Categories:

Sanad tanpa mulazamah itu fungsinya cuma untuk keberkahan, bukan fungsi ilmiyah. Paling jika ada dhabt mungkin bisa berfungsi di ilmu riwayah, tapi lagi-lagi dalam ilmu dirayah seperti fiqh, ushul fiqh, ilmu Kalam, mustalah hadis, dll maka sanad dan ijazah aja gak cukup. Ilmu dirayah itu yang penting bukan ijazah yang bisa ditulis dalam 2 menit, tapi mulazamah dalam waktu tertentu sampai guru mengatakan, kamu sudah bisa jalan sendiri dan memberi tahu orang lain bahwa kamu sudah sesuai standar. 

Sebagaimana nabi mengatakan bahwa sayyidina ali itu pintu ilmu, sayyidina zaid itu yang paling bagus ilmu faraidhnya, sayyidina muaz yang paling paham halal dan haram, dst. Mereka itulah ashab dirayah. Mereka yang berhak berfatwa dalam bidang mereka masing-masing. Maka dari itu ulama membedakan standar sahabat dalam ilmu hadis yang merupakan ilmu riwayat dan ilmu ushul fiqh yang merupakan ilmu dirayah. Dalam ilmu riwayat ulama mengatakan sahabat yang jumpa dengan nabi walau cuma sekali saja, hadisnya diterima selama dia dhabit, ini mirip sanas berkah, cuma memastikan kesinambungan, bisa diterima riwayatnya dengan syarat dhabit.

 Adapun dalam ilmu ushul fiqh standar ulama naik, sahabat itu yang lama mulazamah dengan nabi, karena disini yang ditekankan dirayah dan pemahaman sahabat, bukan sekedae nukilan, karena berkaitan dengan fatwa dan penafsiran alquran dan sunnah, butuh mulazamah dan pengakuan agar umat merasa aman dalam mengambil ilmu dari mereka. Makanya jika ada yang petantang petenteng dengan sanad ilmu dirayah, maka orang itu sering jadi bahan tertawaan oleh thalibul ilm, karena bisa dipastikan orang itu gak paham apa fungsi sanad dalam ilmu dirayah. 

Thalib dirayah yang tau fungsi sanad memang senang jika memiliki sanad dari banyak ulama, tapi mereka juga paham bahwa sanad disini bukan sanad yang mengatakan bahwa “kalian paham ilmu itu”, disini sanad keberkahan, mereka akan malu gagah-gagahan dengan sanad itu agar diakui keilmuan, karena mereka tau bahwa sanad dalam ilmu dirayah bukan itu fungsinya, yang memahami sanad dalam ilmu dirayah fungsinya seperti pengakuan keilmuan akan dianggap akalnya lemah oleh urf qaum, karena hal yang paling standar aja dia gak paham. Jika begitu keadannya berarti dia membawa sanad dan ijazah tanpa tau esensinya, itu dinamakan hatibul lail. 

Jangan heran jika beberapa ulama seperti syadid dalam memberi ijazah karena banyaknya orang-orang seperti itu dizaman ini. Dan perlu diketahui orang berilmu itu gak bisa ditakut-takutin dengan sanad. Karena yang lebih penting dari mereka adalah apakah kamu memahami sebuah ilmu sama dengan pemahaman gurumu? Dan gurumu itu memahami ilmu sebagaimana gurumu? Dan begitu seterusnya sampai ke Rasullullah. Itulah sanad terpenting bagi ahli dirayah, bahkan jika tanpa ijazah tertulis, karena semua orang tau bahwa fulan mulazamah lama dengan syeikh fulan. Mereka inilah thalibul ilm bukan thalibus sanad

Kadang ini bisa dirasakan ahlul fan bahkan hanya dengan mengajak diskusi tanpa perlu mengeluarkan ijazah atau menceritakan siapa gurunya. Adapun jika ada tulisan dan ijazah itu fungsinya cuma penguat dan untuk keberkahan ilmu. Dan terpenting ikatan batin antara guru dan murid. Jadi fungsinya bukan pengakuan keilmuan, berhentilah menipu awam dengan menyalahgunakan fungsi ijazah dan sanad dalam ilmu dirayah. Itu akan diminta pertanggungjawaban diakhirat kelak.

Sumber: FB Fauzan Inzaghi

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *