Habis Jum’at, kita diperintah buat kerja. Bahkan ada ulama yang sekedar keluar ke pasar sebentar demi mencicipi barokahnya bekerja sehabis sholat Jum’at. Karena ikut dawuh Al Qur’an.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Gusti Allah dan ingatlah Gusti Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (Jumu’ah 10)
Karena orang gak bekerja itu kemlaki. Dari sisi manapun salah. Alasan apapun, sulit diterima oleh syariat. Kalo ada yg sok-sokan ngaku maqom tajrid, ya kudu dapet pengesahan dari gurunya, gak ngaku-ngaku sendiri.
Syaikh Nawawi dalam Kasyifatus Saja dawuh, sebagian dari orang ahli makrifat berkata, “Orang yang tidak bekerja disebabkan oleh tiga alasan: malas, sibuk bertakwa, atau takut celaan dan congkak :
- Orang yang tidak bekerja karena malas pasti menjadi pengemis.
- Orang yang tidak bekerja karena sibuk dengan ketakwaan pasti akan tamak terhadap milik orang lain, dan akan makan dari hasil menjual agamanya yang makanan tersebut hukumnya haram.
- Orang yang tidak bekerja karena takut gengsinya jatuh dan karena congkak pasti akan mencuri.
Nah, itu semua bahaya orang gak kerja. Sedapat mungkin kita kerja untuk mencari rahmat. Karena bekerja itu barokahnya gede.
Jadi ayo kerja, mbah. Jangan malas ya.

No responses yet