Oleh: Muhammad Farhan
Sikap ketaatan adalah kesatuan gerak dibawah koordinasi pemimpin. Tanpa adanya sebuah sikap ketaatan, organisasi akan bergerak tanpa kesatuan arah yang jelas. Apalagi di dalam organisasi setiap SDM memiliki latar belakang, dan kepentingan yang berbeda-beda. Adanya hal ini penting adanya sebuah kesatuan gerak dibawah koordinasi pemimpin. Jika sikap ketaatan kepada pemimpin tidak dimiliki oleh anggota, maka berpotensi besar organisasi mengalami kehancuran.
Belakangan ini, sikap ketaatan terhadap pemimpin sering menjadi pembahasan. Khususnya saat ini, muncul sebuah pandangan dikalangan anggota organisasi yang menyamakan ketaatan kepada pemimpin dengan sikap taklid. Pandangan ini muncul karena ketaatan, dan taklid itu hanya dipahami sebagai bentuk sikap mengikuti. Padahal jika ditelurusi lebih mendalam secara makna filosofisnya. Sikap ketaatan terhadap pemimpin dalam kehidupan berorganisasi berbeda dengan sikap taklid.
Taklid itu mengikuti pandapat orang lain yang dianggap terhormat dalam masyarakat. Dipercaya tentang suatu hukum agama Islam tanpa memperhatikan benar atau salahnya. Baik atau buruknya. Manfaat atau mudlarat hukum itu. Secara sederhananya taklid adalah mengikuti pendapat didasarkan status siapa orang tersebut. Baik secara posisi, dan gelarnya. Bukan mengikuti isi dari pendapat tersebut apakah memberikan kemashalatan atau kemudhorotan. Apakah membawa kepada kebenaran atau tidak.
Sedangkan pemimpin organisasi tentunya dalam memberikan koordinasi kepada para sdmnya, sudah melalui pertimbangan manajemen secara makro. Ada pendasaran yang kuat berdasarkan pada kondisi lapangan, sdm, dan faktor-faktor selainnya. Bukan hanya sekedar mengikuti karena melihat status sosial, dan gelarnya. Sehingga ketaatan terhadap pemimpin adalah keniscayaan dalam kehidupan berorganisasi.
Jadi, ketaatan pada pemimpin dan taklid adalah dua sikap yang berbeda. Secara pendasaran yang diambil memiliki latar belakang yang bertolak belakang. Ketaatan terhadap pemimpin berdasarkan pertimbangan makro pemimpin yang dihitung secara rasional, sehingga bisa memberikan kemashalatan bagi organisasi. Sedangkan taklid secara pendasarannya hanya mengikuti karena memandang status atau gelar yang dianggap terhormat bukan karena pertimbangan rasional.
Bio Data Penulis
Nama : Muhammad Farhan
Asal daerah : Medan, Sumatra Utara
Gmail : mhd2farhan0109@gmail.com
Sekolah : STID Al-Hadid Surabaya

No responses yet