Categories:

Oleh : Muhammad Jafar Sidiq dan Amarendry Hidayatul Akbar (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka) (UHAMKA) Jakarta
Setiap pernikahan yang dibangun oleh sepasang suami istri pasti menginginkan untuk keluarga yang harmonis, aman, damai, tenteram, dan bahagia. Dalam menjalani kehidupan berkeluarga, pastinya memiliki lika-liku perjalanan hidup yang harus dihadapi. Mulai dari beragam masalah, rintangan, tantangan, dan sebagainya. Meskipun begitu, masih banyak keluarga yang harus dihadapkan segala ujian namun terjadi keretakan sehingga menyebabkan keluarga itu tidak harmonis atau yang biasa kita kenal sebagai broken home. Broken home ini menyebabkan banyaknya kasus dalam keluarga mulai dari kasus kekerasan, perceraian, dan lain-lain. Bahkan, kita sendiri menyaksikan banyak anak-anak yang menjadi korban akibat broken home yang dialaminya. Nah, sebetulnya apa itu broken home?
Broken home adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orangtua tak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga serta anaknya di rumah (Muhtar et al., 2022). Dari segi definisi, kita bisa memahami bahwa broken home sangat berdampak pada kehidupan keluarga terutama pada anak-anak. Adapun dampak yang terjadi pada anak akibat broken home.
Menurut ardilla & Cholid sebagaimana ditulis dalam jurnal (Rahman Wahid et al., 2022), bahwa terdapat dua dampak yang akan dirasakan oleh anak. Dampaknya yaitu pertama, broken home baik secara langsung maupun tidak akan berdampak kepada kondisi psikologis anak. Kita bisa saksikan bersama bahwa anak-anak yang mengalami situasi broken home mengalami kondisi psikis yang cukup tertekan sehingga menyebabkan anak tersebut tidak memiliki semangat dalam belajar terutama di sekolah, emosi yang kurang stabil, kecenderungan memiliki pergaulan yang kurang baik, dan lain-lain
Kedua, broken home juga dapat berdampak pada pendidikan anak. Kita bisa menyaksikan bersama bahwa anak-anak yang mengalami broken home cenderung
mengalami penurunan prestasi akademik. Hal ini disebabkan tekanan terutama pada mental anak tersebut yang harus dihadapi sehingga menyebabkan prestasi di bidang akademik menurun.Selain itu, menurut Massa, Rahman & Napu (2020) yang ditulis dalam jurnal (Rahman Wahid et al., 2022) secara rinci menjelaskan bahwa terdapat hal yang akan dialami oleh anak akibat broken home yang dialaminya.
Adapun halnya adalah sebagai berikut:

  1. Rentan mengalami Masalah Psikis. Tidak sedikit bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga broken home mengalami masalah secara psikis. Hal ini disebabkan karena ketika anak-anak harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya akan berpisah, kebanyakan anak akan kesulitan untuk dapat menerima keputusan yang diambil oleh kedua orang tuanya. Dan sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa dengan menurunnya psikis seorang anak akan mempengaruhi dari aktivitas anak tersebut. Misalnya, prestasi anak di sekolah yang menurun.
  2. Membenci Orang Tua. Ketika anak harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya akan berpisah atau keluarganya tidak lagi harmonis, anak-anak akan memiliki kecenderungan untuk menyalahkan hal tersebut kepada orang tua mereka. Bahkan, kita sering mendengar atau melihat bahwa seorang anak bisa berkelahi atau bertengkar kepada orang tuanya sendiri. Bahkan, kita sering mendengar anak-anak yang kabur dari rumah karena tidak suka atau benci dengan orang tuanya sendiri.
  3. Mudah Dipengaruhi Oleh Lingkungan. Tentunya, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan kondisi psikis yang kurang sehat, anak-anak yang berasal dari keluarga broken home akan menjadi mudah terbawa oleh arus lingkungan. Kita sering menyaksikan terutama anak-anak yang terlibat dalam tawuran, seks bebas, narkoba, dan lain-lain itu biasanya disebabkan dari betapa mudahnya anak terpengaruh dari pergaulan dengan teman-teman yang kurang dalam sosial dan tidak menutup kemungkinan biasanya anak-anak ini kurang mendapat perhatian dari orang tua atau mengalami masalah yang kita sebut broken home di rumah.
  4. Memiliki Pandangan Bahwa Hidup Tidak Lagi Berarti. Salah satu hal berbahaya yang dapat berdampak kepada anak adalah ketika mereka telah memiliki pandangan bahwa hidupnya tidak lagi berarti. Hal ini dapat mengakibatkan perbuatan yang tidak diinginkan terjadi pada anak tersebut. Biasanya dampak ini bisa memunculkan rasa ingin mengakhiri hidup karena sudah merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi.
  5. Tidak Mudah Bergaul, dari beberapa penelitian ditemukan data bahwa tidak sedikit anak-anak yang berasal dari keluarga broken home akan mengalami perubahan perilaku yang cukup drastis antara sebelum dan setelah keluarganya berpisah. Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa anak-anak yang mengalami situasi broken home akan cenderung untuk menyendiri dan biasanya sedikit malu untuk bergaul dengan lingkungannya. Misalnya, bergaul dengan teman di sekolah, teman di rumah, dan lain-lain.
  6. Mengalami Permasalahan Moral, artinya dalam situasi pasca broken home, proses tumbuh kembang anak akan kurang berjalan secara optimal. Disini kita pernah menyaksikan bahwa seorang anak yang broken home akan memunculkan watak yang keras. Namun, di situasi tertentu anak tersebut akan lebih sentimental. Ini akan membuat proses tumbuh perkembangan seorang anak cenderung terhambat.
    Dari penjelasan diatas, kita bisa memahami bahwa begitu banyak dampak yang diakibatkan dari broken home. Mulai dari menurunnya prestasi anak, tekanan psikis pada anak, dan lain-lain. Ini sungguh sangatlah berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan berkeluarga terutama pada anak-anak karena mereka akan mengingat kejadian yang dialami hingga dewasa nanti.
    Sebagaimana dalam salah satu hadits yang berbunyi “tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (H.R. Abu Hurairah).
    Dari hadits diatas, kita bisa memahami bahwa seorang anak yang terlahir di dunia ini bagaikan sebuah kertas yang masih bersih belum terkena noda sama sekali. Nasib seorang anak bergantung pada orang tuanya apakah bisa membuat anak lebih baik atau buruk.
    Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk menjaga keharmonisan keluarga kita agar terciptanya keluarga yang rukun, aman, nyaman, dan tenteram dalam menjalani kehidupan ini. Bila ada masalah, selesaikan dengan cara yang baik sehingga hal ini bisa menciptakan solusi yang akan menyelesaikan suatu masalah tanpa perlu adanya cara yang kurang berkenan dan membantu pertumbuhan anak ke arah yang lebih baik.

REFERENSI
Muhtar, M. A., Zulkifli, M., & Zulfa, B. I. (2022). Pengaruh Broken Home Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di Kelas Xi Ma Muallimin Nw Gunung Rajak Tahun Pelajaran 2021/2022. Jurnal Kependidikan Dan Pemikiran Islam, 1(2), 350–358. https://prosiding.iainponorogo.ac.id/index.php/ficosis/article/view/632
Rahman Wahid, Yusuf Tri Herlambang, Ani Hendrayani, & Sigit Vebrianto Susilo. (2022). Dampak Keluarga Broken Home Terhadap Perubahan Kepribadian Anak Usia Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendas, 8(4), 1626–1633. https://doi.org/10.31949/jcp.v8i4.2397

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *