Orang laki-laki merdeka pertama yang beriman kepada Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pertama kali yang sholat bersama beliau dan membenarkan apa yang beliau bawa, adalah Sayyidina Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim.

Beliau sejak kecil, dalam pengasuhan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Diceritakan, orang-orang Quraisy ditimpa krisis hebat termasuk Abu Thalib, paman Sayyidina Muhammad, yang punya tanggungan yang banyak. Sayyidina Muhammad, yang saat itu belum mendapat wahyu, berinisiatif dengan pamannya, Al Abbas, orang Bani Hasyim yang paling kaya ketika itu, “Wahai Paman Abbas, saudara anda, Paman Abu Thalib, punya banyak tanggungan, dan sama seperti orang-orang lain, beliau sedang ditimpa krisis seperti yang anda lihat. Mari kita sama-sama pergi ke rumah Paman Abu Thalib kemudian kita ringankan tanggungannya. Aku ambil satu orang anak Paman Abu Thalib dan anda juga mengambil satu orang anak Paman Abu Thalib untuk masing-masing kita asuh. Jadi, kita minta dua orang anaknya.” 

Al Abbas menjawab, “Ya, boleh juga idemu,”.  

Kemudian Sayyidina Muhammad dan Al Abbas pergi ke rumah Abu Thalib. Tiba di rumah Abu Thalib, keduanya menyampaikan maksud kedatangannya kepada Abu Thalib, lalu berkata “Kami berdua ingin meringankan tanggunganmu hingga krisis yang menimpa ini berakhir,”.

Abu Thalib berkata kepada keduanya, “Jika kalian berdua menyisakan Aqil untuk saya, maka laksanakan apa yang kalian berdua inginkan,”.

Sayyidina Muhammad pun memungut Ali dan memboyongnya ke rumah beliau, sedang Al Abbas memungut Ja’far dan memboyongnya ke rumahnya. Sejak itu, Ali bin Abu Thalib tinggal bersama Sayyidina Muhammad hingga Beliau SAW diutus Gusti Allah sebagai  Nabi-Nya dan seterusnya. Sedang Ja’far tetap tinggal bersama Al Abbas hingga dia masuk Islam dan mandiri.

Tiga tahun sesudah kerasulan Kanjeng Nabi Muhammad SAW,  perintah dari Gusti Allah datang agar Kanjeng Nabi mengumumkan ajaran Islam yang selama itu masih disembunyikan. Ketika itu, datang wahyu :

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ ¤ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ¤ فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan berilah peringatan kepada  keluarga-keluargamu yang dekat. Limpahkanlah kasih sayang kepada orang-orang beriman yang mengikut kamu. Kalaupun mereka tidak mau juga mengikuti kamu, katakan pada mereka : Aku lepas tangan dari segala akibat perbuatan kamu” (Asy Syu’ara 214-216)

Kanjeng Nabi Muhammad SAW pun memakai strategi kenduren demi melaksanakan perintah tersebut. Kanjeng Nabi SAW mengundang  keluarga-keluarga Beliau SAW dalam acara makan-makan di rumahnya. Lalu di tengah acara kenduren tersebut, Kanjeng Nabi mencoba bicara dengan mereka dan mengajak mereka kepada Gusti Allah. Tetapi Abu Thalib, paman Kanjeng Nabi, menyetop  pembicaraan itu. Abu Thalib pun mengajak orang-orang pergi meninggalkan tempat kenduren tersebut.

Keesokan harinya sekali lagi Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengundang mereka dalam acara kenduren. Selesai makan, Kanjeng Nabi dawuh pada para keluarganya, “Saya tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab ini yang membawa suatu agama ke tengah-tengah mereka lebih baik dari yang saya bawa kepada kalian semua ini. Saya membawakan untuk kalian urusan dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan telah menyuruh saya mengajak kalian kepada-Nya. Siapa di antara kalian ini yang mau mendukung saya dalam hal ini?”

Semua keluarga Kanjeng Nabi SAW pun menolak dan sudah bersiap-siap akan meninggalkan Kanjeng Nabi. Tetapi tiba-tiba Ali kecil, putra Abu Thalib, sepupu Kanjeng Nabi, bangkit. Ketika itu dia masih anak-anak, 7 tahun ada yang berpendapat 10 tahun. 

“Yaa Abal Qosim, saya akan membantumu!” kata Ali kecil pada Kanjeng Nabi. “Saya adalah lawan siapa saja yang menentang anda!” 

Keluarga Bani Hasyim tersenyum dan ada pula yang tertawa terbahak-bahak. Mata mereka berpindah-pindah dari Abu Thalib kepada anaknya, Ali. Seakan menyalahkan Abu Thalib ini atas kejadian tersebut. Kemudian mereka semua pergi meninggalkan rumah Kanjeng Nabi dengan ejekan.

Setelah kejadian tersebut, saat waktu sholat telah tiba, Kanjeng Nabi Muhammad SAW pergi ke syi’b (jalan di antara dua bukit) bersama Sayyidina Ali bin Abu Thalib dengan diam-diam tanpa sepengetahuan ayah Ali, yaitu  Abu Thalib, paman-paman beliau, dan kaumnya. Kemudian Kanjeng Nabi dan Sayyidina Ali mengerjakan sholat-sholat di syi’b  tersebut. Kemudian, pada sore hari, baru keduanya pulang ke rumah. Itulah yang mereka lakukan dalam jangka waktu tertentu. Hingga akhirnya Abu Thalib memergoki keduanya sedang sholat.

Abu Thalib berkata kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, “Wahai keponakanku, agama apa yang kamu anut seperti yang aku lihat tadi?”

Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjawab, “Gusti Allah telah mengutus saya sebagai Rasul untuk menyampaikan wahyu kepada hamba-hamba-Nya. Dan anda, wahai paman, adalah orang yang paling berhak saya beri tahu dan saya ajak kepada petunjuk. Anda orang yang paling layak  merespon dakwah saya dan mendukung saya di dalam dakwah agama ini,”

Abu Thalib berkata, “Wahai  keponakanku, sungguh saya tidak bisa meninggalkan agama nenek moyang dan apa yang biasa mereka kerjakan. Namun demi Allah, tidak ada seorang pun yang bisa menimpakan kejahatan  padamu, selagi saya masih hidup.” 

Kemudian Abu Thalib berkata kepada Sayyidina Ali bin Abu Thalib, “Anakku, kamu paham dengan agama apa yang kamu anut ini?”  

Sayyidina Ali bin Abu Thalib berkata, “Wahai Ayahku, saya pokoknya beriman kepada Gusti Allah dan Rasul-Nya, titik! Saya membenarkan apa yang Beliau SAW bawa, sholat bersama beliau, dan mengikuti beliau.”

Kemudian Abu Thalib berkata kepada Sayyidina Ali, “Anakku, jika Muhammad mengajak kamu kepada kebaikan, maka ikutilah  dia. Aku ridho!”

Di titik ini bisa dilihat, sebenarnya posisi Abu Thalib itu dilematis. Beliau sebenarnya paham betul bahwa apa yang dibawa Kanjeng Nabi SAW itu benar. Tapi kalau beliau masuk Islam, Abu Thalib akan kehilangan jabatan sebagai pemuka Quraisy, maka kafir Quraisy pun tidak sungkan lagi menghabisi Kanjeng Nabi beserta pengikut Beliau SAW. 

Maka Abu Thalib merelakan dirinya tidak masuk Islam, tetap menjadi pemimpin Quraisy agar bisa mengontrol massa kaum Quraisy. Yang penting Kanjeng Nabi dan pengikutnya selamat. Sebagai gantinya, Abu Thalib merelakan anak-anaknya masuk Islam. Termasuk Sayyidina Ali. Posisi yang dilematis sekali. Tapi mungkin memang beliau sudah digariskan punya peran seperti itu.

Namun menurut riwayat dari Sayyid Zaini Dahlan dalam satu kitab beliau, Abu Thalib termasuk orang beriman. Wallahu a’lam.

Namun sejarah mencatat, kedua ayah dan anak ini, Abu Thalib dan Sayyidina Ali, menjadi pelindung dan pendukung utama Kanjeng Nabi Muhammad SAW dari gangguan orang musyrik. Dan mereka pun tetap saling mencintai, walau mereka berbeda peran.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *