Minimal 5 kali dalam sehari semalam umat Islam membaca shalawat Ibrahimiyah, yaitu di setiap melaksanakan shalat, tepatnya ketika tahiyat akhir. Shalawat ini juga banyak disampaikan oleh para ahli, baik lewat lisan maupun tulisan. Namun mereka lebih banyak menekankan pada aspek lafal dan keuatamaan membacanya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْراهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَاركْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آل سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allohumma sholli ‘alaa sayyidina muhammadin wa’alaa aali sayyidina muhammadin kamaa shollaita ‘alaa sayyidina ibraahiima wa’alaa aali sayyidina ibrahiima wabaarik ‘alaa sayyidina muhammadin wa’alaa aali sayyidina muhammadin kamaa baaraqta ‘alaa sayyidina ibraahima wa ‘alaa aali sayyidina ibraahima, fil ‘aalamiina innaka hamiidun majiidun

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Disepakati kesahihannya

Setiap Muslim pasti mengenal dan hafal Sholawat Ibrahimiyah. Shalawat Ibrahimiyah merupakan shalawat yg ma’tsur berasal langsung dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, karena memang ada hadits shahih yg meriwayatkan tentang shalawat tersebut. Selain itu, shalawat Ibrahimiyah juga merupakan shalawat yg sangat utama karena digunakan dan diamalkan dalam setiap shalat baik itu shalat fardhu maupun shalat sunnah. 

Para ulama banyak yg mengistimewakan sholawat ini, karena adanya kesepakatan atas sahih-nya riwayat hadits ini. Diantaranya para ahli hadits ialah Imam Malik dalam kitab Muwaththa’, Imam Bukhari dalam Shahih Bukhori, Imam Muslim dalam Shahih Muslim. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, al-Hafidz al-’Iraqi dan al-Hafidz as-Sakhawi juga meriwayatkannya. Beliau para ahli hadits menyatakan bahwa hadits tentang Sholawat Ibrahimiyah telah disepakati kesahihannya.

Dalam kitab Afdhalush Shalawat ‘alaa Sayyidis Saadaat dijelaskan sbg berikut:

هذه الصلاة هي أكمل صيغ الصلوات على النبي صلى الله عليه وسلم المأثورة وغيرها ولذلك خصوا بها الصلاة للاتفاق على صحة حديثها فقد رواه مالك في الموطأ والبخاري ومسلم في صحيحهما وأبو داود والترمذي والنسائي

Artinya: “Shalawat ini merupakan sighat shalawat yg paling sempurna kepada kanjeng Rasul Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik yg datang dari kanjeng nabi ataupun dari para ulama. Karena itu para ulama mengkhususkan dan mengistimewakan shalawat Ibrahimiyah ini karena adanya ittifaq atau kesepakatan atas keshahihan hadits tentangnya.

Kitab Afhdhalush Shalawat juga menjelaskan mengenai perkataan Al-Hafidz Al-Iraqi dan al-Hafidz As-Sakhawi yg menyatakan bahwasannya hadits ini telah disepakati tentang keshahihannya. Dalam kitab Afdhalush Shalawat ‘Alaa Sayyidis Saadaatdisebutkan sbg berikut:

وقال الحافظ العراقي والحافظ السخاوي أنه متفق عليه ذكر ذلك الشيخ في شرح دلائل الخيرات وغيره وقد ورد في ألفاظها روايات هذه إحداها وهي رواية الإمام البيهقي وجماعة كما في شرح الدلائل للفاسي

Artinya: “Al-Hafidz al-Iraqi dan al-Hafidz as-Sakhawi menyatakan bahwasanya hadits ini telah disepakati tentang keshahihannya. Demikianlah Syaikh telah menyebutkan dalam kitab Syarah Dalail al-Khairat dan dalam kitab lainnya. Lafadz shalawat ini diriwayatkan dalam beberapa jalur dan lafadz ini adalah salah satu di antaranya, yaitu yg diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi rahimaahullah dan beberapa imam Hadits lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Syarhud Dalaail oleh Imam Al-Fasi.”

Mengapa dua nama nabi

Barangkali selama ini, kita hanya menghafal dan melantunkannya, di setiap shalat dan dalam waktu2 tertentu. Mungkin, tidak pernah terbesit, mengapa nama Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersanding dgn Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, tidak nabi2 yg lain.

Empat Syaikh Nawawi Banten 

Syekh Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin Umar At-Tanara al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah (1813 -1897 M Jannatul Mualla Mekkah, Arab Saudi), dalam kitab Murah Labib Tafsir an-Nawawi atau tafsir Al-Munir, menjelaskan, ada empat hal yg menjadi alasan mengapa Nabi Muhammad bersanding dengan Nabi Ibrahim.

PERTAMA, sesungguhnya Nabi Ibrahim alaihis salam berdoa teruntuk Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dgn doa ini (shalawat Ibrahimiyah). Karena hal inilah Allah subhanahu wa ta’ala, menggerakkan lisan umat Nabi Muhammad senantiasa menyebut nama Nabi Ibrahim sbg bentuk balasan kebaikan teruntuk Nabi Ibrahim. 

KEDUA, Nabi Ibrahim pernah berdoa “Ya Allah jadikanlah untukku sebutan yg baik pada umat terakhir, yakni dari umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.” Dan Allah mengabulkan doa tsb, sehingga menyambung penyebutan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim sebagai pujian yg baik dari umat Nabi Muhammad untuk Nabi Ibrahim. 

KETIGA, sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah bapak dari aspek agama (abu millah), sedangkan Nabi Muhammad adalah bapak dari aspek rahmat (abu rahmah). Maka wajib bagi setiap Muslim menjadikan mereka sbg sifat bapak, dan menyebutnya secara bersama dalam setiap pujian dan shalat.

KEEMPAT, Nabi Ibrahim mengajak umat melaksanakan ibadah haji, sedangkan Nabi Muhammad mengajak kepada iman. Maka Allah mengumpulkan keduanya dalam sebutan yg baik.

Menurut Imam Al-Aini Al-hanafi

Al-Allahmah Abu Muhammad Mahmud ibn Ahmad ibn Musa Badruddin al-‘Aini al-hanafi atau Syaikh Badrudin Al-Aini rahimahullah (30 Juli 1361 M Turki – 28 Desember 1451 M Kairo, Mesir), dalam kitab Syarah Sunan Abi Daud, memiliki pandangan lain dalam masalah ini, dia berkata, Jika ada yg bertanya, mengapa Nabi Ibrahim alaihissalam dikhususkan penyebutannya dalam shalat dibanding nabi2 yg lain?

Saya katakan, “Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat di malam Isra Mi’raj, seluruh nabi dan rasul memberi salam kepadanya, tidak ada ada seorang pun di antara mereka yg memberi salam kepada umatnya selain Nabi Ibrahim alaihis salam. Maka kita diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk bershalawat kepadanya di akhir setiap shalat hingga hari kiamat, sebagai balasan atas kebaikannya.

Ada yg mengatakan bahwa Nabi Ibrahim alaihis salam ketika selesai membangun Ka’bah, beliau mendoakan umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Dia berkata, “Ya Allah, siapa yg menunaikan haji di Baitullah dari umat Muhamad, sampaikan salamku kepadanya. Demikian juga dia memerintahkan keluarga dan anak2nya untuk berdoa dgn doa tsb. Maka kami diperintahkan untuk menyebut mereka dalam shalat sbg balasan atas kebaikan mereka.”

Syarah Mukhtasar Abi Jamrah

Dalam syarah kitab mukhtashar bin aby jamrah yg telah di-nash oleh beliau sesungguhnya dikhususkannya penuturan Nabi Ibrahim As dan keluarganya dalam shalawat karena ada dua wajah :

1. Yang pertama sesungguhnya Nabi Muhammad ‘alaihi shalaatu wassalam pada malam isra dan mi’raj, beliau melihat para Nabi, lalu beliau mengucapkan salam pada mereka, namun tidak ada satupun dari mereka yg mengucapkan salam pada umat Nabi Muhammad selain Nabi Ibrahim alaihis salam, maka Nabi kita memerintahkan kepada kita agar kita bershalawat kepada beliau (Nabi Ibrahim) dan keluarganya disetiap akhir shalat sampai hari kiamat sbg balasan kebaikan untuk beliau.

Dari ibarot di atas ada yang kurang lebih artinya ” karena rahmat dan barokah tidak terkumpul pada Nabi selain Nabi Ibrahim alaihis salam ” Maksudnya tulisan rahmat dan barokah dalam al-Qur’an, kedua kata itu dijumpai ditulis serangkai hanya pada Nabi Ibrahim. Kalimat ‘alaikum’ di ayat itu untuk keluarganya Nabi Ibrahim.

رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ

2. Yang kedua Sesungguhnya Nabi Ibrohim manakala selesai dari membangun baitullah duduk beserta keluarganya, maka beliau menangis seraya berdo’a, beliau berkata : Yaa Allah barang siapa yg berhaji akan rumah Engkau ini (di tempat ini) dari golongan yg tua2 dari umat Muhammad maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka berkata ahli keluarganya Amiin, berkata Ishak, ya Allah barang siapa yg berhaji di rumah Engkau ini, dari golongan yg setengah baya dari umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka keluarganya berkata Amiin, kemudian berkata Ismail ya Allah barang siapa berhaji di rumah Engkau ini para pemuda dari golongan umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka keluarganya berkata Amiin, maka berkata Sarah ya Allah barang siapa berhaji di rumah Engkau ini golongan perempuan dari Umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka keluarganya berkata Amiin, maka berkata Hajar ya Allah barang siapa berhaji di rumah engkau ini para maula (majikan) dari golongan umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka keluarganya berkata Amiin, manakala telah terdahulu dari mereka oleh yg demikian itu (ucapan salam) maka kita diperintahkan dengan shalawat atas mereka sebagai balasan bagi mereka.

Dalam tasyahud akhir, dianjurkan membaca shalawat Ibrahimiyah atau sholawat kamilah. Menurut Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i atau Imam Nawawi rahimahullah (1233 – 1277 M Nawa, Suriah) dalam kitab Al-maqashid, shalawat kamilah merupakan bentuk shalawat paling utama yg perlu dibaca dalam tasyahud akhir. 

Yang menarik dari shalawat ini adalah betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat memuliakan:

1. Nabi kita Muhammad SAW.

2. Keluarga, para istri dan keturunan beliau yaitu para sayyid, habib dan syarifah. Betapa besar murka Allah kepada orang2 yg membenci, memusuhi, menyakiti dan menzhalimi  istri2 beliau, keluarga dan anak keurunan beliau.

3. Nabi Ibrahim As

4. Keluarga Nabi Ibrahim As.

summarized from various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *