Oleh: Hilma Sa’adah (Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang)
Dalam sejarah peradaban manusia diketahui bahwa Nabi Muhammad merupakan salah satu sosok yang paling terkenal di muka bumi ini. Di kalangan kaum Muslim sendiri beliau merupakan seorang suri tauladan yang bahkan uswah hasanah-nya termaktub dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Juga dalam suatu ayat, Allah memuji keagungan akhlak Rasulullah. Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi dan orang-orang yang beriman pun juga diperintahkan untuk melakukan hal serupa sebagai penghormatan kepada Nabi.
Atas perintah tersebut kegiatan bershalawat kepada Nabi menjadi kegiatan yang banyak dilakukan oleh umat Islam dan bahkan di beberapa daerah telah melahirkan tradisi-tradisi tertentu dengan kegiatan bershalawat sebagai “bintang utamanya”. Shalawat selain sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad saw juga menjadi bukti rasa sayang dan cinta dari seorang umat kepada beliau. Pun sebagai ungkapan rasa rindu dari umat kepada junjungannya, bahkan dari mereka yang tak pernah bersua.
Di Indonesia sendiri, kegiatan bershalawat rutin dilakukan oleh masyarakat muslim baik di lingkungan pesantren maupun lingkungan masyarakat awam yang biasanya bertempat di masjid atau langgar-langgar desa. Setiap malam Senin atau malam Jum’at atau setidaknya setahun sekali pada tanggal 12 Rabi’ul Awal umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi dengan membaca sajak-sajak shalawat karya ulama-ulama terdahulu. Kegiatan yang demikian biasa disebut sebgai peringatan maulid Nabi.
Mengenai hal ini penulis mendapati suatu manuskrip berisi do’a-do’a serta shalawat pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw yang sekaligus dapat dijadikan salah satu bukti bahwa shalawat telah dikenal oleh masyarakat Nusantara sejak dahulu. Manuskrip tersebut penulis temukan pada koleksi digital perpustakaan British dengan judul manuskrip “mawlid sharaf al-anam” dengan kode Or 16873 yang dapat diakses melalui link http://www.bl.uk/manuscripts/FullDisplay.aspx?ref=Or_16873 . Manuskrip bercover hitam tebal tersebut berdimensi 330 x 205 mm, berbahan kertas Belanda (Dutch paper), dengan watermark ‘Hollandia J H’, ‘C H K’, ‘E D G & Z’. Manuskrip tersebut diperoleh dari Russel Jones pada tahun 2013, yang mana manuskrip tersebut dibeli oleh Russel di Yogyakarta pada tahun 1960-an.
Terdapat 191 gambar yang dapat diakses dari manuskrip digital tersebut, termasuk di dalamnya gambar cover serta beberapa lembar halaman kosong. Salah satu yang menarik perhatian penulis adalah pada halaman paling awal dimana ditemukan tulisan, yakni pada gambar ke-lima, dimana kata Muhammad diuraikan huruf-hurufnya untuk kemudian dihitung nilai abjadnya berdasarkan urutan abjad huruf hijaiyyah (a-ba-ja-dun).
Lafadz Muhammad dalam penulisan bahasa Arab terdiri dari tiga huruf mim, huruf dal, dan huruf ha’, yang mana huruf م dibaca “miimun” terdiri dari م ي م , د dibaca “daalun” terdiri dari د ا ل , dan huruf ح dibaca “haa’un” terdiri dari ح ا ء . Dengan nilaihurf-hurufnya, م 40, ي 10, د 4, ا dan ء 1, ل 30, dan ح 8. Kesemua nilai tersebut dijumlahkan kemudian pada naskah tersebut diketahui bahwa jumlahnya 313 yang mana juga disebutkan bahwa bilangan tersebut merupakan bilangan (jumlah) semua para Rasul. Namun setelah penulis hitung kembali jumlah yang benar dari penambahan nilai-nilai di atas adalah 315. Penulis tidak tahu menahu mengenai kesalahan tersebut, entah si penyerat manuskrip tersebut melakukannya secara tidak sengaja, atau ada operasi tertentu yang tidak disebutkan sehingga mendapat jumlah demikian, atau bahkan antara nilai-nilai huruf abjad tersebut tidak ada kaitannya dengan baris selanjutnya “jumlah 313…”. Kemudian jika dilihat lebih teliti lagi terdapat bekas tulisan yang dihapus pada beberapa tempat pada halaman tersebut.
Kemudian pada bagian isi mulai gambar ke-26 terlihat bahwa setiap bait shalawat ditulis dalam bingkai dan kolom serta dalam beberapa halaman bait-baitnya ditulis dalam dua baris, selain itu manuskrip ini terlihat sangat menarik dengan adanya iluminasi yang mewah, yang digambarkan dengan tinta emas, hitam, hijau dan merah. Hampir setiap halaman yang bertuliskan bait-bait shalawat dihiasi dengan iluminasi yang cantik, yang paling sederhana adalah dengan bingkai dan kolom dengan garisnya yang berwarna emas. Kemewahan manuskrip ini tak lain juga karena penyerat merupakan orang ningrat, yakni sebagaimana yang tertulis pada manuskrip gambar ke- 25, “للشيخ القاضي الحاج ابراهيم كمال الدين اڠرة جقجا م للانتقال القاضي الحاج محمد خليل كمال الدين…” oleh Syaikh al-Qadi al-Haj Ibrahim Kamaluddin Ingrat Jogja yang dipindahtangankan kepada al-Qadi al-Haj Muhammad Khalil Kamaluddin.
Secara keseluruhan manuskrip bertahun 1281 H ini berisi sholawat-sholawat serta do’a-do’a dalam bahasa Arab dengan beberapa bait ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan tulisan pegon yang ditempatkan di kolom yang sama. Dan di beberapa tempat terdapat catatan-catatan marjinal dalam bahasa Arab. Tulisan pada manuskrip ini ditulis dengan tinta hitam, merah serta emas.







No responses yet