Menurut Imam Ghozali, orang disiksa di alam kubur hingga di akhirat bukan semata karena kekufurannya. Tapi akibat hal yang menjadikannya kufur, yaitu terpautnya hati pada dunia.

Karena Gusti Allah dawuh

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Gusti Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang tertutup akalnya (kafir)” (An Nahl 107)

Karena terpautnya hati dengan dunia, menyebabkan tertutupnya akal. Tertutup akalnya, menutup pintu hidayah Gusti Allah. Sehingga bakal terus-terusan berakhlaq buruk. Ini yg jadi lantaran siksa kubur hingga akhirat.

Arti terpautnya hati dgn dunia (ta’allaqud dunya) ini bukan cuma mencintai dunia. Bahkan mencela dunia juga jadi tanda terpautnya hati dgn dunia. Karena dgn mencela dunia, muncul rasa gak ridho dgn qodho’. Ini juga satu bentuk kekufuran.

Siksaan itu mendekap dan membelit ruh, sehingga digambarkan seperti ular raksasa yang membelit dan meremas mangsanya. Karena hakikatnya, dekapan siksaan itu adalah perwujudan apa yang selama ini digeluti dan jadi pikiran. Yaitu hati yang terpaut dengan dunia, yang menjadikan keadaan jiwanya sumpek seakan di neraka.

Inilah rahasia firman Gusti Allah

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ¤ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

“Sekali-kali jangan begitu jika kalian semua memahami ilmu yaqin, pasti kamu sekalian akan melihat neraka Jahiim” (At Takaatsur 5-6)

Jadi, tiap-tiap kesumpekan kita akan dunia dalam hati itu bakal menjadi neraka jahiim yang menyiksa diri kita di dunia dan di akhirat. Maka untuk mengobatinya, kita harus mengetahui seluk beluknya dengan makrifat secara ilmul yaqin, yaitu mengaji dan belajar ilmu Gusti Allah pada ulama. Maka dijamin, kalo kita ngaji disertai pengamalan ilmu itu, kita bakal melihat sendiri neraka jahiim yang bersemayam dalam diri kita, sebelum kita sendiri memahaminya secara ainul yaqin.

Orang yang tidak menyadari adanya neraka jahiim yg bersemayam dalam dirinya, artinya dia membiarkan dirinya ditelan bulat-bulat oleh kesumpekannya (nerakanya) sendiri.

Inilah rahasia dawuh Gusti Allah

يَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

“Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Padahal sesungguhnya Jahannam itu benar-benar sedang mengepung orang-orang yang kafir” (Al Ankabuut 54)

Dalam ayat itu, Gusti Allah memakai redaksi محيطة (penyergapan secara menyeluruh, mengepung, meliputi dan menyelubungi seketika), bukan dgn redaksi ستحيط (rencana nanti bakal mengepung secara menyeluruh). 

Ini punya makna bahwa, bahkan di dunia ini, neraka itu sudah ada di dalam jiwa manusia yang punya keterpautan hati yg besar pada dunia. Jadi yg disebut neraka itu gak nunggu nanti, sekarang pun udah ada. Dan neraka itu sekarang berada dalam jiwa-jiwa yg gelisah dgn dunia. Dan neraka itu seketika kelihatan wujudnya saat ajalnya tiba.

Ini juga rahasia dawuh Gusti Allah 

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang yg dzolim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka” (Al Kahfi 29)

Dalam ayat ini, Gusti Allah memakai redaksi أحاط (mengepung saat itu juga), tidak memakai redaksi يحيط (Akan mengepung di esok hari).

Jadi, saat manusia itu disumpeki dunia, seketika itu tercipta neraka yang menyiksa jiwanya. Sehingga jiwanya terus bergejolak menutup akalnya. Sehingga insting kebinatangannya pun muncul, yaitu nuruti syahwat dan amarah.

Misal kita lihat mobil baru tetangga, trus jadi kepingin secara menggebu-gebu. Maka dalam jiwa seketika itu juga tercipta neraka. Jika kita gak menyadari hal itu, kita telah membiarkan diri dikepung neraka, jiwa pun jadi sesak dan gelisah mikir mobil. Akhirnya akal pun tertutup, akhirnya pergi ke dukun dan pelihara pesugihan.

Maka, kita harus benar-benar mau ngaji pada ulama, mbah. Agar kita bisa melihat diri kita sendiri, mengawasi diri kita sendiri dan kita gak keblusuk kesumpekan dunia. Agar tidak tercipta neraka dalam diri kita. Andai udah terlanjur tercipta, kita bisa belajar bagaimana memadamkan neraka di dalam jiwa kita. Sehingga hidup dan mati kita bisa plong los gak rewel.

Semoga kita diberi pertolongan,

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *