Belajarlah pada Muhammadiyah dan NU — kenapa dua organisasi besar ini bisa bertahan puluhan tahun bahkan sudah seabad lebih. Muhammadiyah dan NU adalah buah karomah dua ulama sakti, maka jangan diubah, bila tidak ingin hilang sirna. 

*^^^^*

Dalam urusan dakwah dua nama besar ini jaminan mutu— sudah teruji dan terbukti.  ribuan masjid, sekolah, pesantren, rumah sakit, bait amal, panti asuhan, berdiri kokoh dengan jumlah pengikut puluhan juta. Lantas apalagi yang mau dinafikkan ? 

Ini bukan soal nama. Apalagi sebatas cara. Tapi branding. Ibarat makanan. Mungkin ia adalah gudheg bagi yang tinggal di Jogja atau rawon dan rendang bagi yang tinggal di sekitaran Malang-Surabaya atau Padhang. Menu itu tak lekang oleh panas dan tak lapuk karena hujan. Gempuran menu cepat saji tak mampu menggoyang ke-digdaya -an gudheg, rawon atau rendang. 

Carl Whyterington menyebut bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang diberkati — bukan hanya bisa bertahan tapi juga terus berkembang membesar melampaui jamannya. Nakamura juga kurang lebih sama ketika menarasikan gerakan Islam yang lahir di Kotagedhe Kauman jogja ini. 

Robbin Bush menulis cerdas tentang kekecualian NU. Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti textbook. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa, sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu.

*^^^^*

Saya menyebut Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim Asy’ari adalah kyai waskito mampu membaca tanda-tanda jaman dengan tepat— 

Muhammadiyah dan NU adalah buah karomah dari dua orang wali besar tanah Jawa — penganjur dan pendakwah Islam dengan jejak fenomenal. 

Disain yang digagas dua ‘kyai besar’ tanah Jawa ini cukup ampuh melawan berbagai hambatan, bahkan terus bertahan dan berkembang melampaui pikiran. Seperti sepasang sejoli saling melengkapi dan menggenapi, keberadaannya begitu signifikan dan mewarnai wajah Islam Indoenesia yang humanis dan indah dibanding dari negeri asalnya tutur Dr Alfian ketua LIPI tahun 80 han. 

HTI bahkan diusir pergi  dari negeri asalnya — pun dengan FPI tak cukup mampu bertahan karena tidak adaptif dan tak punya daya imun. Keduanya bukan saja ditolak bahkan dibubarkan karena tak sehaluan. Butuh waktu lama dan kerja keras untuk kembali menghidupkan. Lainnya juga sama. Tidak ormasnya, tidak partai politiknja, hanya riuh di awal, mati kemudian. 

*^^^*

Lantas bagaimana dengan partai umat dan kammi — saya tak sedang membahasnya, meski sejak dulu saya telah meragukannya, hanya sekedar bertanya — di mana sekarang keduanya berada ? 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *