Oleh: Abdul Hadi Almaghribi
Di era digital saat ini, media sosial menjadi sangat populer dikalangan masyarakat di
seluruh dunia, khususnya para remaja. Banyak dari mereka yang menghabiskan waktunya untuk
mengakses media sosial, seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan lain sebagainya.
Media. sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun atas dasar
ideologi dan teknologi Web 2.0, yang memungkinkan untuk membuat dan berbagi konten. Web
2.0 menjadi platform dasar media sosial. Media sosial hadir dalam berbagai bentuk yang berbeda,
termasuk jejaring sosial, forum internet, weblog, blog sosial, mikroblog, wikipedia, podcast,
gambar, video, ulasan, dan bookmark sosial. (Kaplan dan Haenlein, 2010).
Menurut Kaplan dan Haenlein, media sosial terbagi menjadi 6 jenis:
- Proyek kolaborasi (wikipedia),
- Blog dan microblogs (Twitter)
- Komunitas konten (Youtube)
- Situs jaringan sosial (Facebook, Instagram)
- Virtual game (Gorn)
- Virtual social (Second Life)
Media sosial memungkinkan siapapun untuk berpartisipasi secara terbuka dalam
memberikan pendapat, komentar, dan berbagi informasi dengan cepat. Salah satu platform yang
termasuk dalam media sosial adalah media online, yang para penggunanya bisa dengan mudah
mengakses, berbagi dan membuat konten jejaring sosial, blog, wiki, serta forum dan dunia virtual.
Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh
seluruh masyarakat di dunia (Muin, 2019, p. 18).
Sumber: Hootsuite (We are social)
Berdasarkan data yang saya peroleh dari Hootsuite (We are social), total populasi di
Indonesia mencapai 276,4 juta penduduk, jumlah perangkat mobile yang terhubung sebanyak
353,8 juta, dengan pengguna internet sebanyak 212,9 juta, dan 167 juta pengguna media sosial
aktif.
Disaat teknologi internet dan gadget semakin berkembang, media sosial pun ikut
bertumbuh dengan pesat. Semua orang dapat mengakses media sosial dengan mudah, yang
mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap sebuah informasi di seluruh dunia.
Dikarenakan begitu pesatnya perkembangan media sosial dikalangan masyarakat, hal tersebut
menyebabkan mulai tergantinya peran media massa konvensional dalam menyebarkan berita
terkini (Muin, 2019, p.18).
Kecanduan terhadap media sosial sangat mempengaruhi perubahan perilaku pada remaja,
seperti mempengaruhi pola tidur, kepercayaan diri, orientasi sosial, dan pengembangan identitas.
Faktor ini dipengaruhi oleh konten yang dikonsumsi, interaksi online, dan tekanan sosial virtual
yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari remaja secara positif maupun negatif.
Media sosial memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan.
(1) Dampak positif
- Dapat mendekatkan orang-orang yang jauh
- Meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai
latar belakang budaya dan geografis. - Memberikan platform untuk mempromosikan bisnis dan membangun merek.
(2) Dampak negatif
- Dapat menjauhkan orang-orang yang dekat
- Penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu produktivitas dalam pekerjaan
atau aktivitas sehari-hari - Ketergantungan pada media sosial dan perangkat mobile dapat mengakibatkan
ketidaknyamanan dan kecemasan jika seseorang tidak dapat mengaksesnya - Cyberbullying: Media sosial dapat menjadi platform untuk tindakan intimidasi dan
pelecehan online, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental individu
Kerangka Teori
Sumber: Data Olahan Penulis, 2024
Studi Kasus
Dalam penelitian ini, saya menggunakan 2 orang remaja sebagai responden, yaitu, R,
mahasiswa, 19 tahun dan S, pelajar SMK, 17 tahun. Yang dimana keduanya merupakan teman
saya sendiri yang berada di lingkungan rumah. Sop[aya melakukan penelitian pada kedua remaja
pecandu media sosial tersebut, terlihat perubahan perilaku kearah negatif yang cukup signifikan
pada perilaku keduanya dalam kehidupan sehari-hari, seperti kurang tidur (begadang), tidak
menghiraukan ketika dipanggil oleh kedua orang tuanya ataupun orang-orang disekelilingnya
karena terlalu asik dengan gadget, dan sering merasa gelisah jika jauh dari gadget.
Hasil wawancara yang saya dapatkan dari R, R lebih tertarik pada interaksi secara online
daripada berinteraksi secara langsung, yang menyebabkan berkurangnya intensitas kehadirannya
di setiap kegiatan, seperti karang taruna atau pertemuan sosial lainnya. Perubahan ini
mempengaruhi hubungan sosialnya di lingkungan tempat tinggalnya. Seiring berjalannya waktu,
aktivitas online R semakin meningkat, dan R menemukan dirinya semakin bergantung pada respon
positif yang ia dapatkan dari media sosial yang dimilikinya. R mulai menghabiskan waktu berjam-
jam setiap hari untuk memeriksa likes, komentar, dan scroll konten-konten yang tertera pada akun
media sosialnya. Ketergantungan ini menyebabkan aktivitas sehari-harinya terbengkalai, termasuk
tugas-tugas sekolahnya. Kondisi mentalnya pun menjadi terganggu karena R merasa terjebak
dalam siklus perbandingan sosial dan mencari validasi secara online untuk mendukung harga
dirinya. Hal tersebut disadari oleh kedua orang tua R, yang kemudian mencoba untuk
mendiskusikan masalah ini dengan R. Meskipun R menyadari dampak negatifnya, sulit baginya
untuk membatasi penggunaan media sosial karena sudah menjadi kebutuhan emosionalnya. Pada
akhirnya, R mencari bantuan profesional untuk mengatasi ketergantungannya terhadap media
sosial dan memulihkan keseimbangan hidupnya. Proses ini melibatkan dukungan keluarga,
therapist, dan kesadaran dari dirinya sendiri dalam memperbaiki kebiasaan buruk tersebut menjadi
kebiasaan yang lebih sehat dan menggunakan media sosial dengan lebih bijak.
Berikutnya, hasil wawancara yang saya dapatkan dari S, tidak jauh berbeda dengan R, yang
dimana S juga memiliki masalah ketergantungan dengan media sosial dan kehidupan sosial di
lingkungan tempat tinggalnya. Berbeda dengan R, S tidak memiliki dukungan secara ekonomi
untuk berkonsultasi dengan profesional mengenai ketergantungannya terhadap media sosial dan
juga kurangnya dukungan secara moral terhadap dirinya. Hal tersebut menjadi penghambat untuk
S dalam menyikapi kecanduannya terhadap media sosial.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa ketergantungan terhadap
media sosial pada kedua remaja tersebut memiliki dampak negatif yang lebih dominan
dibandingkan dengan dampak positif dalam kehidupan pribadi dan juga sosial.
Teori Perubahan Sosial
Perubahan sosial merupakan penekanan pada kondisi teknologi yang menyebabkan
terjadinya perubahan pada aspek tertentu dalam kehidupan sosial manusia. Contohnya adalah
kemajuan pengetahuan dan teknologi yang kemudian akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir
masyarakat. Perubahan sosial merupakan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang
dialami oleh setiap individu di seluruh dunia. Pada hakikatnya, manusia pasti mengalami
perubahan-perubahan dalam berbagai aspek selama hidupnya, karena manusia adalah makhluk
yang dinamis. Perubahan sosial dapat terjadi di dalam kehidupan antar sesama individu atau
kelompok dimulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa, dari yang tidak tahu banyak hal hingga
mengetahui berbagai hal melalui proses pembelajaran dan pengalaman yang sudah dilalui
(Ogburn, 1959).
Begitupun dengan media sosial yang berkembang seiring dengan perkembangan zaman
yang berubah dari masa tradisional ke masa modern. Dahulu, proses berkomunikasi dengan orang-
orang yang berada di luar jangkauan, memerlukan waktu yang cukup lama, karena dilakukan
dengan cara surat-menyurat. Namun, saat ini teknologi sudah semakin canggih, proses
berkomunikasi dan pertukaran informasi pun menjadi lebih mudah dan cepat melalui gadget.

No responses yet