Gusti Allah menegur kita yang sering gak tawakal, takut miskin, kemaruk dengan harta dan melupakan Dia

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Gusti Allah yang mencukupi hamba-hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan hal-hal yang selain Gusti Allah? Dan siapa yang disesatkan Gusti Allah maka tidak akan ada seorangpun pemberi petunjuk baginya” (Az Zumar 36)

Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga dawuh

من انقطع إلى الله كفاه الله تعالى كل مؤونة، ورزقه من حيث لا يحتسب، ومن انقطع إلى الدنيا وكله الله إليها

“Siapa saja yang menyerahkan urusan pada Gusti Allah, maka Gusti Allah akan mencukupi semua kebutuhannya dan mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga. Dan siapa saja yang menyerahkan urusannya pada dunia (bergantung pada makhluk), maka Gusti Allah membiarkannya terseret dalam pusaran keruwetan dunia”

Efek orang yg gak tawakal itu pikirannya gelap dan terus terseret dalam ruwetnya dunia. Hal itu gara-gara gak punya pikiran untuk tawakal dan terlalu yakin dgn usahanya.

Misal kita punya rencana punya rumah, lalu kita hanya menggantungkan diri pada usaha tanpa ingat Gusti Allah. Mulai tipu sana sini, korupsi kanan kiri dan tindakan culas lainnya. Akhirnya gak peduli duit halal atau haram, diembat semua demi tujuan punya rumah. Kita pun ketungkul (dililit) kesulitan dunia.

Maka Gusti Allah akan membiarkan hidup kita penuh kebingungan, kesumpekan dan keruwetan, walau banyak harta. Atau istilahnya istidroj. Karena dengan pikiran itu, jelas artinya kita gak peduli akan keberadaan Gusti Allah. Hidup pun kayak gak ada nilai lain selain mencari dunia.

Bahkan ibadah pun dijadikan makelar duit. Ibadah biar kaya, biar hutang lunas, kerjaan lancar dan tujuan dunia lainnya. Badannya sujud, tapi pikirannya nyembah duit. Tentu ini menyalahi tauhid.

Gusti Allah dawuh

إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu, maka mintalah rejeki itu di sisi Gusti Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan” (Al Ankabuut 17)

Maka tiap pekerjaan kita harusnya niatkan untuk mencegah siksa Gusti Allah dan mengharapkan ridho-Nya dibarengi rasa tawakal. Dengan tawakal, kita gak akan disumpeki hidup. Karena hidup hanya mikir ridho, rejeki pun datang bahkan dari hal2 di luar perkiraan kita. Kerjaan jualan layangan, eh jadi kaya gara2 dapat landasan, misalnya.

Rejeki itu pun bukan cuma duit, tapi yg lebih esensi, yaitu ilmu yang membuat hidup kita tenang dan senang.

Dawuh Sayyidina Ali Karomallahu wajhah, bahwa ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu menjaga diri kita, sedang harta minta dijaga. Punya ilmu bisa menghukumi, tapi punya harta malah jadi tersangka. Harta semakin berkurang bila dibelanjakan, tapi ilmu malah bertambah kalo dibagi-bagi. Ilmu bikin tenang, harta malah bikin was-was.

Tinggal kita memilih untuk tawakal atau hidup ruwet

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *