Setelah berulang kali diadakan reformasi kepengurusan, sampailah pada tahun 1974 KH. Nawawi Muhammad secara resmi ditunjuk sebagai Ketua Ta’mir Masjid Agung Sunan Ampel, dengan kedudukan ini secara tidak langsung beliau melanjutkan tugas almarhum ayahanda beliau, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Ta’mir Masjid Agung Sunan Ampel, sebelum tugasnya itu dilimpahkan kepada Kiai Ibrahim Said.

Dalam menjalankan dan menjabat sebagai ketua ta’mir Masjid Agung Sunan Ampel beliau amat berhati-hati dalam bertindak, tidak terkesan semaunya sendiri, selalu memusyawarahkan dengan ulama sebagai piranti terkait terhadap perubahan atau ide yang hendak beliau terapkan. 

Salah satu perubahan kecil yang beliau prakarsai yaitu adanya hadrah ISHARI yang beliau sertakan dalam peringatan Haul Agung Sunan Ampel, yang sebelum-sebelumnya tidak pernah disertakan sama sekali, dalam hal ini beliau memusyawarahkan ide beliau tersebut kepada KH. Muhammad bin Yusuf selaku nadhir, dan KH. Muhammad bin Yusufpun menjawab secara simbolik informasi beliau tentang pelibatan hadrah dengan jawaban, “Kalau dirimu menganggap hadrah sebagai Ludruk, ya jangan mengundang…” Dengan demikian sampai detik ini di mana diberlangsungkannya acara haul Sunan Ampel hadrah ISHARI turut pula disertakan.

Masih dalam etape-etape  pelaksanaan haul, tercermin bahwa beliau merupakan sosok pribadi yang selalu menghargai dan tidak menghilangkan jasa para pendahulunya, ini tertransformasi dalam wujud arak-arakan (parade hadrah) yang berangkat dari Kampung Margi menuju Ampel melewati Jl. KH Mas Mansur – Ampel Maghfur – Gubah – hingga berahir di Masjid Agung Sunan Ampel untuk kemudian langsung menuju Makam Sunan Ampel baru kemudian prosesi tahlil. 

Beliau tahu dan memahami bahwa dulu Kampung Margi merupakan tempat berkumpulnya para ulama dari kalangan ‘Alawiyyin, dan mereka semua adalah ulama-ulama ‘alawiyyin yang senantiasa mendedikasikan diri dalam dakwah dengan Sunan Ampel sebagai qiblatudda’wah, sentral dakwah, ataupun bingkai dakwah yang membingkai kiprah mereka agar tidak jauh dari metode dakwah yang diterapkan Sunan Ampel di Nusantara.

Mereka kumpulan ulama-ulama yang berdarah Arab yang amat memposiskan Sunan Ampel sebagai inspirator dakwah di tengah kemajemukan bermasyarakat dan berbangsa, oleh karenanya beliau mengagendakan kirap selalu diawali dari Kampung Margi yang berlaku hingga kini, dengan melibatkan kelompok hadrah dari berbagai daerah, dan lantunan qoshidah solawat yang seakan menggiring jiwa kita ke pada nuansa kesakralan dengan balutan rasa yang kental dengan semangat perjuangan.

      Di periode awal keta’miran beliau pada tahun 1976 suatu peristiwa besar terjadi pada saat itu, yaitu ishlah nya kedua kubu yang kerap berseteru hingga sering terjadi pertikaian dan pertumpahan darah dari kedua belah kubu yang bertikai di wilayah Madura, yang terkenal dengan istilah “Barat-Timur”, beliau beserta para ulama yang ada pada saat itu yang di antaranya terdapat KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Muhammad bin Yusuf dan lainnya, serta dari kalangan birokrat turut pula hadir pada saat itu Gubernur Jawa Timur M. Nor, beserta jajarannya, adalah saksi dari perjanjian damai kedua kubu tersebut, di Masjid Agung Sunan Ampel.

     Beliau merupakan sosok ulama yang sangat menghindari kepopuleritasan, dan beliaupun juga sosok ulama yang sederhana, santun, tawadlu’, dan waro’, non eksklusif serta jauh dari ananiyah (rasa ke-aku-an), keilmuwanannya mutabahhar (luas layaknya samudra), beliau ulama yang intuisif dan inspiratif, banyak hal yang khowariqul-‘adah memancar dari keagungan kepribadiannya, beliau pun figure yang hubbul-masakin (sangat menyayangi orang-orang yang luluh hatinya), dalam mendatangi undangan seseorang beliau sama sekali tidak berpatokan pada finansial dan beliau mewarisi sebuah ungkapan “wa idha da’áhul-miskínu ajábahu”. 

Beliaupun sangat memanusiakan manusia sebagai mana manusia, dalam bertutur kata beliau sangat berhati-hati agar tidak menyakiti hati dan perasaan seseorang, disamping itu beliau juga sosok yang moderat, dinamis, konstruktif, tidak lepas dari azas manfa’at tapi juga tidak lepas dari frime “dar’ul-mafásid muqoddamun ‘ala jalbil-masholih”, yang berada dalam bingkai  ahlussunnah waljama’ah.

Karena kehumulan (penghindaran dari populeritas) beliau inilah sehingga kiprah dan jasa beliau yang sebetulnya amat banyak, tidak terekspose dan tidak banyak diketahui halayak saat itu.

       Dalam menjalankan dakwahnya di mana beliau berpijak, tidak sedikit kendala dan tantangan kerap kali menghampiri beliau, akan tetapi beliau tidak putus asa. Sering kali beliau di saat menghadapi peliknya masalah dan sulit dipecahkan serta tidak ada orang yang bisa memberi solusi, maka sering kali pula permasalahan tersebut beliau musyawarahkan dan beliau haturkan kepada sunan Ampel, hingga tak jarang sunan Ampel menemui dan menampakkan diri pada beliau dengan segala solusi yang ada, hal ini sering kali terjadi, terutama disaat renofasi masjid yang tidak kunjung selesai, dengan izin Allah tersentuh pula hati salah seorang konglomerat yang kondang di era Orde Baru H. Probosutejo untuk berkeinginan memberikan batuan penyelesaian pembagunan tersebut, namun hal ini tidak serta merta beliau langsung menerima begitu saja, tapi beliau musyawarahkan dulu kepada sunan Ampel, dan hasilnya adalah diperkenankannya bantuan tersebut hingga pada ahirnya selesailah pembangunan tersebut.

Pernah dalam suatu kondisi di mana saat itu banyak beberapa dari kelompok yang bisa jadi mereka entah merupakan korban dari halusnya suatu konspirasi atau memang mempunyai cara pandang dan pijakan lain sehingga beberapa kelompok dari kalangan tertentu hendak mereformasi kepengurusan masjid secara paksa, terlebih status keta’miran beliau. Berita tersebut sangat santer dan seakan menggerilya di blantika kelompok sayap kanan yang seakan sengaja dihembuskan dan diciptakan seperti itu, demi terjadinya suksesi ketakmiran.

Dalam fitnahan yang demikin merebak dimasyarakat tersebut, datanglah almarhum almaghfurlah Habib Segaf bin Mahdi Bin Syeh Abu Bakar Parung Bogor, yang saat itu beliau masih tinggal di Ampel Maghfur bertetangga dengan almaghfurlah KH. Nawawi Muhammad, menemui beliau untuk membantu dengan menawarkan jasa dalam bentuk “orang-orang yang siap untuk memporak-porandakan kelompok yang kontra terhadap beliau”, entah Habib Segaf bin Mahdi tersebut mendapat injeksi yang bersifat konspiratif dari pihak-pihak tertentu dalam skala skenario besar saat itu atau tidak, wallohu a’lam… yang jelas saat itu Ampel merupakan barometer keIslaman di Jawa Timur dan sekitarnya.

Mendapat tawaran tersebut dengan tegas dan dengan penekanan suara yang mantab kiai menjawab, “Tidak, bib…, saya tidak takut pada siapapun…, saya hanya takut pada Allah…, tauhid dan aqidah saya pada Allah tidak boleh digoyahkan oleh apapun…” 

Mendengar jawaban Kiai yang tidak pernah beliau mendengar kata-kata dari kiai selama beliau akrab dengan kiai setegas dan penuh penekanan kata, seperti saat itu, maka saat itu pula almaghfurlah Habib Segaf bin Mahdi merasa benar-benar bergetar hatinya dan merasa takut bercampur dengan ta’ajjub/salut, atas kuatnya tauhid dan prinsip yang menyatu pada diri kiai, bercampurnya berbagai rasa pada diri almaghfurlah Habib Segaf pada saat itu hingga seakan beliau merasa “kecil” di hadapan kiai.

(bersambung)

sumber: FB Kawijayan

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *