Oleh: Rina Karina (Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan)
MUHASABAH atau intropeksi diri merupakan pengingat untuk selalu memperbaiki diri dan merenungkan hal-hal baik dan buruk yang telah di lakukan serta membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan yang telah di perbuat. Dalam islam muhasabah bertujuan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah ( habluminallah), hubungan dengan sesasama manusia (habluminannas), dan hubungan dengan diri sendiri (habluminannafsi).
Bagi umat muslim muhasabah itu sangat penting dengan bermuhasabah senantiasa kita akan selalu mengingat betapa banyaknya kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat sehingga kedepannya kita bisa memperbaiki dan melakukan amalan kebaikan, menjauhi larangan-larangan yang membuat dosa serta menjadikan pribadi yang lebih baik lagi.
Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman dalam surat Al- Hasyr (59): 18 yang berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Dengan ayat ini yang menjelaskan tentang makna masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Memang Setiap orang tidak akan bisa mengubah masa lalunya namun dari masa lalu kita bisa melihat dan memperbaiki untuk berbuat sesuatu saat ini dan mempersiapkan dirinya untuk masa depannya dengan muhasabah, merenungkan, mengintropeksi diri apa yang harus diperbaiki untuk masa depan yang lebih baik. Utamanya hidup di dunia itu fana dan sesungguhnya akhirat lah yang kekal. Sehingga kita bisa memanfaatkan waktu yang tersedia dengan sebaik baiknya demi meraih ridha Allah SWT.
Menuntut intropeksi dan kesadaran menyangkut semua hal yang telah terjadi, untuk meningkatkan kualitas iman/kesadaran tauhid, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, menigkatkan kepatuhan pada syariat islam sebagai syariat yang kaffah sehingga mengantarkan manusia untuk melakukan perbaikan dan peningkatan.
Sambil melakukan perenungan dan muhasabah terhadap apa yang telah kita perbuat mengenai aktivitas kita selama ini, apakah kehadiran kita didunia hanya sebatas hidup? apakah hanya sebatas untuk mengejar duniawi? TIDAK. Kita hidup di dunia harus memiliki tujuan, yang perlu di garisbawahi adalah, bahwa landasan berpikir untuk mempersiapkan hari esok haruslah ketakwaan, dan semua pekerjaan hendaknya menjadi ibadah kepada Allah SWT agar manusia tidak larut dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat,. karena kelak apa yang kita lakukan akan ada hisabnya yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT
Seperti apa yang diucapkan Hasan al Bashri bahwasannya dunia ini hanya memiliki tiga hari: Hari kemarin, yang telah pergi bersama dengan semua yang menyertainya. Hari esok, kau mungkin takkan pernah menemuinya. Hari ini, itulah yang kamu miliki. Maka beramallah di hari ini.
Mengingat dunia yang sudah semakin tua dan sudah begitu banyak tanda-tanda akhir zaman atau kiamat sugra dimulai dari hal yang kecil sampai hal yang terbesar seperti bencana alam dimana-mana, para ulama-ulama besar banyak yang meninggal, pelecehan seksual, dan lain sebagainya hingga saat ini virus covid-19 yang tak kunjung usai yang bisa jadi itu semua adalah sebuah teguran sekaligus pengingat dari Allah SWT. Oleh karena itu kita harus sering-sering bermuhasabah merenungkan dari kejadian-kejadian tersebut supaya lebih dekat lagi dengan Allah dan semakin banyak melakukan kebaikan.
Cara Muhasabah Diri
- Mendirikan salat Taubat
Ketika kita bermuhasabah maka hati kita akan terketuk dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat yang akhirnya seorang muslim akan bertaubat memperbaiki semuanya untuk hidup lebih baik.
- Menerima saran dan masukan dari orang lain
Manusia sebagai mahkluk sosial pasti membutuhkan orang lain untuk menyadarkan dari kesalahan yang telah diperbuat. Dalam HR. Abu Dawud dijelakan. “Jika Allah menghendaki kebaikan dari seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping yang jujur untuk mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat.”
- Selalu mengingat bahwa banyak kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat
- Berteman dengan orang-orang shalih
- Menyendiri untuk bermuhasabah
Salah satu bentuk evaluasi dan intropeksi diri yaitu dengan menyendiri untuk bermuhasabah, diriwayatkan dari Umar bi. Al-Khaththab, beliau mengatakan.
Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pegelaran agung ( pada hari kiamat kelak). ( HR. Tirmidzi)
Keutamaan Muhasabah Diri
- Menghindari manusia dari sikap merasa paling suci
Maka janganlah kamu mengatakan dirimi suci, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa ( Qs An-Najm:32)
- Menghindarkan manusia dari sifat sombong
Dan janganlab kamu memalingkan wajah dari manisia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri (Qs Luqman:18). Maka dari itu manusia tidak boleh sombong karena semuanya apa yang kita miliki hanyalah sebuah titipan dari Allah, kita bernafas, digerakan, dihudupkan dan dimatikan hanya oleh Allah, sehingga tidak ada yang perlu disombongkan.
- Menyadarkan untuk memanfaatkan waktu dengan baik
Berkaitan dengan waktu Allah telah berfirman dalam QS Al-Ashr:1-3 yang artinya: Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapu kesabaran. Oleh karenana itu mari berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan (fastabiqul khairat)
- Menenangkan hati
Apabila kita sudah melakukan muhasabah maka hati kita akan merasa tenang karena kita mengakui kesalahan-kesalahan dan setelah itu kita akan memperbaikinya.
Dengan demikian kita perlu muhasabah diri karena merupakan salah satu cara intopeksi diri supaya menjadi diri pribadi yang lebih baik dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

No responses yet