Assalamualaikum Gus Rofiq ngapunten, saya A (nama saya singkat) dari Diwek, Jombang. Saya punya adik ikut terpengaruh aliran W (saya singkat), semua diajak debat bahkan orang tua bercerita sampai menangis sedih kondisi anaknya yang dulu pintar dan dibanggakan. Saya ingin ajak sowan ke Jenengan. Kapan bisa ditemui jam berapa?
*****
Komentar saya:
Saya belum tahu orang yang inbox saya ini, saya lihat dia berteman di FB. Walau belum tahu, tapi karena ada narasi bahwa ibu si anak sampai menangis dan semua diajak debat, maka hati saya “mak tratap”. Tak terbayang bagaimana sedih ibunya sampai menangis. Untuk itu, saya suruh segera datang ke rumahku…
Sesuai perjanjian, mereka berdua datang. Orang yang inbox saya ini bicara dengan sopan ala santri pada umumnya dan menerangkan sebagai kakak ipar. Dia membuka pembicaraan bahwa adiknya itu dulu pernah di pondok modern, dan sekarang kuliah eksakta di universitas ternama di Jogja dan saat ini semester akhir. Adiknya ini tinggal di sebuah asrama dekat kampus.
Saya melihat wajah si mahasiswa ini langsung terngiang tentang ibunya yang menangis dan dia suka ngajak debat, maka saya silakan mau ngajak diskusi tentang apa? Saya guyoni bisa diskusi tentang eksistensi Tuhan dalam kacamata filsafat. Dia malah jawab, sudah tuntas masalah itu karena pernah kuliah di Ushuluddin. Nah lho…..
Lalu dia melanjutkan Ingin diskusi tentang kebenaran yang ada dalam kelompok Islam. Sebelum nyerocos jauh, saya tanya, “Kalau Anda pernah kuliah di filsafat Ushuluddin, apa maksud kebenaran?” Dia menjawab “Ya kebenaran yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah”.
Dia tidak terasa telah melakukan simplifikasi dari pertanyaan saya, maka saya ikuti alur nalarnya dengan berkata, “Jangan dikira kelompok yang ada dalam Islam semua tidak merasa berada dalam rel Alquran dan Sunnah. Tidak ada yang bilang mereka melawan Alquran dan Sunnah. Untuk itu, jawab dulu apa kebenaran yang Anda maksud?, setelah itu baru kita kaitkan dengan agama atau dihuhungkan dengan keilmuan lain.”
Nampak dia tidak bisa menjawab makna kebenaran dalam filsafat ilmu. Maka diskusi saya alihkan, “Gini saja, apa problem praktis dari praktek keagamaan familimu yang NU yang membuat masalah bagimu?”
Nampak dia sulit memulai, maka sang kakak ipar menimpali bahwa adiknya pernah mendebat masalah dzikir berjamaah setelah sholat yang dilakukan oleh sang kakak.
Maka saya sahuti, “Apa masalahnya bila saya mau dzikir bareng-bareng atau sendirian, mau banter atau pelan atau mau waktu malam atau waktu lain, sambil duduk atau berbaring atau telentang?”
Dia menjawab, “dzikirnya dibuat rutin dan tetap seperti itu.”
Tanpa perlu pakai panjang dan bertele-tele, saya lanjutkan, “Saya biasa setelah sholat fardlu melakukan dzikir bareng santri, kadang saat musafir tanpa dzikir bareng, kadang malah hanya berdoa saja. Pun, saat korona ini dzikir dan doa saya tambahi beberapa redaksi lain dan dengan bahasa non Arab. Lalu apa masalahnya? Jangan dikira kalau ada orang NU yang dzikir berjamaah dengan redaksi dzikir yang umum berlaku, selanjutnya orang NU itu menganggap bahwa itu wajib dilakukan? Tidak ada yang berpikiran begitu?
Kesalahan si mahasiswa ini adalah menganggap dzikir berjamaah tidak dicontohkan salafus Sholeh (dalam pahamannya). Padahal dia tidak berfikir lebih dalam lagi bahwa dzikir itu bebas waktunya, dan juga bebas (jangan salah paham mengartikan bebas ya) redaksinya, dan yang penting, tidak ada larangan setelah sholat melakukan dzikir dan berdoa dengan berjamaah. Pun tidak ada orang NU yang menganggap bahwa dzikir itu adalah bagian dari sholat fardhu yang kalau ditinggalkan akan berdosa. Dzikir dan doa setelah sholat bukan bagian dari ibadah sholat yang wajib dilakukan.
Entah apa lagi yang saya sampaikan dan yang dia sampaikan, tapi kok ujug-ujug dia bilang diskusi yang santai saja jangan marah.
Nah….. ini mahasiswa menilai saya marah bukan menilai argumen yang saya sampaikan. Maka saya bilang, cara omong saya memang seperti ini, saya tidak marah. Eh malah dia ngajak pulang kakaknya dan dia bilang bahwa saya agak sombong sehingga dia gak bisa diskusi.
Hemmmmmm ini saya baru pengen “ngremus_ dia saja, langsung saya bertitah (hehehe), “Kamu adalah tamu, tidak sopan bilang sombong kepada orang yang baru kamu kenal, itu melukai. Pantas saja kamu juga melukai hati ibumu tanpa merasa salah. Hanya karena pendapat yang masing-masing berpeluang benar di hadapan Allah, tapi kamu telah membuat ibumu menangis. Hal yang pasti, kamu berdosa karena menyakiti ibumu. Saya bisa halus dan bisa kasar, siapa yang di hadapan saya kok omong kasar, saya bisa membalas kasar.”
Eh dia bolak-balik bilang minta maaf dan tiba-tiba tidak disangka dia nangis lalu yang di luar dugaan, dia tergeletak di gubuk dalam kondisi setengah sadar. Lalu saya pijati kakinya yang terasa dingin sekali. Kemudian dia minta maaf lagi. Saya bilang sudah selesai dan saya maafkan.
Masih lemah terbaring dia bilang, “Saya mengakses medsos Gus Baha, UAS, Idrus Ramli, tapi semua pendapat tidak bisa mengalahkan lulusan Madinah.” Lhadalah, Karena jargon kembali ke Alquran dan sunnah menjadikan banyak yang baru tahu Islam menjadi silau. Padahal mereka berpikirnya pendek, saklek, inkonsisten karena sulit dirunut alur logis argumennya.
Dia juga bilang, “Kalau semua benar kan boleh saya pilih yang paling hati-hati.”
Lalu dia duduk dan minta nasehat tapi juga minta jangan menyalahkan dia. Aneh kan? Katanya suka mengajak debat dan kakak iparnya juga pernah diajak debat, dan tidak merasa dia telah menyalahkan amaliah mayoritas muslim di NKRI. Eh malah bilang begitu.
Karena minta nasehat ya saya nasehati. Saya bilang agar jangan membuat orang tuamu menangis. Katanya dia nanti mau minta maaf ke orang tua.
Lalu dia masih minta maaf lagi ke saya dan minta agar bersalaman tangan. Tentu saya ulurkan tangan dengan berharap agar nanti bisa berfikir lebih jernih. Saya tahu dia masih bertahan dengan pendapatnya, dia masih menutup diri untuk diskusi, atau mungkin mati gaya.
Oh ya, saya melihat mahasiwa ini sebenarnya cerdas, tapi labil. Dia potensial untuk melakukan hal riskan karena kelabilannya itu.
Terakhir, gagasan dia dengan ucapan apa salahnya saya pilih yang hati-hati. Ini poin yang sering disampaikan minhum. Ini bisa menjerat mangsanya, kayak ucapan, “Kita kan pengen sesuai dengan Sunnah” dan sejenisnya. Nanti perlu kita ulas. Itu kalau perlu hehe…
***
Kalau ingin melihat argumen naqli bisa mengkomparasikan di dua situs:
1. Pendapat kelompok sebelah https://almanhaj.or.id/2045-shaf-di-antara-tiang-keraskah-bacaan-basmalah-dzikir-berjamaah-setelah-shalat.html
2. Jawaban warga NU https://islam.nu.or.id/post/read/52153/dzikir-doa-bersama-setelah-shalat-apakah-bid039ah
Dari paparan dua situs itu kita akan paham alur argumen yang dangkal saat bicara bid’ah.
****
Foto : di gubuk itu si Dimitry sedang makan dengan lauk krupuk.

No responses yet