Entah kenapa tiba-tiba si Akhtar (kakak si Azam) ngotot minta ke masjid Ampel sejak akhir ramadhan lalu. Karena saya malas dengan kemacetannya saya tidak menurutinya. Baru pagi tadi akhirnya saya menuruti permintaan si AKhtar ke sana. Alhamdulillah suasana jalan dan makam relatif sepi di banding hari-hari normal. Setelah mengamati situasi makam sambil berdo’a, anak-anak tertarik dengan jejeran gentong yang tertulis air minum. Si Akhtar mulai tanya : “ini beneran air minum yah?” Saya tersenyum dan bilang : “Betul itu air minum, konon ada mitos bahwa air minum ini diambil dari sumur yang terhubung dengan sumur air zam-zam. Kamu boleh percaya-boleh tidak.”
Akhirnya dia tertarik untuk minum dan diikuti oleh kedua adiknya si Azam dan Alysa tanpa ragu. Saya dan ibunya akhirnya juga ikut minum. Sementara si anak mbarep Nazky, yang datang menyusul dari kamar mandi menolak untuk minum meskipun adiknya sudah menjelaskan. Dia malah bertanya :”Benarkah itu sama dengan air zam-zam.” Saya pun menimpali : “Iya mas sama, maksudnya sama-sama air sumurnya, bukan sama zam-zam-nya hehehe. Kamu harus meminumnya jika kamu ingin menjadi seorang peneliti sosial dan kebudayaan, ini bagian dari cara memahami tradisi secara terlibat. Jadi ini bukan soal cari berkah, tapi soal mentadaburi ayat Allah, kalau itu berujung berkah dari Allah, itu adalah bagian dari banyak-nya berkah yang telah dilimpahka Allah kepada kita yang jarang kita syukuri.” #Repost2017

No responses yet