Mari kita lihat sepintas uslub Al-Qur’an.
Al-Qur’an hadir dengan bentuk yang berbeda, bukan berbentuk bait-bait. Dan tidak pula berbentuk prosa khutbah atau kalam hikmah. Ia hadir dengan bentuk berbeda dengan nama berbeda pula “Al-Fur’qan”, dengan ayat-ayatnya dan surat-suratnya.
وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ )(al-Isra/ 106)
( تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً)(al-Furqan/1)
( الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِينٍ )(al-Hijr/1)
( سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا)(al-Nur/1) .
Nama berbeda. Al-Qur’an bukan syi’r bukan pula nasr, tapi Al-Qur’an, Al-Furqan, dengan istilah Ayat-ayat dan surat-suratnya. Ia tidak dikenal di kalangan Arab Jahiliyah, bukan yang seperti mereka dendangkan, dan bahkan mereka terkaget-kaget ketika ada beberapa surat yang dibuka dengan huruf-huruf langka, “Nun”, “Ya Sin”, “Alif Lam Mim”, “Qof” aneh ini bukan puisi, bukan pula prosa yang mereka kenal.
Nada dan langgamnya tidak seperti puisi, ia memiliki pola sendiri, seperti;
وَٱلنَّـٰزِعَـٰتِ غَرۡقࣰا، وَٱلنَّـٰشِطَـٰتِ نَشۡطࣰا، وَٱلسَّـٰبِحَـٰتِ سَبۡحࣰا، فَٱلسَّـٰبِقَـٰتِ سَبۡقࣰا، فَٱلۡمُدَبِّرَ ٰتِ أَمۡرࣰا،
tiba-tiba dalam satu surat berubah
یَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ, تَتۡبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ, قُلُوبࣱ یَوۡمَىِٕذࣲ وَاجِفَةٌ
Kadang dalam satu surat, kita menemukan kisah, tapi ia bukan cerpen apalagi novel. Ada pola yang unik, dengan imaji yang tinggi, juga tidak sepi dari majas, personifikasi, metafora, heperbola, tamsil, simile, alegori, eufinisme, tiba-tiba ada kata perintah, peringatan, kabar gembira, siksa, hukum dan…seperti mengobarkan semangat, tiba-tiba sedih, tiba-tiba gembira, ada harapan, ada ancaman, penghianatan, kemunafikan, dosa dan dusta, ada sisipan kisah orang-orang terdahulu, keghaiban, surga dengan keindahannya, neraka dengan kengeriannya. Gaya Ini, tidak ditemukan pada karya sastra sebelumnya (masa jahiliyah).
Belum lagi bagaimana ia membuka suratnya (fawatih) menutupnya (khawatim) cukup indah, pilihan diksinya, dengan bahasa yang kadang belum dikenal sebelumnya, akurasi pencitraan: transendensi ekspresi (sumuu ta’bir) dan ungkapannya yang kuat (udmah ta’bir), singkat padat (ijaz), pengulangan yang tidak biasa (balaghah aal-tikrar).
Pula, menggunakan nama yang asing dalam setiap suratnya : sapi (al-Baqarah) , guntur (al-Ra’d), meja makan (al-Maidah), gua (al-Kahf), Muhammad, cahaya (al-Nur) dll, dan banyak kisah dalam setiap suratnya, ada pula yang mirip tapi berbeda, menggunakan diksi yang berbeda pula.
Membicarakan al-Qur’an tidak akan pernah selesai, tafsir selalu bertandang, pada setiap zaman punya kekhasan, ia benar-benar mutiara. Inna anzalnahu qur’anan Arabiyan la’alakum ta’qilun.

No responses yet