Oleh : Muhammad Jauharul Haqoiq (mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta )
Setiap masyarakat pasti membutuhkan agama. Tanpa melihat asal usul maupun tingkatan klas sosial mereka. Bahkan memperhatikan apa berasal dari pedesaan ataupun perkotaan. Namun cara memahami agama masing-masing kelompok berbeda. Begitu juga yang dialami masyarakat perkotaan, dengan kesibukan pekerjaan yang harus dilalui, mereka sangat membutuhkan bimbingan keagamaan yang mampu memberikan ketenangan dan pencerahan pada dirinya.
Dalam kehidupan ini agama sangat penting untuk seluruh umat manusia, karena agama merupakan sebuah pedoman untuk menjalani kehidupan di dunia yang baik dan benar. Tanpa adanya agama manusia akan berjalan sendiri tanpa adanya landasan atau pedoman untuk hidup. Dan dengan agama kita mampu untuk mengontrol diri kita untuk melakukan sesuatu apakah itu benar atau salah dan apakah itu baik untuk diri kita maupun orang lain.
Ketika kita hidup bermasyarakat pun agama merupakan suatu unsur yang penting untuk bagaimana cara kita hidup di masyarakat sesuai dengan syariat agama karena tanpa agama akan banyak terjadinya penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh umat manusia. Dan akan bertindak sesuai keinginannya sendiri tanpa mempertimbangkan itu baik atau tidak. Maka kehidupan ini akan antah berantah tanpa adanya agama atau suatu pedoman.
Sekarang ini yang namanya agama itu sangat banyak walaupun agama yang diakui hanya ada 6, namun sebenarnya agama yang ada di Indonesia itu banyak. Salah satunya adalah Islam agama yang diakui. Agama Islam pun bermacam-macam alirannya. Fenomena agama yang terjadi di masyarakat pun sangat banyak. Fenomena agama merupakan fenomena universal umat manusia. Agama merupakan suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Agama dapat dipandang sebagai kepercayaan dan pola perilaku yang diusahakan oleh suatu masyarakat untuk menangani masalah penting yang tidak dapat dipecahkan oleh teknologi dan teknik organisasi yang diketahuinya. Untuk mengatasi keterbatasan itu, orang berpaling kepada manipulasi kekuatan supranatural.
Agama memberi makna pada kehidupan individu dan kelompok, juga memberi harapan tentang kelanggengan hidup sesudah mati. Agama dapat menjadi sarana manusia untuk mengangkat diri dari kehidupan duniawi yang penuh penderitaan, mencapai kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma kelompok, sanksi moral untuk perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujuan serta nilai-nilai yang menjadi landasan keseimbangan masyarakat.
Agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini, tanpa terkecuali. Ia merupakan salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan juga bagian dari system sosial suatu masyarakat. Agama juga bisa dilihat sebagai unsur dari kebudayaan suatu masyarakat disamping unsur-unsur yang lain, seperti kesenian, bahasa, system mata penceharian, system peralatan, dan organisasi sosial.
Masyarakat kota merupakan masyarakat urban community, dimana masyarakatnya tinggal di sekitar suatu kegiatan ekonomi, pemerintah, kesenian, ilmu pengetahuan, dan lainnya. Dan masyarakatnya bersifat individualistic. Kehidupan masyarakat di kota, pada umumnya, satu sama lain tidak saling mengenal dan interaksi-interaksi mereka didasari oleh kepentingan dan kebutuhan yang dilandasi pada hubungan sekunder, sehingga secara nyata media massa telah menjadi salah satu kebutuhan dalam berinteraksi di dalam masyarakat perkotaan satu dengan lainnya. Berbeda dengan masyarakat desa yang memiliki hubungan lebih mendalam dan erat pada system kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan.
Fenomena agama yang terjadi pun berbeda antara masyarakat kota dan masyarakat desa. Karena karakteristik keduanya berbeda. Pengetahuan agama yang terdapat di masyarakat desa itu sangat baik, hal tersebut berbalik di masyarakat kota bahwa pengetahuan agama yang terdapat di masyarakat kota sangat kurang. Berdasarkan pengamatan fenomena agama yang terjadi dalam masyarakat desa pengetahuan keagamaan menjadi faktor sosial terjadinya interaksi dimana keguyuban yang terjadi masih sangat kental dan tentang pemahaman agama masyarakat desa itu cukup baik karena di desa banyak terdapat kiyai, ustad dan juga santri.
Sering juga diadakannya pengajian-pengajian, majlis ta’lim dan sebagainya. Sehingga karena hal tersebut mengakibatkan tingkat kekeluargaannya masih terjalin karena sering berkumpul. Sedangkan pada masyarakat kota kota itu pengetahuan agamanya masih sangat kurang karena hanya terdapat sedikit yang menguasai mengenai agama dan mereka bersifat individualistiknya sangat erat, jarang terjadinya interaksi antar warga karena juga jika adanya perkumpulan-perkumpulan itu hanya cukup sampai disini, maksudnya adalah sifatnya tidak terus menerus jika setelah mengunjungi pengajian di masjid jika sudah selesai maka itu akan dianggap memang benar-benar selesai tanpa adanya keberlanjutan komunikasi. Masyarakat kota lebih merujuk untuk mengikuti ustad-ustad yang berada di tv dan mendengarkannya lewat tv. Menurut mereka mungkin pengetahuan agama itu tidaklah begitu penting. Fenomena agama yang terjadi pada masyarakat kota memang memprihatinkan. Dan di masyarakat itu madrasah dan guru yang mengajar ngaji pun jarang. Sehinga masyarakt kota susah untuk mencari pengetahuan agama. Dan mereka juga lebih memilih untuk menyekolahkan anak-

No responses yet