yang ditandai rasionalisme sekuler-materialisme tak-terkendali, yang untuk menyeimbangkannya butuh keteladanan para kiai yang arif dan bijaksana seperti terdiskripsi dalam buku ini.
Dalam buku Tambakberas dijelaskan oleh KH. Mun’im DZ bahwa Kiai Wahab Chasbullah mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dengan sarung dan kopiahnya. Beliau sebagai anggota penasehat delegasi Indonesia ketika mendampingi Bung Karno berpidato di PBB, Kiai Wahab Chasbullah memakai sarung. Sarung saat penjajahan juga sebagai sikap non cooperative dengan budaya penjajah. Kiai Wahab dengan penampilan yang khas ini menjadi contoh para diplomat yang berkarakter.
***
Sisi yang dalam hemat saya menarik dari gagasan Kiai Agus Sunyoto adalah kerisauan beliau akan adanya mental tidak percaya diri anak bangsa ini atas kemampuannya. Padahal secara historis, bangsa ini sejak dahulu kala sudah punya peradaban yang unggul. Mental bangsa Indonesia kerap minder terhadap bangsa lain karena tidak banyak memahami sejarah dan kehebatan bangsa Nusantara.
Nampaknya penjajah mampu membuat mental bangsa ini menjadi lemah, yang ditambah dengan era modern muncul kekaguman dengan budaya Barat secara berlebih. Sikap inlander semakin terlihat.
Hemat saya, dengan tetap berpegang dan meyakini peradaban bangsa malah akan menambah keyakinan anak bangsa. Saya “lamat-lamat” (ingat-ingat sedikit) kalau keliru tolong dikoreksi bahwa Prof. Nurcholis Madjid pernah menulis, Jepang maju dengan tetap menjaga budaya dan tradisinya. Bisa juga ditambahkan China yang bersaing ekonominya dengan Amerika. Atau untuk negara Muslim adalah Iran yang mampu menguasai teknologi nuklir dan satelit padahal negara itu dipersulit ekonominya oleh Amerika.
***
Mental inlander ini juga merambah kepada apa yang disebut oleh penulis dari “India” (maap maksudnya pengagum film India), Gus Rijal Mumazziq Z bahwa
ada gejala anak bangsa ini yang minder beragama, baca https://www.facebook.com/100002149375608/posts/3903311779750429/.
Tentu maksudnya bukan agar kita “petentang petentang” dengan sedikit-sedikit menyebut dalil diikuti ucapan akhi, antum dan sejenisnya plus membid’àhkan, mensyirikkan dan menyesatkan liyan. Namun agar kita tetap percaya diri dengan ajaran agama sembari bisa menjalin relasi hormonis dengan umat lain secara bermartabat.
***
Mental minder dan inlander ini juga terbukti pada beberapa oknum pejabat yang malah tidak bisa bergerak merangkul para ahli virus dan ahli yang lain untuk segera membuat vaksin. Karena selain negara Barat sudah berhasil, China, India dan Iran juga mampu membuat vaksin.
Selain mental inlander dan minder, juga ada sebagian oknum pejabat yang bermental serakah dan koruptif. Beras malah kepengen impor dan garam pun yang pantai kita sangat panjang juga masih impor.
Namun saya tetap percaya bahwa nanti akan muncul generasi pejuang yang bangga dengan budaya, tradisi dan peradaban bangsanya dengan mantap menatap masa depan berbekal pengetahuan dan sains yang mereka pelajari dari berbagai negara di dunia.
****

No responses yet