Categories:

Masih ngomongin mukjizat, mbah. Lihat mukjizat itu jangan senang dulu. Ada ancaman bagi orang yang telah melihat mukjizat Nabi, tapi kok masih ngeyel dan berkhianat. Pasti “dipecel” sama Gusti Allah. Karena yang namanya mukjizat itu tanda kekuasaan Gusti Allah dan benarnya ucapan para Nabi. Kebenaran kok masih ngeyel, ya “dipecel”.

Ini diisyaratkan dalam Surat Al Maidah ayat 112-115 tentang mukjizat Nabi Isa yang bisa menurunkan hidangan dari langit. Terdapat beberapa hadits yang menerangkan cerita turunnya hidangan itu dari riwayat Sayyidina Ibnu Abbas, Sayyidina Salman Al Farisi, Sayyidina Ammar bin Yasar dan beberapa ulama lainnya.

Satu hari para Hawari pengikut Nabi Isa yang kaya raya, setelah melakukan perintah puasa 30 hari, iseng tanya, “Duh Nabi Isa, apa Tuhanmu itu bisa menurunkan hidangan dari langit untuk kita?”

Nabi Isa AS tentu terusik dan gerah, wong Gusti Allah kok ditanya gitu, gak sopan banget! Beliau AS pun menjawab, “Takutlah kalian kepada Gusti Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman!”

Maksudnya, kalo udah beriman pada Gusti Allah itu ya wes iman aja. Gak usah ngetes-ngetes segala. Gusti Allah kok dites, gak sopan banget sih!

Dimarahi gitu, para Hawari malah bilang, “Ya kami itu cuma penasaran ingin memakan hidangan langit itu, dan siapa tau jadi tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu”

Nabi Isa itu ya aslinya sumpek sama permintaan aneh Hawariyun ini. Lha wong katanya iman, kok pakai acara pinisirin sama Gusti Allah segala, seakan-akan ngetes Gusti Allah. Ini tentu kelakuan kurang adab dari orang yang ngaku telah beriman. Bener-bener aneh. Namun mereka tetap ngeyel agar Nabi Isa berdoa kepada Gusti Allah untuk menurunkan hidangan makanan dari langit.

Terpaksa, daripada Hawariyun ini tambah rewel, diturutilah permintaan mereka sama Nabi Isa. Nabi Isa pergi ke tempat sholatnya, memakai sorbannya, membersihkan kedua kakinya, menundukkan kepalanya dan membuncahkan perasaan lemah di hadapan Gusti Allah hingga beliau menangis. Kemudian Nabi Isa dengan perasaan malu, berdoa pada Gusti Allah, “Duh Gusti, mohon kiranya turunkan kepada kami suatu hidangan dari langit yang di hari turunnya akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama”.

Akhirnya Gusti Allah mengabulkan permintaan mereka dengan menurunkan hidangan makanan dari langit. Lalu Gusti Allah dawuh, “Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu,”. Tapi Gusti Allah juga mengancam, “Tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah turun hidangan itu, maka sungguh, Aku akan mengadzabnya dengan adzab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia seluruh alam.”

Lanjut cerita, ketika hidangan tersebut mulai turun dari langit, orang-orang yang melihatnya merasa kagum dan terheran-heran dibuatnya. Pelan-pelan hidangan dari langit itu turun mendekat ke tanah. Setiap kali hidangan itu turun mendekat ke tanah, Nabi Isa terus memohon kepada Gusti Allah agar memberkati hidangan itu sebagai hidangan yang penuh rahmat dan keselamatan dan bukannya bencana bagi kaumnya. 

Hidangan itu terus turun mendekat, hingga akhirnya mendarat di tangan Nabi Isa. Kemudian Nabi Isa menyingkap kain penutup hidangan itu seraya dawuh, “Dengan nama Gusti Allah, Tuhan sebaik-baik Pemberi rejeki.” 

Ketika kain penutup hidangan itu dibuka, di dalamnya ada tujuh potong ikan bakar yang besar yang sedep dan gurih dan tujuh roti besar yang wangi. Sebagian orang mengatakan: “Ada pula acarnya!” Ada pula yang berkata, “Ada delima dan buah-buahan lainnya.”

Kemudian Nabi Isa mempersilahkan Hawariyun untuk menyantap hidangan itu, tapi Hawari malah rewel lagi, “Kami tidak akan makan sebelum anda makan terlebih dahulu, Duh Nabi Isa.” 

Nabi Isa pun heran, dipersilahkan makan malah nyuruh balik. Bener-bener gak sopan nih Hawariyun. Nabi Isa menjawab, “Lho, bukannya kalian yang merengek-rengek minta hidangan itu?” 

Mereka tetap menolak untuk memulai menyantap hidangan tersebut. Mungkin dikiranya ada racunnya. Ini tentu tanda ketidakpercayaan Hawariyun pada Gusti Allah dan Rasul-Nya. Dan kalau Nabi Isa makan duluan, tentu lebih aneh lagi. Lha wong mukjizat itu buat umatnya kok malah dimakan sendiri. Tentu penghinaan pada Nabi Isa namanya.

Nabi Isa as tidak kehabisan akal, beliau panggil orang fakir miskin, orang yang terlantar, orang sakit dan orang yang kelaparan, hingga jumlah mereka hampir mencapai seribu tiga ratus orang, untuk menikmati hidangan dari langit itu. Maka dengan senang hati mereka mulai menyerbu hidangan langit tersebut. 

Barokahnya mukjizat yang dilimpahkan Gusti Allah kepada hidangan itu, orang yang mempunyai berbagai macam penyakit jadi sembuh setelah selesai memakannya. Melihat mukjizat yang telah terjadi di depan mata kepala mereka, maka orang-orang yang menolak untuk menyantap hidangan itu tadi, jadi nyesel saat mereka emoh dipersilahkan Nabi Isa as untuk  memakannya dahulu.

Dan gara-gara kekurangajaran Hawariyun itu, Gusti Allah memerintahkan Nabi Isa untuk mengkhususkan hidangan itu bagi orang miskin atau orang yang membutuhkan saja, tidak boleh untuk orang-orang kaya. Konon hidangan itu turun satu kali setiap hari untuk dapat disantap oleh kaumnya yang lain, hingga diperkirakan sekitar tujuh ribu orang sempat mencicipinya. Hingga akhirnya hidangan itu turun kepada kaum Nabi Isa hampir tiap hari, sebagaimana susu unta Nabi Sholih yang diminum oleh kaumnya hampir setiap hari. 

Namun kebijakan Gusti Allah tersebut, diprotes Hawariyun yang kaya-kaya tersebut, terutama orang-orang yang munafik di antara mereka. Mereka akhirnya bersekongkol untuk mencuri hidangan langit itu, berkhianat dan menimbunnya untuk mereka sendiri. Nabi Isa mengetahui perbuatan mereka itu dan marah atas kelakuan mereka. Akhirnya hidangan dari langit itu dihentikan sama sekali untuk semua orang dan orang-orang yang berkhianat dan munafik itu diubah menjadi kera-kera dan babi-babi yang hina.

Makanya, kalo udah lihat mukjizat, tanda kebenaran dari para Nabi gitu, kok masih ngeyel, ya berarti saking bebalnya orang. Orang bebal tidak ada harapan buat bisa beriman. Akhirnya ya “dipecel” saja.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *