Bersyukur di saat kondisi kesulitan, kayak masa pandemi saat ini, itu kalo kita mengikuti logika global kayak mustahil. Sebenarnya sih konsepnya sederhana, lakukan segalanya dengan gembira. Saat gembira, kecenderungan untuk semangat dan produktif lebih meningkat, dan tentu saja itu mengantarkan kita bisa bersyukur.
Kita ikuti jalan pikiran para ulama, biar bisa masuk akal. Mereka berpedoman firman Gusti Allah
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٥) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (٧) وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ (٨)
“Maka sesungguhnya dibalik satu kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya dibalik satu kesulitan, ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Alam Nashroh 5-8)
Ini tips dari Gusti Allah biar bisa bersyukur dlm kesulitan
Pertama, ini sumpah Gusti Allah bahwa Gusti Allah menciptakan masalah beserta solusinya. Jadi, kalo kita nemu masalah, berarti kita kudu yakin bakal nemu solusi dan gambaran terang.
Kedua, kita jangan fokus pada kesulitan, tapi fokus berusaha dan bersungguh-sungguh dalam proses usaha untuk menyelesaikan kesulitan itu, artinya kita kudu mencintai usaha yang kita lakukan. Karena saat kita bisa mencintai usaha yang kita lakukan, kita bisa bersungguh-sungguh, lebih menjiwai dan beban kesulitan itu tak terasa karena ketutupan kenikmatan dalam berusaha. Ide pun mengalir, solusi pun gampang ketemu.
Misal kayak saya juragan kopi. Karena saya mencintai pekerjaan menyeduh kopi, saya tidak merasa terbebani untuk melakukan tahapan-tahapan SOP untuk menghasilkan seduhan kopi yang istimewa. Semua tahapan saya nikmati betul, mulai memilih biji kopi, menyortir bijinya, menyangrai kopi, menyortiri lagi, menunggu resting hingga melakukan eksperimen-eksperiman dalam proses seduh dengan berbagai variabelnya. Semua saya lakukan dengan riang gembira.
Ketiga, penting juga untuk tidak terbebani bayangan kesempurnaan. Yang bikin pikiran kita merasa terbebani kan bayangan kesempurnaan, padahal itu cuma ilusi kita. Ilusi itu bikin kita tidak menikmati prosesnya. Saat nemu hasilnya buruk, tambah kecewa. Padahal hasil itu menggambarkan proses. Maka untuk bisa lepas pikirannya saat berusaha, kita kerjakan yang kita mampu dengan semaksimal mungkin. Yang tidak sanggup dikerjakan ya tidak usah dipikirin. Karena kalo udah tidak sanggup terus dipaksa, hasilnya jelek. Kita serahkan pada Gusti Allah apa yang tidak bisa kita jangkau.
Nah, kalo semua itu kita terapkan, apapun hasilnya, kita bakal bisa bersyukur karena berhasil nemu kegembiraan dalam suasana kesulitan. Karena inti syukur adalah kita gembira dengan semua pemberian, baik pemberian berupa kenikmatan atau kesulitan.
Pokoknya nikmati apa yang kita lakukan, biar kita bisa berucap syukur dalam kesulitan. Sehingga kita pun bisa berharap menjadi bagian dari Al Hamaduun dan berdiri di bawah benderanya.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh
ينادى يوم القيامة ليقم الحمادون، فتقوم زمرة فينصب لهم لواء فيدخلون الجنة
“Saat hari kiamat, ada panggilan “Bangunlah Al Hamaduun!”, maka bangunlah sekelompok orang dari kuburnya lalu mereka berkumpul di bawah bendera Al Hamaduun lalu mereka bersama-sama masuk surga”
Para sahabat bertanya, “Kanjeng Nabi, siapa itu Al Hamaduun?”
Kanjeng Nabi SAW menjawab
الذين يشركون الله على كل حال
“Al Hamaduun adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur di tiap kondisi, baik susah maupun senang”
Tangis Kebahagiaan Nabi
Imam Hasan Al Bashri punya doa
اللهم لك الحمد على حلمك بعد علمك، ولك الحمد على عفوك بعد قدرتك
“Duh Gusti Allah, untuk-Mu segala pujian atas kebijaksanaan-Mu setelah ilmu-Mu, dan segala puji bagi-Mu atas pemberian maaf-Mu setelah kehendak-Mu”
Yang bisa dipetik dari doa tersebut, pertama bahwa punya predikat al halim atau orang bijak itu harus pake ilmu. Mustahil orang jadi bijak menyikapi hidup tanpa ilmu.
Trus ciri orang bijak itu gimana?
Imam Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang siapakah orang yang dimaksud ayat
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (Al Furqon 63)
Imam Hasan Al Bashri menjawab mereka adalah hulama’ atau orang-orang yang bijak. Jadi ciri orang bijak itu rendah hati, tidak diskriminatif, bahkan pada orang yang abangan sekalipun, dia berbuat baik dan mendoakan keselamatan.
Kalo orang tidak punya ilmu, tentu tidak sanggup menghadapi orang abangan dengan cara yang baik. Ujung-ujungnya malah pake kekerasan verbal maupun fisik.
Dan yang kedua, ampunan itu turun setelah orang dikehendaki melakukan dosa. Makanya, kita tidak usah terlalu larut sama dosa kita dan menganggap dosa itu kutukan. Justru kalau dikehendaki berbuat dosa, kita cepat-cepat minta ampun. Setelah itu bersyukur jadi tahu kalo Gusti Allah Yang Maha Pengampun itu adalah sumber solusi atas segala dosa.
Kalo tiada orang berbuat dosa, sifat Maha Pengampun Gusti Allah jadi nganggur. Gusti Allah malah bangga pada hamba yang mau menggunakan fasilitas ampunan-Nya.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW diriwayatkan menangis haru di dalam tahajud beliau. Siti Aisyah heran, “Duh Kanjeng Nabi, apa yang njenengan tangisi? Padahal dosa njenengan di awal dan di akhir kehidupan itu sudah diampuni,”
Kanjeng Nabi SAW dawuh
أفلا أكون عبدا شكورا
“Apa tidak boleh kalo saya jadi hamba yang bersyukur?”
Di sini mengandung makna, Kanjeng Nabi dalam tahajud beliau memohon ampunan. Tangis beliau bukan tangis susah, melainkan tangis haru dan bahagia atas kebaikan dan keagungan Gusti Allah atas segala nikmat-Nya. Artinya dalam permohonan ampunan itu yang lebih ditekankan adalah pengagungan kepada Gusti Allah, bukan menekankan dosa kita.
Dalam Syamail Muhammadiyah, Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah setelah mengucap istighfar, beliau ketawa puas. Apa pasal?
Sayyidina Ali dawuh, hal itu yang dilakukan Kanjeng Nabi SAW. Karena saat ada hamba Gusti Allah yang beristighfar, Gusti Allah bangga pada hamba itu karena hamba tersebut mengakui tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Gusti Allah. Artinya istighfar atau memohon ampunan itu titik tekannya pada pengakuan terhadap keagungan Gusti Allah alias syukur. Bukan malah meratapi dosa, karena malah terkesan membesar-besarkan dosa.
Maka tidak salah kalo syukur itu isinya ilmu tentang bagaimana strategi kita dalam rangka mengagungkan Gusti Allah di atas segalanya. Dengan syukur seperti itu, kita selalu puas dengan Gusti Allah dan terhindar dari rasa putus asa. Tidak akan bisa bersyukur orang yang tidak berilmu.
Jadi, punya kesusahan terus bersyukur itu memang susah. Soalnya orang umumnya baru bisa syukur kalo lagi seneng. Tapi masuk akal dan bisa dilatih, kalau kita bisa melihat dari perspektif berbeda dalam kesusahan tersebut. Misal kita kesusahan cari duit buat tagihan. Tapi kalo kita lihat dari perspektif lain, karena usaha cari duit itu kita tambah ilmu dan teman, kita jadi bersyukur gara2 kesusahan itu.
Tapi sayangnya, jarang orang bisa melihat dari perspektif lain pas sedang dibelit masalah. Tahunya ada kebaikan di balik kesusahan itu, saat masalah selesai. Ya karena emang susah, tapi bisa dilatih.
Ngomong-ngomong perspektif lain, ada anekdot.
Satu hari Udin pulang ke rumah sambil nangis. Emaknya tentu kaget, “Kenapa kamu nangis, Nak?”
“Tadi pas di jalan, Kyai Sarip kecemplung got, Mak”
“Astaghfirullah….! Trus Kyai Sarip gimana keadaannya sekarang?”
“Gak apa-apa, Mak, Kyai Sarip gak terluka kok,”
“Trus, kenapa kamu yang nangis?”
“Kyai Sarip kecemplung got, Udin ketawa gak habis-habis, Mak. Digampar deh sama Kyai Sarip,”
“Udiiin, bandel amat kau yak! Emak tuker sama kacang ijo kau lama2!!”

No responses yet