Siapa yang tidak mengenal Fidel Castro dan Che Guevara, dua tokoh paling utama dan paling penting dalam Revolusi Kuba. Fidel Castro menjadi penguasa Kuba hampir setengah abad, kekuasaan efektif terlama melebihi kepala negara manapun, sedangkan Che, di mana-mana hampir di seluruh dunia menjadi simbol perlawanan dengan fotonya yang khas dipampang atau dibawa dalam berbagai demonstrasi.

Dua tokoh yang memainkan peran utama untuk mencapai kebebasan rakyat Kuba dari dominasi dan hegemoni Barat, boleh dikatakan seperti Sukarno dan Hatta, meskipun cara perjuangan yang ditempuh Fidel-Che dengan dwitunggal Sukarno-Hatta jelas berbeda. Pasangan Fidel-Che berjuang dengan gerakan politik dan militer, bahkan keduanya memimpin perang gerilya bersama rakyat Kuba, sedangkan Sukarno Hatta minus perjuangan secara militer.

Castro dan Che menjalin persahabatan selama bertahun-tahun. Pada bulam Oktober 2007, pada perayaan ke-40 kematian Che di Bolivia, Castro mengingat kembali ‘hari-hari sulit dan bercahaya’ yang pernah dihabiskan bersama Che. Namun, Castro sendiri begitu “pelit” menceritakan Che dan hubungan dengannya. Padahal Castro memiliki kegemaran besar pada sejarah, namun ia bungkam tentang masa lalunya bersama Che.

Che Guevara sendiri masa lalunya cenderung kabur. Ada yang mengatakan ia seperti Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka. Ya, Che memang seperti Tan, keduanya berjuang bukan saja di dalam negeri, juga di luar, sama-sama berhaluan Marxis, terlibat dalam perjuangan rahasia yang beresiko tinggi dan diakhiri dengan kematiannya yang misterius. Dalam sisi-sisi lain, tentu saja Che dan Tan berbeda dan barangkali tak dapat pula dibandingkan.

Kembali ke Castro dan Che. Pada 1980-an muncul biografi yang serius tentang Castro dan pada tahun 1990-an muncul pula tulisan tentang Che yang digali dari beberapa arsip tua. Namun, hubungan kedua tokoh ini tetap saja belum terungkap secara mendalam dan detail alias “samar abu-abu”.

Hubungan Castro dan Che dengan caranya sendiri sama pentingnya dengan persahabatan intelektual Marx dan Engels atau Lenin dan Trotsky, kemitraan dua tokoh dengan benturan ego besarnya masing-masing. Dari sisi pencapaian tujuan yang sama dan dalam momen sejarah yang sama, Castro-Che memiliki kesamaan dengan para tokoh sejarah yang disebutkan tadi, namun, companeros Castro-Che, berbeda dengan kemitraan duet bersejarah lainnya. Hubungan mereka berdua didasarkan persahabatan sejati dan meskipun dalam rentang yang pendek tetapi dasyat. Boleh dikatakan persahabatan keduanya “tak ada lawan” atau “tak tertandingi”.

Pada 2010 terbit sebuah buku karya Simon Reid-Henry yang mengungkap hubungan Castro dan Che. Buku ini berusaha mengungkap bagaimana hubungan kedua tokoh revolusi Kuba yang selama ini diselimuti kabut sehingga samar-samar. Buku ini pelan-pelan memberikan terang cahaya kemitraan keduanya. Buku ini berusaha meniup kabut yang selama ini menyelubungi seorang praktisi hukum kurang sukses yang berganti menjadi politisi dan seorang pemeran revolusi yang menjalin persahabatan dengan seorang dokter, seorang musafir pejuang, pujangga yang kemudian sebagai pemeran revolusi juga. Itulah Castro dan Che.

Dengan caranya, Simon Reid-Henry melalui bukunya ini, tidak saja mengungkap sejarah hubungan keduanya dengan bersumber kepada bukti-bukti sejarah, namun ia bertutur, bercerita bak orang tua yang bercerita kepada anaknya menjelang tidur. Maka buku ini, tidak saja memang mengandung bobot sejarah, namun juga ringan, enak bahkan renyah untuk dibaca.

Buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Fidel & Castro: Persahabatan Revolusioner Tak Tertandingi (Literati, 2010) ini baik sekali dibaca oleh para aktivis. Yang tentu perlu menjadi catatan bahwa kedua tokoh ini adalah aktivis, pejuang bahkan pemeran utama revolusi, namun basis intelektual keduanya tak diragukan lagi.

Memang benar, aktivis sejati adalah mereka yang memiliki kualitas intelektual memadai: bacaan yang luas dan dalam bahkan menuliskan ide-ide atau buah pikiran dalam berbagai tulisan.

Castro dan Che juga demikian. Di Indonesia bisa kita lihat Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan lainnya. Tokoh-tokoh itu memiliki pengetahuan dari bacaan yang luas dan dalam, juga produktif menulis. Sukarno memiliki karya besar Di Bawah Bendera Revolusi, Indonesia Menggugat, Sarinah dan lainnya; Hatta menulis Karya Lengkapnya dalam dua jilid besar beserta karya-karya lainnya; Syahrir dengan buku Perjuanganku; Tan Malaka lebih produktif lagi dengan buku-bukunya yang luar biasa seperti Madilog, Masa Aksi, Menuju Republik Indoñesia, Dari Penjara ke Penjara dan Gerpolek. Mereka ini adalah para aktivis sejati yang menyatu dalam dirinya kualitas intelektual dan perjuangan. Karena itu, mereka ini, dalam istilah kaum milenial bukan aktivis “kaleng-kaleng”.

Buku Fidel & Che ini sudah lama saya punya dan sudah saya baca sejak lama pula. Hari ini, Jumat, 19 Februari 2021,saya berada di kampus. Saya sempat tidur kurang lebih satu jam di sofa kantor. Bangun tidur kepala saya pusing lalu saya ambil salah satu buku yang ada di rak buku saya di ruangan kantor saya. Buku Fidel & Che itu saya baca-baca kembali dan saya buatkan sedikit ulasannya ini.

Seiring dengan selesainya menulis ulasan ini, pusing kepala sayapun hilang. Barangkali karena saya berkonsentrasi pada buku dan tulisan saya. Barangkali juga karena secangkir kopi yang saya seruput berkali-kali sampai habis.

Membaca dan menulis ditemani kopi memang selalu mengasyikan bagi saya. Sejak dulu buku menjadi teman hidup saya. Kata seorang pujangga, “buku adalah teman yang tidak pernah marah”. Buku memang bisa menjadi teman sejati bagi yang hobi membaca dan menulis. Bahkan buku bisa menjadi sahabat sejati yang dasyat dalam rentang waktu yang lama bahkan sepanjang hayat. Tidak seperti persahabatan sejati Castro yang meskipun dasyat, namun dalam rentang waktu yang pendek. Hanya saja, tak begitu penting lamanya persahabatan, panjang atau pendek, yang lebih penting adalah kedahsyatan dalam persahabatan itu.

Castro dan Che kini sama-sama telah tiada. Barangkali ketika keduanya kembali bertemu di alam baka. Keduanya menjalin persahatan seperti di alam fana dan saling bercerita serta bernostalgia saat-saat mereka berdua berjuang memimpin revolusi Kuba, saat menjalani masa-masa sulit dan senang. Mereka pun bertemu dengan para pejuang revolusioner dari berbagai negeri. Bertemu Sukarno yg pernah ditemuinya ketika sama-sama hidup di dunia, bertemu Tan Malaka, Hatta, Gandhi, Mao Tse Tung, bahkan Nabi kaum Marxis Karl Marx yang semakin brewok, bertemu Lenin, Trosky, Stalin, bertemu Gabriel Garcia Marquez, sahabat baiknya Castro.

Mereka membentuk lingkaran diskusi, saling berdebat dan berbagi kisah perjuangan, saling bertanya keadaan rakyat dan bangsanya sepeninggal mereka. Lalu mereka mengobrol ngalor ngidul dan saat mereka kelelahan mereka berdua tidur lelap sambil menunggu akhir kehidupan dunia tiba. Wallahu à’lam.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *