Oleh: Galuh Anggun Brilianti

            Rasa kantuk masih menyelimuti mataku. Tepat pukul 03.00 aku terbangun, tidak lupa aku ambil air wudhu dan setelah itu melaksanakan shalat tahajud. Ku lantunkan ayat-ayat Al- Quran dalam setiap shalatku, tak lupa di akhir shalat tahajud ku bermunajat kepada Allah SWT. Doa yang setiap saat aku pinta, doa yang tak pernah putus dari mulutku. Doa agar selalu diberi kesehatan untuk keluargaku dan keberkahan dalam hidupku. Setelah selesai shalat tahajud, aku tidak tidur lagi. Karena pukul 06.30 aku harus berangkat bekerja. Di sela-sela menunggu waktu shubuh, aku membaca al-quran yang sampai saat ini telah berada di juz 23. Tak terasa adzan Shubuh berkumandang, segera aku ambil wudhu dan bergegas untuk shalat. Setelah shalat Shubuh, aku bersiap-siap untuk berangkat berkerja.                                                          

Seperti pagi-pagi sebelumnya, sebelum beraktivitas kami sarapan terlebih dahulu. 

Umi                 : “Pagi Nasyifa, ayok kita duduk sarapan bersama”

Nasyifa            : “Pagi mi, pagi ini buat menu makanan apa?”

Umi                 : “Ada ayam kecap, capcai dan sambal”

Nasyifa            :” Adik dan abi belum keluar kamar mi?”

Umi                 : “Adik dan abi kamu masih bersiap-siap, hari ini kamu mengajar?”

Nasyifa            : “Iya mi, nasyifa ada kelas pagi untuk mengajar”

Umi                 : “Baiklah nak”.

Selang beberapa menit, abi dan adiknya duduk bersama di meja makan, merekapun menikmati makan bersama. Setelah beberapa menit, sarapan telah usai, kini Nasyifa pamit kepada semua anggota keluarga.

Nasyifa                        : “Abi, umi … Nasyifa pamit berangkat kerja terlebih dahulu”

Abi                              : “Hati-hati di jalan ya nak”

Umi                             : “Jangan cepat-cepat membawa motornya”

Nasyifa                        :“Siappppp umi dan abi”. Kini Nasyifa pamit pada adik tersayangnya

Nasyifa                        : “Kaka pamit dulu ya”

Rafka                           : “Hati-hati dijalan kakaku tersayangg….”

Kini Nasyifa sedang mengendarai motornya. Jarak rumah nasyifa ke tempat kerjanya sekitar 30 km. Ya, Nasyifa Putri Ramadhan, gadis muda berkerudung berusia 25 tahun. Kini ia bekerja menjadi dosen muda di Universitas Pelita Nusa. Dia menjadi dosen di Fakultas Ekonomi. Dengan paras cantik dan wajah teduhnya, mampu membuat orang terhipnotis. Tidak heran banyak pria yang menyukainya,

            Tepat pukul 07.00 nasyifa sampai di kampus. Nasyifa bergegas masuk kelas untuk mengajar.

Nasyifa                                                            : “Pagi semua, silahkan kalian buka buku catatan”

Mahasiswa-mahasiswi                        : “Pagi bu, baik bu”

Nasyifa                                                            : “Ibu akan memberikan kalian sebuah soal, jika ada yang bisa menjawab silahkan untuk maju kedepan dan menuliskannya di papan tulis.”

Mahasiswa                                                      : “Saya bu”

Nasyifa                                                            : “Ya, kamu silahkan maju kedepan dan menjawabnya”

Jam menunjukkan pukul 08.40. Itu tandanya perkuliahan pagi ini telah usai. Nasyifa bergegas keluar kelas. Saat nasyifa keluar tak sengaja bertemu dengan Akbar.

Akbar              : “Assalamualaikum fa”

Nasyifa            : “Waalaikumsalam”

Akbar              : “Setelah ini kamu masih ada kelas mengajar tidak? Mari kita pergi ke toko buku dan ada satu hal yang ingin saya bicarakan”

Nasyifa            : “Tidak, hari ini kebutulan saya ada satu kelas saja untuk mengajar”. Kebetulan nasyifa juga ingin membeli beberapa buku (dalam batinnya). “ Baiklah mari kita pergi ke toko buku” 

Akbar              : “Kamu ikut denganku, naik mobil. Jangan khawatir, motor kamu orang suruhan saya yang antar ke rumah kamu”

Nasyifa            : (Cukup dengan anggukan kepala dan menyerahkan kunci motornya)

Kini mereka sedang berada di mobil, keheningan menyertai perjalanan mereka. Akbar Maulana. Pria muda berusia 27 tahun dan sekaligus dosen di fakultas ekonomi. Sudah lama Akbar menaruh rasa kepada Nasyifa. Selang beberapa jam, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dengan baik hati, Akbar membukakan pintu mobil Nasyifa.

Nasyifa            : “Terima kasih”

Akbar              :” Ya, sama-sama. Kamu ingin membeli buku apa?”

Nasyifa            : “Nasyifa ingin membeli beberapa novel”

Akbar              : “Baiklah. Sekarang kita berpencar ya, bye Nasyifa Putri Ramadhan”

Saat ini mereka berada di kasir dan telah usai membeli buku.

Akbar              :” Biar saya yang membayarnya”

Nasyifa            :”Tidak, biar nasyifa saya yang bayar sendiri”

Akbar              :”Percayalah, kali ini saja fa biar saya yang bayar”

Nasyifa            : (Pasrah…Nasyifa menyerahkan bukunya kepada Akbar)

Jam menunjukkan pukul 12.30. Mereka bergegas untuk mencari masjid dan melaksanakan shalat Dhuhur. Setelah itu mereka sampai di Restoran untuk makan siang. Di sela-sela menunggu makanan datang. Akbar berbicara kepada Nasyifa.

Akbar              :”Fa, ada yang ingin saya bicarakan”

Nasyifa            :“Iya, apa yang ingin kamu bicarakan?”

Akbar              :“Saya mencintaimu fa, tolong kasih saya kesempatan untuk bisa mencintai kamu dan memiliki mu”

Nasyifa            : “ Kalau mas Akbar mencintai saya, mas Akbar datang ke rumah saya dan temui abi dan umi saya”

Akbar              : “Pasti itu fa, apakah kamu ingin menjadi istri saya dan ibu dari anak-anak saya fa?”

Nasyifa            : “Nasyifa tidak bisa menjawabnya sekarang, jika mas Akbar serius ingin menikahi saya temui abi dan umi nasyifa”.

Akbar              : “Ok fa, saya tidak memaksa untuk kamu bisa menjawabnya sekarang. Tunggu saya dan orang tua saya untuk bertemu di rumah kamu”

Nasyifa            : (Jantung ini tidak pernah berhenti berdebar-debar dengan kencang)

Kini makanan telah diantar dan mereka menikmati makanannya. Setelah makan siang selesai, Akbar mengantarkan Nasyifa pulang.

Nasyifa            : “ Terima kasih, telah mengantarkan nasyifa pulang dan terima kasih untuk hari ini”

Akbar              : “Sama-sama”

Nasyifa            : “Tidak mau mampir dulu?”

Akbar              :“ Tidak, saya masih ada urusan. Salam ya buat abi dan umi kamu”.

Nasyifa            : “Baik, mas hati-hati dijalan”

Nasyifa telah sampai di depan rumahnya

Nasyifa            : (bunyi bel menyala karena ditekan olehnya). Pintu rumah terbuka dan sebuah senyuman muncul di wajah uminya. 

Umi                 : “Eh nasyifa, sudah pulang nak. Tadi ada seseorang yang mengantar motor kamu”

Nasyifa            : “Iya umi tadi Nasyifa ke toko buku dengan Pak Akbar”

Umi                 : “Apakah dia menyukai kamu nasyifa?”

Nasyifa            : “Nasyifa, pergi ke kamar dulu ya mi. Mau mandi”

Saat ini nasyifa telah berada di kamarnya. Nasyifa teringat-ingat perkataan dari Akbar yang ingin menikahinya.

Nasyifa            : “Apa benar, dia mencintai nasyifa, apa benar dia serius ingin menikahi nasyifa”.

Pertanyaan itu terus muncul dari dalam hati nasyifa. Nasyifa takut kejadian dua tahun lalu kembali terulang. Dimana dia sudah ingin menikah dan ternyata laki-laki yang dicintainya mengkhianatinya.

Mentari pagi telah menyapa setiap insang di bumi. Pagi ini hari sabtu, semua keluarga berkumpul termasuk nasyifa. Hari ini nasyifa tidak ke kampus untuk mengajar. Abi, Umi, Rafka dan Nasyifa sedang berkumpul di ruang keluarga. Tiba-tiba suara bel berbunyi.

Umi                 : “Biar umi yang membukanya, kalian duduk saja disini”

Akbar              : “Assalamualaikum”

Umi                 : (Membukaan pintunya) “Waalaikumsalam, ingin bertemu dengan siapa?”

Akbar              : (Berjabat dengan Umi) “Perkenalan tante, nama saya Akbar. Saya ingin bertemu dengan Nasyifa, Nasyifa di rumah?”

Umi                 : “Iya Nasyifa di rumah silahkan masuk”

Akbar dan beserta orang tuanya Deni dan Tuti telah masuk dan duduk di ruang tamu

Deni                : “ Jadi maksud kedatangan kami disini adalah untuk mengkitbah Nasyifa Putri Ramdhan untuk menjadi istri dari anak saya Akbar Maulana”

Nasyifa                        : (Degg, jantung nasyifa seketika terkejut. Ternyata benar mas Akbar serius pada nasyifa)

Abi                  : “ Kedatangan anda sangat baik, tetapi semua itu kami serahkan kepada nasyifa. Saya sebagai orang tua tidak memaksakan kehendak nasyifa”

Nasyifa                        : (Tatapan mata nasyifa dan akbar saling bertemu) “Mohon maaf om dan tante nasyifa tidak bisa menjawabnya saat ini, nasyifa butuh waktu dua hari untuk menjawabnya”

Tuti                 : “ Iya nasyifa, kami akan menunggu jawaban kamu. Kamu pasti terkejut dengan kedatangan kami”

Setelah keluarga Akbar berpamitan pulang. Kini yang tersisa hanya Abi, Umi dan Nasyifa di ruang tamu.

Abi                  : “Abi serahkan semuanya kepadamu nak. Abi akan dukung keputasanmu apapun itu. Menurut Abi, Akbar adalah pria yang baik untuk kamu”

Umi                 : “Umi juga mendukung keputusan kamu itu nak, jika itu yang terbaik untukmu”

Nasyifa                        : “ Terima kasih umi dan abi telah menjadi orang tua terbaik untuk nasyifa. Insaallah nanti malam nasyifa akan shalat istirakah”

Abi                  : “Abi tahu, pasti tidak mudah untuk kamu kembali percaya kepada seoraang laki-laki karena kamu telah dikhianti”

Nasyifa                        : “Nasyifa takut saja bi, kejadian itu terulang kembali pada nasyifa”

Umi                 : “Kami selalu ada untuk kamu nasyifa”

Jarum jam menunjukkan pukul 03.00. Segera nasyifa mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat istikharah.

Nasyifa                        : “ Ya allah jika Akbar terbaik untuk nasyifa dekatkan dia untuk nasyifa. Jika memang belum, jauhkan dan dekatkan seseorang yang terbaik untuk hambamu ini”

Dalam dua hari terkahir nasyifa terus saja meminta petunjuk dari Allah dan di hari ketiga nasyifa merasa yakin bahwa Akbar adalah pria yang tepat untuk dirinya. Nasyifa memberi tahu keputusannya kepada kedua orang tuanya dan tak lupa kepada Akbar.

Notif WhatsApp muncul dari Handphone Akbar

Nasyifa                        : “ Assalamualaikum, hari ini nasyifa ingin memutuskan pilihan nasyifa”

Akbar              : “ Waalaikumsalam, bagaimana dengan keputusan kamu nasyifa?”

Nasyifa                        : “Bismillah Nasyifa terima khitbah dari mas Akbar”

Akbar              : “Alhamdulilah, saya akan memberi tahu kabar gembira ini kepada orang tua saya”

Pada tanggal 10 Oktober 2018, Nasyifa setuju untuk menikah dengan Akbar. Acara pernikahan berlangsung dengan khitmah dan mewah.

Akbar              : “ Saya terima nikah dan kawinnya Nasyifa Putri Ramadhan binti Taufik Ramadhan dengan maskin di bayar tunai”

Penghulu         :” Bagaiamana saksi, apakah sah?”

Saksi               : “ Sah”

Alhamdulilah. Nasyifa yang mendengar perkataan itu langsung terharu dan meneteskan air mata. Nasyifa bergegas menuju ke tempat pernikahan dengan di apit oleh dua bridsmed. Pernikahan itu berjalan dengan lancar.

Saat ini Akbar dan Nasyifa sedang berada di balkon hotel tempat mereka berbulan madu.

Akbar              : “Nasyifa, terima kasih telah bersedia untuk menjadi istri saya. Saya janji akan menjadi suami yang buat kamu dan ayah yang baik untuk anak kita”

Nasyifa                        : “ Terima kasih juga mas, telah memilih nasyifa untuk menjadi istri mas Akbar. Nasyifa akan selalu beruntung mempunya suami seperti mas”

Akbar              :” Berjanjilah untuk saling bersama dalam setiap duka maupun suka”

Nasyifa                        :(Memeluk erat pria yang kini telah menjadi suaminya) “Nasyifa berjanji akan terus ada buat mas”

— TAMAT —

BIODATA

1634211669776

*) Galuh Anggun Brilianti, lahir di Banyumas 10 Oktober 2021. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP. Ia saat ini tinggal di Rawalo, Banyumas. Ia dapat dihubungi melalui ig: anggunbrilianti10, email;galuhanggunbrilianti2000@gmail.com

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *