Beberapa poin yang disampaikan oleh KH. Sholahuddin Munsif (Gus Sholah), Pengasuh PP. Ali Ba’alawy, Kencong, Jember, dalam pengajian Riyadlus Shalihin di Masjid Al-Falah, Kencong, bakda magrib tadi.
وعن عبد اللَّه بن مسعودٍ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لِيَلِني مِنْكُمْ أُولُوا الأَحْلامِ والنُّهَى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ » ثَلاثاً « وإِيَّاكُم وهَيْشَاتِ الأَسْواقِ » رواه مسلم .
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, katanya: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Hendaklah menyampingi saya -dalam shalat- itu orang-orang yang sudah baligh dan berakal, kemudian orang-orang yang levelnya di bawah itu.” Ini disabdakan oleh beliau sampai tiga kali. Beliau shalallahu alaihi wasalam lantas melanjutkan: “Jauhilah oleh kalian berkeras-keras suara seperti–di dalam– pasar. (Riwayat Muslim)
Ulul Ahlami adalah orang-orang yang sudah baligh, ada pula yang mengertikan: ahlil-hilmi -wong kang anduweni sifat aris, sabar, mampu menahan diri, mampu berpikir jernih, tidak gampang marah. Juga diartikan orang yang memiliki keutamaan.
Annuha bermakna akal. Orang yang berakal disebut Ulin Nuha. Maksudnya, akal menuntunnya agar tidak berbuat buruk, mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Ulin Nuha juga bisa disebut Ulul Uqul.
Ini adalah hadits keutamaan orang-orang yang berakal, dan sikap beliau dalam memuliakannya, yaitu shafnya dekat dengan Rasulullah. Selain itu, fadhilah shaf pertama itu sangat agung, sebagaimana sabda beliau dalam salah satu hadisnya,
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا
“Andaikan manusia mengetahui pahala yang terdapat pada seruan azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian, niscaya mereka akan melakukannya.” (HR. Bukhari)
Penempatan posisi orang-orang mulia di shaf pertama (al-aula bit taqdim) ini menurut Gus Sholah juga bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah ra.
أَنْزِلُوْا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
“Tempatkan manusia pada posisi mereka.”
Mengenai jarak kaki dua, hendaknya juga tidak terlampau renggang, juga tidak menempel. Imam al-Ghazali dan Imam Nawawi berpendapat sejengkal atau sekilan, dalam bahasa Jawa. Guru Gus Sholah, yaitu, Syekh Ahmad Muhammad Nursaif punya kitab yang menjelaskan posisi kaki dalam shalat. Judulnya Maudhi’ul Qadamain Fisshalat.
Sahabat Abdullah ibnu Mas’ud radliyallahu anhu adalah di antara orang yang pertama masuk Islam. Pada saat itu, beliau menjadi pengembala kambing yang kurus-kurus. Rasulullah meminta izin kepadanya untuk memerah susu, dan berkat sentuhan beliau, kambing yang awalnya tidak mengeluarkan susu, perasannya melimpah ruah.
Sayyidina Abdullah ibnu Mas’ud ini ahli ilmu. Sanad fiqh Imam Abu Hanifah melalui beliau. Perawakannya mungil, sehingga saat Abdullah ibnu Abbas radliyallahu anhuma berjajar bersama Ibnu Mas’ud, fisiknya tampak lebih tinggi dibanding Ibnu Mas’ud. Beliau juga memiliki betis yang kecil sehingga manakala memanjat pohon dan para sahabat lain melihat bentuk kakinya, mereka menertawakan fisiknya tersebut. Lantas Rasulullah menegur ulah beberapa sahabatnya itu dan dawuh, jika betis Abdullah ibnu Mas’ud yang kecil itu kelak di akherat timbangan amalnya lebih berat daripada Gunung Uhud.
Sayyidina Abdullah ibnu Mas’ud, perawi hadits di atas, merupakan abdi ndalemnya Kanjeng Nabi yang bertugas membawakan sandal beliau. Sehingga Syekh Yusuf bin Ismail Annabhani pernah berkata apabila Ibnu Mas’ud bejo (beruntung) karena khidmah membawakan sandal manusia mulia, sedangkan aku bejo karena khidmah kepada gambar sandalnya Rasulullah. Kemuliaan dan khasiat gambar sandalnya Rasulullah (Na’lu Rasulullah) dijelaskan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Maqqari dalam karyanya Fathul Muta’al.
Wallahu A’lam Bisshawab

No responses yet