Oleh: Tri Hidayah (mahasiswa Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Jakarta)
Idul Adha adalah sebuah hari raya Islam. Idul Adha diperingati sebagai peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim AS mengorbankan seorang putranya bernama Nabi Ismail AS untuk Allah SWT, kemudian dengan izin Allah SWT Nabi Ismail AS yang akan di sembelih digantikan dengan seekor kambing dari surga. Kemudian setelah itu, peristiwa penyembelihan hewan kurban tersebut selalu di laksanakan pada hari raya Idul Adha hingga saat ini oleh seluruh kaum muslim di seluruh penjuru dunia.
Di Indonesia sendiri sebagai negara muslim, seluruh wilayah tentunya akan merayakan hari raya Idul Adha. Memasuki tanggal 10 bulan Dzulhijjah pada penanggalan Hijriah bangsa Indonesia merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan-hewan ternak seperti sapi, domba dan kambing. Tapi, ternyata tradisi Idul Adha tak hanya sekedar menyembelih hewan kurban. Di berbagai tempat di Indonesia perayaan Idul Adha disambut dengan beragam tradisi unik dan juga menarik. Sebagai salah satu contohnya yaitu tradisi Apitan di Semarang.
Pada saat Idul Adha, masyarakat muslim di Semarang akan mengarak hasil-hasil bumi dan juga tumpeng. Dimulai dengan doa, tradisi Idul Adha ini diakhiri dengan warga yang akan memperebutkan berbagai hasil bumi dan isi-isi lainnya yang ada pada Apitan. Dikenal juga dengan nama tradisi Sedekah Bumi Apitan, tradisi Idul Adha di Semarang ini merupakan perwujudkan syukur kepada Tuhan atas rezeki yang telah diberikan.
Tradisi ini mungkin memang tidak setenar tradisi-tradisi lain seperti Nyadran, Kondangan, Krayahan dan lain sebagainya. Namun kalau dilihat dari sisi filosofis tentu tidak kalah akan syarat makna. Seperti yang diketahui tradisi Apitan berasal dari adanya bulan yang diapit bulan Syawal dan bulan Zulkaidah. Maka dari itu disebut bulan apit.
Pada intinya di mana pun tempat dilaksanakan tradisi ini memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin bersyukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan tanah yang gemah ripah loh jinawi. Prosesi yang dilakukan pada tradisi yang dipercaya sejak ada Wali Songo ini pun hampir serupa. Selalu diiringi dengan arak-arakan, pementasan kesenian rakyat dan yang pasti adanya Gunungan Palawija yang diisi oleh hasil-hasil bumi milik masyarakat setempat.

No responses yet