Saya tidak ingat umur berapa saya menyadari kalau teman saya sebenarnya sambat tentang hidupnya. Tetapi yang jelas tidak seperti si Azam yang baru klas 5 sudah harus memikirkan nasib temannya secara serius. Selepas ashar dia bermain di teras rumah dengan teman-teman nya. Seorang temannya kemudian bercerita kepada Azam kalau hampir setiap hari dia berbuka dan sahur hanya dengan lauk mie instan. Setelah temannya pulang segera dia bercerita kepada ibunya dan kebetulan saya mendengar. “Bu kasihan temanku si ‘A’ setiap hari dia berbuka dan sahur hanya  dengan lauk mie instan. Apa kita nggak bisa kasih ikan lauk untuknya?”

 Entah kenapa tiba-tiba aku tersentak, malu dan menangis mendengar permintaan si azam. Segera ibunya membuka lemari dan menyuruh si Azam mengantar sambal goreng kentang yang dipesan di awal puasa kemarin. Si Azam bergegas naik sepeda mengantar ke rumah temannya. Tak berapa lama dia kembali dan berujar “Ayah rumahnya tutup, kayaknya keluar semua satu keluarga.”

Aku jadi teringat kisah santri tua iqra yang dulu setiap Ramadhan selalu mencari takjil di masjid untuk berbuka. Terkadang temannya yang setia membawakan bungkusan nasi dari sisa berbuka di masjid Al falah Surabaya. Sekarang santri itu sudah cukup kaya dan bermobil Alhamdulillah. Aku sedih karena sekarang di masjid kami tidak ada lagi takjil dan buka bersama dan juga tidak lagi mengagendakan sahur bersama karena Corona. Padahal seringkali anak-anak dari keluarga sederhana sangat ceria menanti moment tersebut. Semoga keluarga teman si Azam mau memaafkan kami yang masih kurang peduli. Karena sebelum ramadhan masjid kami hanya bisa membagikan beras dan minyak yang mungkin hanya cukup untuk makan seminggu. Sementara untuk lauk pauk kami belum bisa memberi. Ya Rabb ampunilah kami dan jauhkan kami dari musibah karena ketidakmampuan kami mematuhi MU untuk membantu orang miskin. #SeriRamdhanAzam

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *