Jibril dan Siti Khadijah
Suatu hari, saat Nabi sedang berdiri di atas gunung : “Jabal Nur”, Malaikat Jibril menampakkan diri di hadapannya, dan mengatakan : “Selamat atas anda, Muhammad. Aku Jibril dan anda adalah utusan Tuhan kepada umat ini”. Ia merengkuh tubuh Nabi sambil mengatakan : “Bacalah !”. Muhammad saw. Menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. “Bacalah !”, katanya lagi. Muhammad mengulangi jawaban yang sama. Jibril lalu menarik dan mendekapnya dengan cukup keras sampai menyulitkan beliau bernapas. Setelah dilepaskan, Jibril mengulangi lagi perintahnya dan dijawab dengan jawaban yang sama. Pada yang ke empat kalinya Muhammad saw kemudian mengucapkan kalimat suci ini:
إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantaraan) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”, (S.Q. Al ‘Alaq, 1-5).
Begitu selesai, sosok misterius itu menghilang entah ke mana. Muhammad tetap merasa ketakutan. Tubuhnya menggigil. Keringat dingin mengalir deras dari pori-pori tubuhnya. Beliau bergegas pulang menemui Khadijah, isterinya, dengan hati yang diliputi rasa galau, cemas dan takut. Katanya: “Selimuti aku, selimuti aku, sayangku”. Khadijah segera menyelimuti seluruh tubuhnya rapat-rapat sambil menenangkannya. Setelah rasa takutnya mereda, beliau lalu menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya dan mengatakan: “Aku takut diriku, sayang, aku takut”. Khadijah mengatakan dengan lembut, membesarkan hatinya :
كَلّا. أَبْشِرْ فَوَ اللهِ لَا يُخْزِيكَ اللهُ اَبَداً, وَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِى الضَّيْفَ, وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Tidak, sayangku. Demi Allah, Dia tidak akan pernah merendahkanmu. Engkaulah orang yang akan mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia, memikul beban penderitaan orang lain, bekerja untuk mereka yang papa, menjamu tamu dan menolong orang-orang yang menderita demi kebenaran”.
Khadijah, perempuan lembut, penuh kasih dan arif itu kemudian menghubungi putra pamannya, Waraqah bin Naufal. Ia adalah seorang pendeta Nasrani dan penafsir terkemuka Bible; Kitab Taurat dan Injil. Ia memahaminya dalam bahasa Ibrani yang fasih. Kepada sepupunya ini, Khadijah mengatakan: “Tolong dengarkan apa yang disampaikan sepupumu”. Lalu Nabi saw menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya. Waraqah sangat mengerti soal itu. Tanda-tanda kenabian telah dipahaminya dengan baik dari sejarah para Nabi sebelum Muhammad. Ia mengatakan: “Muhammad, itulah Namus yang pernah turun kepada Nabi Musa as. Kau akan menjadi utusan Tuhan. Kau akan didustakan, disakiti, diusir dan dibunuh. Kalau saja aku masih muda dan kuat, aku pasti akan membelamu, manakala kaummu mengusirmu”. Rasulullah saw menanyakan: “Apakah mereka akan mengusirku ?”. “Ya, dan tak ada seorangpun yang sanggup menanggung beban berat seperti yang kamu tanggung”, jawab Waraqah.
Bangkitlah. Lakukan Transformasi
Mendengar kata-kata pendeta Waraqah bin Naufal itu, Nabi tertegun dengan wajah tertunduk. Hatinya masyghul, gundah gulana bukan kepalang. Ia tak dapat membayangkan peristiwa yang akan terjadi terhadap dirinya kelak, bagaimana dia akan bisa hidup di luar daerahnya dan dalam keadaan sebagai orang yang dikejar-kejar, bagai penjahat besar yang menjadi buronan polisi.
Sesudah itu untuk waktu yang cukup lama wahyu tidak lagi turun. Nabi dibiarkan untuk sementara sampai diharapkan mentalnya menjadi kuat. Lalu merindukannya. Ketika sedang berjalan-jalan di Makkah, Nabi saw mendengar suara yang memanggil-manggil namanya dari arah langit. Manakala matanya dipalingkan ke arah suara itu, ia melihat sosok misterius yang pernah dilihatnya di gua Hira, beberapa waktu yang lalu. Ia bergegas kembali menemui isterinya dan meminta dia menyelimutinya lagi. Tetapi Tuhan segera menurunkan wahyu-Nya melalui sosok tadi, Jibril;
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنْذِرْ.وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ.وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ. وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرْ. وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ.
“Hai orang yang berselimut. Bangunlah dan berikan peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi seraya berhasrat imbalan yang lebih banyak. Dan untuk Tuhanmu, bersabarlah”. (Q.S. Al Muddatstsir, 1-7)
Mendendar wahyu ini dada dan jiwa Nabi berdebar-debar. Ia lepaskan selimut terus berdiri. Tuhan sudah memerintahkannya untuk segera bergerak melakukan transformasi kebudayaan dunia. Membebaskan manusia dari “dunia gelap” menuju “dunia bercahaya”. Dunia gelap bermakna dunia tak berpengetahuan sekaligus sarat kerusakan sosial. Dunia bercahaya bermakna dunia berpengetahuan dan berkeadilan.
Ayat ini menarik sekali. Kata-kata di dalam mengandung makna yang indah. Kata “Wa Tsiyabaka Fa Thahhir” (cucilah pakaianmu), bermakna :
لا تلبسها على معصية ولا على غدرة
Jangan kau kenakankan pakaianmu untuk kemaksiatan dan menipu orang.
Seorang penyair Arab mengatakan :
اذا المرء لم يدنس من اللؤم عرضه
فكل رداء يرتديه جميل
“Jika kehormatan seseorang tak tercela
Maka apapun pakaian yang dikenakannya niscaya tampak indah”.
Kata “wa al-Rujza Fahjur” pada umumnya dimaknai : tinggalkan berhala-berhala itu. Tetapi ada tafsir lain yang menyebutkan :
كل ما اوجب لك العذاب من الاعمال فاهجر
“Segala tindakan/perbuatanmu yang meniscayakan siksaan Allah, tinggalkanlah”.
Dan kata “wa li Rabbika Fa Ishbir”. Ia bermakna :
اجعل صبرك على اذاهم لوجه ربك
Bersabarlah dalam menghadapi kekerasan mereka. Jadikan perjuanganmu menegakkan keadilan dan kemanusiaan itu hanya karena Allah saja.
29.05.19
Repost, 29.04.21
HM

No responses yet