Waktu kecil saya sering menonton hiburan rakyat, kami menyebutnya “Kemidi Bedes” (Komedi Monyet). Sebuah tontonan yang paling menarik anak-anak dan bahkan orang dewasa. Inilah “teater” rakyat paling murah yang bisa jadi hiburan. Di kasih uang atau tidak si aktor akan tetap menjalankan perannya dengan maksimal meskipun terkadang mogok juga. Sampai sekarang tontonan “rakyat” ini masih sering dijumpai di kampung-kampung di pinggir perkotaan meski sang dalang memberi julukan beragam pada si aktor. Kalau dulu kita hanya mengenal nama Sarimin, sekarang setiap ganti aksi mereka ganti nama ada nama nama pembalap motor GP dan bahkan nama “pahlawan”  Amerika Serikat  era Postkolonial Rambo juga dipakai. Tentu saja ini adalah efek media yang luar biasa di kalangan komunitas para “dalang” topeng monyet.

Tontonan ini memang semakin langkah karena dianggap menyiksa bintang oleh para pencinta monyet (binatang). Bahkan di Jakarta dianggap melanggar hukum dan bisa di penjara para dalangnya. Konon untuk melatih si monyet sang dalang tak segan harus menyiksa dan melakukan hukuman-hukuman fisik dan mental kepada si monyet. Jika menolak berakting si monyet akan dapat pukulan atau tidak dapat jatah makan.  Ya itulah topeng monyet, tontonan gratis untuk masyarakat bawah.

Coba kita renungkan siapakah sebenarnya yang kita tonton ketika melihat topeng monyet itu? Jangan-jangan ki dalang tahu bahwa tontonan ini untuk mentertawakan diri manusia sendiri. Ya manusia yang selalu mengikuti kehendak atau tabuhan kendang si dalang. Begitu banyak dalang yang mengatur hidup kita yang membuat kita memiliki dan menjalankan peran berbeda-beda dalam keseharian hidup kita. Bahkan terkadang ada manusia yang begitu setia kepada banyak dalang sekaligus selama si dalang bisa memberi dia sesuap nasi. 

Ironisnya si monyet yang bekerja keras tidak pernah menerima upah yang layak. Sebaliknya si dalang yang hanya menabuh gendang  malah yang menerima dan menggunakan uang pemberian para penonton. Ini persis kerja para buruh yang digaji rendah yang hanya cukup untuk makan dan bayar indekos di pinggiran kota. Mereka bahkan tidak mampu membeli barang-barang yang mereka buat sendiri. Ya inilah topeng monyet. Dan sekarang jumlah monyet semakin banyak dan semakin banyak, sedangkan si dalang juga mulai kewalahan berkompetisi dengan dalang-dalang baru. Maka monyet harus siap dikorbankan agar para dalang bisa bertahan. 

Hanya ada satu dalang yang tidak menarik uang dari penontonnya. bahkan ia memberikan semua Cintanya pada sang “monyet” sejati. Sayang kebanyakan monyet yang serakah lupa akan nikmat cinta sang dalang “sejati”.  Karena monyet-monyet ini tidak diikat dengan tali tampar yang mengekang. Tetapi diikat dengan tali iman yang kuat tidaknya tergantung pada pilihan peran yang akan dimainkan si monyet. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *