Menurut Riwayat, ada tiga pemuda yang hidup dan belajar di Gereja Ain Tamr di Bashrah, Iraq, mereka dipersiapkan untuk menjadi pendeta dan menyebarkan agama Kristen di seluruh penjuru Iraq dan Jazirah Arab. Mereka adalah Yasar, Nusheir dan Sirin. Tatkala Panglima Khalid bin Walid menaklukkan Iraq, mereka semua masuk Islam.

Yasar menikah dan memiliki seorang anak bernama Ishaq dan Ishaq memiliki anak laki-laki bernama Muhammad. Kemudian hari terkenal dengan nama Muhammad bin Ishaq bin Yasar, seorang perawi hadis yang memiliki buku “Al maghazi”, buku yang menulis tentang biografi dengan kisah perang Rasulullah pertama. Sedangkan, Nusheir menikah dan dianugerahi seorang putra bernama Musa. Kelak terkenal sebagai panglima besar Musa bin Nusheir yang menaklukkan Tanah Ghalia atau Andalusia bersama Tariq bin Ziyad dan Tarif bin Malik. Sementara, Sirin menikah dan memiliki seorang putra bernama Muhammad, kemudian hari terkenal dengan nama Imam Muhammad ibnu Sirin al-Bashri.

Ibnu Sirin lahir di Bashrah, Irak sekitar tahun 33H/653M. Ia termasuk salah seorang thabaqat (generasi) Tabi’in agung hidup sezaman dengan Hasan Al-Bashri, Malik bin Anas dan Fudhail bin Iyadl. Ia tidak hanya terkenal sebagai ahli tafsir, hadis dan fiqih, juga masyhur sebagai orang shaleh, zuhud wara’ dan sangat berhati-hati dalam urusan perkara agama. Ia menjadi begitu terkenal sampai sekarang ini karena karyanya “Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam” atau biasa dikenal sebagai Ta’wil Mimpi Ibnu Sirin.

Pernah, pada suatu hari ia ditemui oleh 2 orang pemuda bermimpi yang sama, yakni mimpi sama-sama mengumandangkan Azan. Mereka minta dita’wilkan mimpi tersebut oleh Ibnu Sirin, bermakna apa itu mimpi ? Ibnu Sirin tidak lansung menjawab, tapi ia terlebih dahulu memperhatikan dan mencermati ekspresi wajah keduanya saat mengisahkan mimpi tersebut. Ternyata ekspresi wajah mereka berbeda bahkan bertolak belakang, yang satu berwajah riang gembira dan yang lainnya bermuka sedih. Ibnu Sirrin mena’wilkan mimpinya tidak sama, padahal sama-sama mimpi mengumandangkan Azan. Bagi yang berwajah riang gembira dita’wil Ibnu Sirin bakal menunaikan ibadah Haji, sedangkan bagi yang bermuka sedih dita’wilnya sebentar lagi akan meninggal dunia.

Imam Ibnu Sirin berpulang ke rahmatullah, di kota Bashrah, pada tahun 110 H/ 729 M. Konon, sebelum wafat ia tahu kapan waktu wafatnya. Kok bisa, ia tahu waktu wafatnya ?Jawabnya, karena ada seseorang yang datang ke rumahnya menyampaikan mimpi ayam berkokok tiga kali. Tiba-tiba saja, ia bergegas siap sangu mati, karena ta’wil mimpi itu bermakna 3 hari lagi ia bakal mati.

Beberapa Kesan Ulama Padanya

Berikut beberapa kutipan dari Syekh Abu Nuaim dalam kitab Hilyatil Auliya’:

ﻗَﺎﻝَ ﻳُﻮﺳُﻒُ ﺑْﻦُ ﻋَﻄِﻴَّﺔَ «ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣُﺤَﻤَّﺪَ ﺑْﻦَ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻛَﺜِﻴﺮَ اﻟﻤﺰاﺡ ﻛَﺜِﻴﺮَ اﻟﻀَّﺤِﻚِ»

Yusuf bin Athiyyah berkata: “Saya melihat Muhammad bin Sirin, ia banyak bercanda dan sering tertawa”

ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺒِﻴﺐُ ﺑْﻦُ اﻟﺸَّﻬِﻴﺪِ «ﻛَﺎﻥَ اﺑْﻦُ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﻻَ ﻳَﺌِﻦُّ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻼَءٍ ﻭَﺭُﺑَّﻤَﺎ ﺿَﺤِﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺪْﻣَﻊَ ﻋَﻴْﻨَﺎﻩُ»

Habib bin Syahid berkata: “Ibnu Sirin tidak merintih saat terkena musibah. Terkadang ia tertawa sampai mengeluarkan air mata”

ﻋَﻦِ اﻟﺴَّﺮِﻱِّ ﺑْﻦِ ﻳَﺤْﻴَﻰ، ﻭَاﺑْﻦِ ﺷَﻮْﺫَﺏٍ ﻗَﺎﻻَ: «ﻛَﺎﻥَ اﺑْﻦُ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﺭُﺑَّﻤَﺎ ﺿَﺤِﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺴْﺘَﻠْﻘِﻲَ ﻭَﻳَﻤُﺪَّ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ»

Sari bin Yahya dan Ibnu Syaudzab berkata: “Ibnu Sirin terkadang tertawa sampai berbaring dan kakinya dibentangkan”

Selain humoris, Ibnu Sirin juga ahli ibadah di malam hari. Jangan ditiru candanya saja:

ﻗَﺎﻟَﺖْ اﻣْﺮَﺃَﺓُ ﻫِﺸَﺎﻡِ ﺑْﻦِ ﺣَﺴَّﺎﻥَ : «ﻛُﻨَّﺎ ﻧُﺰُﻭﻻً ﻣَﻊَ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﻓِﻲ ﺩَاﺭِﻩِ ﻓَﻜُﻨَّﺎ ﻧَﺴْﻤَﻊُ ﺑُﻜَﺎءَﻩُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺿَﺤِﻜَﻪُ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ»

Istri Hisyam bin Hassan berkata: “Kami mampir di rumah Ibnu Sirin. Kami mendengar tangisnya di malam hari dan tawanya di siang hari”

Ibnu Sirin juga memiliki akhlak yang agung kepada ibunya:

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺁﻝِ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ «ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣُﺤَﻤَّﺪَ ﺑْﻦَ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﻳُﻜَﻠِّﻢُ ﺃُﻣَّﻪُ ﻗَﻂُّ ﺇِﻻَّ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﺘَﻀَﺮَّﻉُ»

Keluarga Ibnu Sirin berkata: “Saya lihat Muhammad bin Sirin bila berbicara dengan ibunya maka penuh dengan kesopanan”

Urusan perut beliau lebih banyak berpuasa. Kalaupun tidak berpuasa konsumsi makanan beliau sangat sedikit:

ﻋَﻦِ اﺑْﻦِ ﺷَﻮْﺫَﺏٍ، ﻗَﺎﻝَ: ” ﻛَﺎﻥَ اﺑْﻦُ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻭَﻳُﻔْﻄِﺮُ ﻳَﻮْﻣًﺎ، ﻭَﻛَﺎﻥَ اﻟَّﺬِﻱ ﻳُﻔْﻄِﺮُ ﻓِﻴﻪِ: ﻳَﺘَﻐَﺪَّﻯ ﻓَﻼَ ﻳَﺘَﻌَﺸَّﻰ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺘَﺴَﺤَّﺮُ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﺻَﺎﺋِﻤًﺎ “

Ibnu Syaudzab berkata: “Ibnu Sirin melakukan puasa sehari, tidak puasa sehari (Puasa Dawud). Jika sedang tidak puasa maka pagi makan dan malamnya tidak makan, besoknya sahur kemudian berpuasa (sehari makan 1x)”

Ibnu Sirin juga ahli dzikir:

ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ، ﻗَﺎﻝَ: «ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻤُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ ﺳَﺒْﻌَﺔُ ﺃَﻭْﺭَاﺩٍ ﻳَﻘْﺮَﺅُﻫَﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﺫَا ﻓَﺎﺗَﻪُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺷَﻲْءٌ ﻗَﺮَﺃَﻩُ ﻣِﻦَ اﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ»

Anas bin Sirin berkata: “Muhammad bin Sirin punya wiridan (dzikir) sebanyak 7 dzikir yang dibaca di malam hari. Jika ada yang tertinggal maka dibaca di siang hari”

Tidak sekedar ilmu, Ibnu Sirin diakui kehebatannya dalam membatasi diri dari hal-hal yang tidak jelas (syubhat) apalagi yang haram:

ﻗَﺎﻝَ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥ ﺑْﻦ ﻋُﻴَﻴْﻨَﺔَ «ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻛُﻮﻓِﻲٌّ ﻭَﻻَ ﺑَﺼْﺮِﻱٌّ ﻭَﺭَﻉَ ﻣِﺜْﻞَ ﻭَﺭَﻉِ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﺳِﻴﺮِﻳﻦَ»

Sufyan bin Uyainah berkata: “Tidak ada orang Kufah dan Basrah (Iraq) yang Wira’i (menjauhi perkara Syubhat) seperti Wira’inya Muhammad bin Sirin”

Demikian kisah ringkas tentang Ibnu Sirin, ulama besar yang ahli ta’wil mimpi yang hampir mendekati keahlian Nabi Yusuf As. Allah Yarham.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *