Dua bulan lebih sebagian masyarakat kita telah melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang dahulu jarang mereka lakukan. Termasuk dalam kebiasaan beragama mereka. Tekanan struktural atas nama wabah covid 19 telah memaksa masyarakat merubah perilaku sosial, intelektual dan keagamaan mereka. Dahulu kita suka berjabat tangan dan berpelukan dengan teman atau sahabat jika bertemu. Sekarang kita cuman bisa menyungging senyum dan tawa yang juga tak terlihat karena bermasker, sambil menjaga jarak dan menempelkan tapak tangan dan membungkukkan badan sedikit untuk saling menghormati. Sampai awal tahun lalu para intelektual dengan bangganya berdiskusi dan berseminar ditempat-tempat khusus dan terkadang wewah untuk mendiskusikan sesuatu yang mereka anggap sebagai ilmu dan turunannya. Sementara para pengkhotbah agama hilir mudik dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah lainnya untuk menawarkan sorga dan menakuti jamaahnya dengan neraka. Sekarang mereka lebih sibuk berdiskusi dan berkhotbah di ruang digital.
Covid 19 telah memaksa masyarakat untuk menjaga jarak dan lebih “mengutamakan” membangun relasi sosial melalui jejaring media sosial di ruang maya. Ruang maya tepat dimana semua orang bisa mengambil peran dan menduplikasi gagasan secara bebas tanpa standart formal. Ruang digital adalah ruang tanpa batas yang tidak lagi membedakan antara seorang pakar dan awam, antara ulama dan jahilun. Masyarakat sekarang sedang dipaksa untuk masuk ke sebuah arena yang penuh dengan anarkhi kepatuhan. Sebuah kondisi yang selalu berada dalam situasi liminal (tanpa struktur). Bayangkan sekolah tidak lagi di sekolah, kerja tidak lagi di kantor, mengajar tidak lagi di klas, beribadah tidak lagi di tempat ibadah. Semua dipaksa di lakukan di rumah saja. Kewajiban-kewajiban agama yang biasanya dilakukan secara berjamaah dalam ikatan yang intim sekarang harus berjarak.
Bisa dibayangkan bagaimana kebiasaan baru ini jika berlangsung lebih lama lagi. Mungkin ekspresi beragama masyarakat akan benar-benar berbeda dan berubah. Masyarakat akan lebih malas beribadah di tempat ibadah, mereka menikmati egoisme beribadah di rumah. Jika dulu ada semacam egoisme beribadah berbungkus sosial, sekarang yang ada tinggal egoisme beribadah secara virtual. Khotbah online bisa dinikmati dari rumah tanpa harus berbagi berkah dengan orang lain, cukup dengan keluarga. Bahkan mungkin sendirian saja sambil membayangkan sorga, karena mereka masih jombloh. Tidak ada lagi ritual memakai baju terbaik sambil berjalan menuju rumah-rumah ibadah yang indah. Semua akan serba sederhana dan bahkan tidak ada. #SeriPaijo

No responses yet