Ngomong-ngomong tentang berakhlak dengan sifat Af’al Gusti Allah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh,

من سرته حسنته وساءته سيئته فهو مؤمن

“Siapa saja yang amal baiknya membuat dirinya senang dan amal jeleknya membuat dirinya sedih, maka dia adalah orang mukmin”

Hati yang senang karena dapat melakukan ketaatan kepada Gusti Allah yang menjadi tanda keimanan, hanya kalo kita punya mindset bahwa ketaatan tersebut adalah anugerah dan pertolongan dari Gusti Allah. Bahwa Gusti Allah berkehendak pada kita untuk memperoleh kebaikan dengan menjadikan kita bisa melakukan ketaatan. Dari situ suasana ketaatan kita adalah dalam rangka syukur karena telah dikehendaki berbuat kebaikan.

Seseorang gak patut bergembira karena dapat berbuat taat, dengan tujuan ketaatan tersebut bisa terlihat lewat amalnya. Sehingga membuat kagum dirinya (ujub) dan berharap pujian dari yang lain (riya’). Kegembiraan semacam ini dicela oleh Gusti Allah dan Rasul-Nya.

Sebaliknya, saat berbuat jelek atau kehilangan momen berbuat baik, kita harus punya rasa sesal, sedih dan malu. Rasa sesal karena merugikan diri sendiri, rasa sedih karena mendapat ancaman siksa dan malu perbuatan jelek itu diketahui yang lain. 

Hati yang sedih karena kehilangan momen untuk melakukan ketaatan harus disertai dengan melaksanakan ketaatan tersebut. Misal kita kelewatan waktu sholat, maka kita harus bergegas mengqodho’ sholat yang terlewat. Kalo gak gitu, maka kesedihan tersebut termasuk tanda penipuan terhadap diri sendiri. Karena sama juga gombal, mulutnya berkata sesal tapi tubuhnya anteng-anteng aja, gak ada tindakan.

Kalo kita gak sedih karena kehilangan kesempatan untuk berbuat taat dan gak sedih karena melakukan kemaksiatan, maka hal itu termasuk tanda-tanda kematian hati. Kematian hati ini bisa bermacam-macam sebabnya, bisa dari kemalasan diri atau trauma lingkungan. Hati kalo udah mati, disiram air seember pun gak bakal bangun, lha wong udah jadi bangkai. Kebaikan dan kejahatan pun di matanya tampak sama saja. Hati pun tidak akan bisa damai dan terus bergejolak.

Maka langkah pertama untuk menghindari kematian hati, kita usahakan jangan sampai lepas akal sehat. Caranya, mencari lingkungan yang bisa mendukung agar kita bisa konsisten mengingat ilmu tentang Gusti Allah (aqidah) dan terus menyebut kesempurnaan-Nya lewat syariat-Nya. Semua ini termasuk bagian dzikrullah. 

Karena mengingat dan menyebut kesempurnaan-Nya secara konsisten dan terus-menerus, seperti air yang rutin menyirami tanaman hati. Sehingga meredakan gejolak hati, hati jadi hidup dan mendamaikan hidup kita. Hidup kita pun akan ditata langsung oleh Gusti Allah. Sehingga apapun kehendak Gusti Allah pada kita, baik atau buruk, kita bisa menghadapinya dengan tenang dan senang dengan pertolongan Gusti Allah.

Gusti Allah dawuh

وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Gusti Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Gusti Allah sajalah hati menjadi tenang”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *