آداب العالم والمتعلم فيما يحتاج المتعلم فى احوال تعلمه وما يتوقف عليه المعلم فى مقامات تعليمه.
الباب الثاني
فى آداب المتعلم فى نفسه وفيه عشرة احوال من الآداب.
الاول: ان يطهر قلبه من كل غش ودنس وغل وحسد وسوؤ عقيدة وسوؤ خلق ليصلح بذلك لقبول العلم وحفظه والإطلاع على دقائق معانيه والفهم لغوامضه
Bab Kedua:
Ada-adab para santri pada dirinya saat menuntut ilmu. Bab ini ada Sepuluh Hal dari kriteria Adab.
Pertama: Santri hendaklah menyucikan hatinya dari segala tipu daya, kotoran, dengki, iri, hasad, jelek akidah, jelek akhlak untuk memperoleh kebaikan,kesolahan jika hatinya suci dari penyakit hati itu agar mudah menerima ilmu dan mudah menghafalnya dan dapat menelaah secara mendetail atas makna-makna yang mendalam dan sekaligus memahami aspek-aspek yang sulit.
والثانى : ان يحسن النية فى طلب العلم بأن يقصد به وجه الله عز وجل والعمل به واحياء الشريعة وتنوير قلبه وتحلية باطنه والتقرب من الله تعالى ولا يقصد به الاعراض الدنيوية من تحصيل الرياسة الجاه والمال ومباهاة الأقران وتعظيم الناس له ونحو ذلك.
Kedua: Hendaklah Santri Memperbaiki niatnya saat menuntut ilmu dengan maksud meniatkan hanya karena Allah swt dan mengamalkannya karena Allah, niat menghidupkan syariah Allah, niat menyinari hatinya dengan cahaya ilmu, menghiasi bathinnya, dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Dan tak boleh bagi para santri berniat nuntut ilmu agar memperoleh harta duniawi, menuntut ilmu agar memperoleh jabatan, kedudukan, harta benda, juga untuk menyombongkan diri di hadapan teman/ kerabat/kolega, juga untuk mendapatkan sanjungan dan penghormatan manusia dan sejenisnya.
الثالث : ان يبادر بتحصيل العلم شبابه وأوقات عمره ولا يغتر بخدع التسويف والتأميل فإن كل ساعة من عمره لا بدل لها ولا عوض عنها. وان يقطع ما قدر عليه من العلائق الشاغلة والعوائق المانعة عن تمام الطلب وبذل الإجتهاد وقوة الجد فى التحصيل فإنها قواطع طريق التعلم
Ketiga: Hendaklah para santri bergegas, bersegera meraih ilmu saat masih muda dan setiap waktu dari umurnya. Jangan tertipu dengan terlena menunda-nunda kesempatan dan menghayal yang tak jelas. Sebab setiap waktu dari umur itu berlalu dengan tak ada gantinya dan tak bisa tergantikan. Dan penuntut ilmu harus mampu memutus sesuai dengan kemampuannya dari segala hal-hal negatif yang menyibukkan, dan mampu memutus diri dari cobaan-cobaan yang dapat menghalangi dari kesempurnaan menuntut ilmu dan kesungguhan dalam berijtihad dan kemampuan yang sungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu sebab itu semua menjadi penghalang-penghalang jalannya pembelajaran.
Keempat:
والرابع : ان يقنع من القوت واللباس بما تيسر فبالصبر على أدنى العيش ينال سعة العلم وجمع شمل القلب من متفرقات الآمال ويتفجر به ينابيع الحكم.
قال امامنا الشافعى رضي الله عنه : لا يفلح من طلب العلم بعزة النفس وسعة المعيشة لكن من طلب بذلة النفس وضيق العيش. وخدمة العلمآء أفلح.
Keempat: Hendaklah para santri merasa cukup dari pangan dan pakian dengan apa yang ada. Maka dengan sikap sabar atas kondisi kehidupan yang serba kekurangan dalam menuntut ilmu justru dia mendapatkan keluasan ilmu dan dapat menfokuskan hatinya dari gejolak jiwa yang beraneka macam cita-cita yang diinginkannya, dan sebab kesabaran dalam keterbatasan ekonomi saat menuntut ilmu dapat memancarkan air mata air hikmah kebijaksanaan.
Imam syafii ra bernasihat: tak akan beruntung/ tak sukses orang yang menuntut ilmu dengan kemegahan dirinya dan kelapangan kehidupannya akan tetapi yang dapat sukses itu orang yang rendah hati dan ketawadduan dan hidup sederhana dalam kekurangan.
Berkhidmah pada ulama jauh lebih beruntung.
والخامس ان يقسم اوقات ليله ونهاره ويغتنم ما بقي من عمره فان بقية العمر لا قيمة لها. واجود الاوقات للحفظ الأسحار وللبحث الابكار وللكتابة وسط النهار وللمطالعة والمذاكرة اليل واجود اماكن الحفظ الغرف وكل موضع بعيد عن المهليات ولا يحسن الحفظ بحضرة النبات والحضرة والانهار وضجيج الاصوات.
Kelima: Hendaklah para santri dapat membagi waktunya baik siang dan malam dan selalu memanfaatkan sisa umur yang diberikan sebab sisa umur yang ada tak ternilai harganya.
Waktu yang paling baik untuk menghafal adalah tengah malam, waktu terbaik untuk mengkaji kitab pagi pagi, untuk menulis siang hari, waktu untuk mutholaah dan Muzakarah pada malam hari. Sementara tempat yang paling baik untuk menghafal itu di dalam kamar, dan tempat-tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan. Kurang baik menghafal di hadapan tumbuh-tumbuhan, tempat yang hijau, pinggir sungai, dan suara yang keras dan gaduh.
Keenam:
والسادس : ان يقلل الأكل والشرب فان الشبع يمنع من العبادة ويثقل البدن ومن فوائد قلة الأكل صحةالبدن ودفع الامراض البدنية فان سببها كثرة الأكل وكثرة الشرب كما قيل
فان الداء اكثر ما تراه * يكون من الطعام والشراب
وصحة القلوب من الطغيان والبطر ولم ير احد من الأولياء والائمة والعلماء الاخيار يتصف او يوصف بكثرة الأكل ولا حمد به انما تحمد بكثرة الاكل من الدواب التى لا تعقل وترصد العمل.
Keenam: Hendaklah santri menyedikitkan makan minum. Sebab kenyang itu dapat mencegah berbuat ibadah dan memberatkan badan. Di antara faidah sedikit makan itu adalah sehat badan dan terhindar dari penyakit badan. Sebab penyakit itu muncul karena banyak makan dan banyak minum. Sebagaimana dalam ungkapan syair:
Sesungguhnya penyakit kebanyakan apa yang engkau lihat bersumber dari makanan dan minuman.
Sehatnya hati dari keangkuhan dan kesombongan yang tak seorang wali, imam-imam ulama ulama pilihan yang bersifat atau disifati dengan sifat kuat dan sering makan dan tak terhormat dengan sifat itu. Paling panter dipuji seperti binatang yang hanya makan minum yang tak berakal dan tak mampu mengendalikan amal perbuatannya.
Ketujuh:
السابع: ان يؤاخذ نفسه بالورع والاحتياط فى جميع شأنه ويتحرى الحلال فى طعامه وشرابه ولباسه ومسكنه وفى جميع ما يحتاج اليه ليستنير قلبه ويصلح لقبول العلم ونوره والنفع به وينبغي له ان يستعمل الرخص فى مواضعها. عند الحاجة اليها ووجود سببها فان الله يحب ان يؤتى رخصه كما يحب ان توتى عزائمه.
Ketujuh:
Hendaklah para Santri membiasakan dirinya dengan sifat wara’ tindih dan ikhtiyath kehati-hatian dalam semua urusannya. Selalu berusaha memakan makanan halal meminum minuman halal, pakiannya, tetempat tinggalnya, dan dalam semua kebutuhan hidupnya agar hati tersinari cahaya kesucian dan lebih pantas untuk menerima cahaya ilmu pengetahuan dan kebermanfaatannya.
Santri sebaiknya mempergunakan rukhsah/keringanan/dispensasi agama pada tempatnya dan juga karena ada sebabnya.
Sesungguhnya Allah sangat senang bagi siapa yang mampu melakukan rukhsah sebagaimana Allah suka kepada siapa saja yang melaksanakan perintah pokok yang sesuai waktu dan tempatnya. (azimah-azaim).
Bersambung

No responses yet