Categories:

Salah satu sifat buruk manusia adalah senang bicara susah ‎mendengar. Sebagian besar kita lebih senang untuk diperhatikan daripada ‎memperhatikan. Ironisnya, hal ini lazim kita jumpai dalam pergaulan sehari-‎hari.‎

‎ ‎

Betapa sering kita jumpai dalam pergaulan sehari-hari, orang-orang ‎yang selalu mendominasi pembicaraan, seolah hanya ucapan serta kata-kata ‎merekalah yang paling penting, sedangkan apa yang dibicarakan orang lain ‎dianggap tidak penting. Mereka ini, orang-orang yang selalu mendominasi ‎dalam percakapan biasanya suka memotong pembicaraan lawan bicaranya. ‎Singkatnya, mereka ini senang bicara, tetapi susah mendengar.‎

Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita bagaimana sikap terbaik ‎ketika berbicara dengan orang lain. Dalam banyak riwayat disebutkan, bahwa ‎ketika berbicara dengan orang lain, Rasulullah Saw. tidak pernah mendominasi ‎pembicaraan, bahkan beliau lebih sering mendengar penuh perhatian dengan ‎menatap mata orang lawan bicaranya. Beliau tidak pernah memotong ‎pembicaraan. Beliau benar-benar mendengarkan dengan seksama ‎pembicaraan lawan bicaranya hingga ia menyelesaikan ucapannya.‎

Ada keteladanan yang amat mulia dicontohan oleh Rasulullah Saw. ‎Meski dalam sejumlah riwayat hadis shahih disebutkan bahwa beliau memiliki ‎suara yang indah dan merdu ketika melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, ‎tetapi beliau sering meminta sahabat-sahabat beliau yang memiliki suara ‎merdu untuk membacakan al-Qur’an di hadapan beliau. Seperti di riwayatkan ‎oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah Ibn Mas’ud r.a. : ‎Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “Bacakanlah kepadaku al-Qur’an.” Ibnu ‎Mas’ud berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan ‎membacakannya kepadamu sementara ia diturunkan kepadamu?”. Beliau ‎menjawab, “Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku.” Maka aku ‎pun membacakan surat an-Nisaa’, ketika sampai pada ayat [yang ‎artinya], “Bagaimanakah jika [pada hari kiamat nanti] Kami datangkan dari ‎setiap umat seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas ‎mereka.” (QS. an-Nisaa’: 41). Aku angkat kepalaku, atau ada seseorang dari ‎samping yang memegangku sehingga aku pun mengangkat kepalaku, ‎ternyata aku melihat air mata beliau mengalir (HR. Bukhari  dan Muslim)‎

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. sering meminta ‎Abu Musa Al-Asy’ari yang juga memiliki suara merdu, bahkan Rasulullah Saw. ‎pernah menyebutnya sebagai ‘pemilik’ salah satu seruling Nabi Daud, a.s., ‎untuk membacakan al-Qur’an di hadapan Rasulullah Saw.‎

Beberapa keterangan riwayat hadis di atas menunjukkan bahwa ‎Rasulullah Saw. adalah sosok yang tidak sekadar senang berbicara, tetapi juga ‎senang mendengar. Ya, Rasulullah Saw. adalah orang yang selalu memberikan ‎perhatian penuh kepada orang lain, bukan seorang yang egois. Beliau memiliki ‎sikap empati serta kepekaan yang sangat tinggi. Sehingga para sahabat beliau ‎sangat nyaman berada di sisi beliau.‎

Dengan sikap demikian, maka setiap orang yang berbicara dengan ‎Rasulullah Saw. merasa bahwa dia merasa benar-benar diperhatikan oleh ‎Rasulullah Saw.  ‎

Demikian juga seharusnya sikap kita terhadap orang lain yang tengah ‎berbicara dengan kita. Perhatikan dengan baik kata-katanya, tatap matanya, ‎jangan potong pembicaraannya. Hanya dengan cara seperti inilah komunikasi ‎akan berjalan dengan baik. Walhasil, pergaulan pun akan terasa ‎menyenangkan.‎

‎* Ruang Inspirasi, Sabtu,  1 Mei 2021 / 19 Ramadan 1442 H.‎

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *