Saya belum pernah nyantri di Krapyak maupun ngaji langsung kepada Kiai Ali. Tapi sebagian besar guru2 saya adalah murid beliau dan pernah nyantri di Krapyak. Di luar itu, sejak kecil sosok Kiai Ali sudah saya kenal dari kedua orangtua saya. Ayah adalah santri beliau di Krapyak (sekitar tahun 1938) dan mengabdi di ndalemnya sejak Kiai Ali diambil menantu Mbah Munawwir.

Saya juga sering mendengar kisah dari ibu, tentang hubungan murid –guru, antara ayah saya dengan kiai Ali yang begitu dekat. Meski sudah berumah tangga, ayah masih sesekali bertandang ke Krapyak.  Sering timbulnya khilafiyah masalah agama di lingkungan kami yg Muhammadiyah, menjadikan ayah punya jadwal khusus ke Krapyak utk ngaji kepada guru utamanya itu.

Hal yang masih saya ingat, saat ayah berpulang ke haribaanNya (1978), pagi buta selepas Subuh Kiai Ali sudah datang ke rumah bersama rombongan. Selesai mensalatkan dan berdoa, seperti yg dituturkan ibu saya, Kiai Ali mendekati jenazah ayah dan sayup-sayup lirih terdengar beliau berucap sambil menyentuh jenazah,

“ Mad, mad. Awakmu isih enom kok wis ndisiki.” ( Mad, kamu yang masih muda kok mendahului /meninggal lebih dahulu).

Kiai sekaliber beliau (waktu itu Rais Am/th 1984), masih juga menyempatkan datang ke pernikahan sederhana kakak saya dan memberi mauizhah Hasanah. Sebuah kehormatan yang mungkin tak pernah terbayangkan. Tapi begitulah Kiai Ali.  Beliau dekat dengan siapapun, penuh rasa hormat, hingga setiap orang yang pernah bersinggungan dengan beliau akan mendaku sebagai orang dekatnya.

Waktu mondok di Tremas, saya sering melihat beliau berkunjung dan selalu pagi buta. Seperti biasa, Kiai Habib selalu memberi “karpet merah” kepada mantan Direktur Madrasah Nizhamiyah Pondok Tremas tsb dan meminta Kiai Ali memberi wejangan di hadapan para santri fi serambi masjid. Yang terjadi selanjutnya bukanlah siraman rohani atau ceramah gaya ustaz zaman milenial sekarang, tapi kelakar dan gojlogan ala pesantren yg keluar dari wejangan Kiai Ali maupun sambutan Kiai Habib. Menarik. Meski hanya bernostalgia, bercerita tentang hal-hal kecil, selalu terselip pesan hikmah yg luar biasa.

Di akhir hayatnya, saat beliau ngunduh Muktamar NU tahun 1989, menjadi saat terindah saya bisa sowan ke Krapyak. Berkesempatan mencuri pandang wajah teduh Kyai Ali saja rasanya mak nyes, apalagi sampai disapa. Meski tak berani menatap dan hanya menunduk, ada rasa damai yang tak terbeli. Saya hanya bisa membatin, “beruntung sekali orang2 yg bisa selalu dekat dengan para kekasih Allah seperti Kiai Ali ini.” 

Meski dalam kondisi sakit, keramahan beliau dalam menyambut para muktamirin membuat setiap orang menitikkan airmata. Airmata bahagia sekaligus kesedihan melihat junjungan mereka duduk tak berdaya.

Saat menjelang wafatnya, saya juga sempat besoek ke RSUP Sardjito. Meski tak bisa masuk bangsal dan hanya bercengkrama dengan Gus Kelik (alm), saya sudah merasa bahagia bisa meneruskan ikatan batin dan hubungan emosional murid-guru yang diwariskan ayah saya.

________

Mengenang laku Mbah Kiai Ali seolah kita sedang bertadarus, mengulang kembali ajaran laku beliau. Meski memiliki samudera ilmu yg maha luas, Kiai Ali adalah contoh nyata sosok ulama bersahaja dan egalitarian yang belum tergantikan.

Lahu walahum Al-Fatihah.

Ket. : Foto diambil dari status mas Akhadeyya

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *