Membicarakan Ustad Aman Abdurrahman, tidak asik bila tidak membicarakan Salafi Yaman dari Faksi Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali (Arab: الشيخ ربيع بن هادي المدخلي), menurut informasi Wikipedia, beliau adalah seorang ulama hadits masa kini yang cukup berpengaruh. Dilahirkan pada tahun 1932 di desa al-Jaradiyah, sebuah desa kecil di sebelah barat kota Shamithah, Arab Saudi. Syaikh Rabi’ adalah guru besar ilmu hadits di Universitas Islam Madinah. Terkenal dengan julukan “Pembawa Bendera Jarh wa Ta’dil”, meskipun beliau sendiri tidak suka dengan julukan ini.

Dari sini lahir beberapa tokoh sekelas Syaikh Ahmad Al-Hazimi, Al-Hazimi adalah lulusan dari madrasah Madkhali, kelak Al-Hazimi mempengaruhi pemuda2 Tunisia, dan Tunisia adalah penyumbang Junud 1515 terbanyak, setelah itu Saudi Arabia.

Para murid2 Madkhali inilah kelak yang memberikan Daurah di Masjid As-Sahwah Lenteng agung Jakarta Selatan, yaitu Syaikh Yahya Al-Hajuri (pernah di muat di situs Millah Ibrahim), dari sinilah Aman Abdurrahman ingin membawakan kembali dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab secara utuh seperti dulu.

Walau secara zhahir kelompok salafi menolak paling keras terhadap aksi Terorisme, tetapi fakta membuktikan bahwa justru dari madrasah ini terlibat banyak bergabung dengan 1515, setahu saya banyak ulama Thiyyar Salafi (baca Wahabi) memberikan Syarah dan Tahqiq ulang dalam banyak Kitab2 Muhamad bin Abdul Wahhab beserta anak cucunya, mengambil kembali ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab langsung Tampa Syarah dan Tahqiq ulang ulama sesudahnya adalah kecelakaan Aman Abdurrahman kelak.

Tetapi tidak ada salahnya kita menyimak curhatan lulusan madrasah Salafi Al-Hajuri ini curhat di grup WhatsApp, saya skip namanya demi keamanan yang bersangkutan, bagaimana perpecahan mereka, bagaimana kedekatan kelompok ini satu dengan yang lainnya, dan agar kita mudah memahami gerakan ini, dan bagaimana mudahnya mereka bergabung dengan kelompok teroris dengan alasan belajar Tauhid yang benar.

Saksikan obrolan singkat di bawah ini, 

Dinamika Perselisihan Salafi Hajuriyyun

Waktu perang Hajuriyyun dgan Hutsi di Dammaj, kubu Luqmaniyyun merasa senang karena menganggap itu efek dari pembangkangan Yahya Al Hajuri terhadap ulama (Rabi’ Al Madkhali CS) Waktu Perang Dammaj, ana masih duduk bersama Al Hajuri. Pernah Al Qa’idah mau membantu mereka. Mereka tolak. Karna mereka tak mau berjihad bergabung dengan teroris, kata mereka.

Kenapa mereka bisa diobrak-abrik. Karena di dammaj waktu itu ada dua kubu: fanatik Hajuri dan fanatik ‘Abdurrahman Al Adani, hingga mudah musuh mereka untuk melemahkan mereka.

Hikmah dari Perang Dammaj untuk ana.

Ana jadi tahu tentang jihad qital hingga ana tahu perang yang terjadi di Syam dan ana berterima kasih dengan saudara Firman Hidayat karena beliau mengenalkan ana tentang ISIS sebelum penaklukan Maushul hingga ana kenal dengan akun anashir negara seperti Qolbu Tersentuh, Kalamullah, My Heart Thouced, Idrus Ibnu Sati Riau. Dari mereka ini lah ana jadi kenal pembahasan tagut, jihad, syirik hukum. Hingga ana kenal dengan mbah-mbah di sini yang masyaa Allah. Sangat banyak memberi faedah dalam pekara agama ini. Barakallahu fi kum.

Abu Turob dan Abu Hazim, merekalah yang membawa fitnah perselisihan Hajuri dengan Al Adani di Indon hingga di Indon yang lulusan Dammaj jadi pecah dua kubu. Luqmaniyyun fanatik Al Adani dan Turabiyyun dan Hazimiyyun fanatik dengan Hajuri. Dahsyat perselisihan mereka.  Ana sempat pusing waktu itu. Baru mengenal dakwah sunah ala Rojali, eh, di tuduh sesat oleh ustaz lulusan Dammaj: Luqmam, ‘Umar As Sewed. Baru duduk ngaji dengan Luqman (Madkhaliyyyun), eh, dituduh sesat oleh Hajuriyyun. Goyah ana waktu itu. Al hamdulillah sekarang kenal negara dan di sini pun ana diuji dengan perselisihan antara ansar negara. Semoga Allah selalu membimbing ana agar tetap di atas al haqq.

Hajuri di Indo tepecah jadi dua: Turabiyyun dan Hazimiyyun. Abu Turab di Sulawesi. Abu Hazim di Magetan. Cuma kita dikasih akal untuk mencerna dalil dalil yang dipapari oleh antara kubu yang berselisih. Markiz Abu Turab berlantai pasir. Terjadi debat juga masalah lantai masjid oleh murid Abu Turab dengan Abu Hazim. Kalau Abu Hazim pondoknya di Magetan, Mbah. Pondok meraka mengharamkan yayasan dan kotak infak. Mereka tidak mau minta biaya kepada murid. Muridnya hanya membayar uang untuk makan. Pondok mereka klasik. Patut dicontoh. 

Kata mereka, lantai masjid Nabi waktu itu tidak beralas, hanya pasir, padahal Nabi mampu jika ingin mengalasinya.

Terus Abu Hazim ditahzir sama Abu Turab dan Abu Fairuz Al Kudsi karena Abu Hazim markiz-nya ada Tarbiyatun Nisa’ (pondok pesantren wanita) yang tak ada contohnya dari Nabi, kata mereka.

Dengan syarat tidak ada pondoknya, wanita boleh belajar di markiz, tapi tdak boleh nginap di pondok. Mereka berdalil dengan hadis yang bunyi, “Wanita tidak boleh membuka pakaian mereka, selain dari rumah meraka.” Pondok bukan rumah mereka. Begitu hujjah yang melarang Tarbiyyatun Nisa’ (TN).

Kata Hajuriyyun. Selain mereka adalah Ahlul Bid’ah, seperti Luqmaniyyun, Rojaliyyun, dan Zulkarnain Makassar..

Wah, mereka betul-betul parah. Sekarang. Kalau dengar kabar burung. Kalau mau duduk taklim di majelisnya Luqmaniyyun. Di data dulu. Cek pasukan. Kamu ngaji di mana dari mana.

————-

Keterangan: nama yang di sebut Firman Hidayat, adalah yang tahun lalu meninggal dunia, eks Laskar Jihad di bawah Ja’far Umar Thalib dan Luqman Ba’abduh

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *