Tidak semua ulama Nusantara yang belajar di Makkah pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 mendapatkan Kehormatan menjadi pengajar utama di Masjidil Haram. Syeikh Mahfuzh al-Tremasi termasuk di antara tujuh ulama nusantara yang mendapatan kehormatan itu pada tahun 1890.

Sebagai guru besar yang pertama kali mengajarkan kitab-kitab babon hadis di Masjidil Haram, seperti Kutub al-Sittah , Muwatha’ dll, Syeikh Mahfuzh kemudian dikenal punya spesialisasi khusus di bidang ilmu hadis.

Tidak hanya itu, pada dasa warsa pertama, beberapa kitab yang ditulis beliau semua masuk kategori fan hadis. Seperti Syarah Tsulatsiyat al-Bukhari, yang berisi kumpulan 22 hadis yang dikumpulkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Ashqalani. Karya ini merupakan kitab pertama yang beliau tulis setahun setelah menjadi guru besar di Masjidil Haram (1891).Tak berselang lama dilanjutkan dengan menyusun kitab Hadis Arbain al-Tarmasi ( al-Minhah al-Khairiyah) berikut syarahnya, al-Khil’ah al-Fikriyah ( keduanya disusun tahun 1896 H).

Bagaimana dengan kitab syarah Tsulatsiyat? Meski terbilang kecil, karena naskah kitab ini hanya berjumlah 9 lembar, termasuk halaman kolofon dan  lembar kosong, naskah kitab Tsulatsiyat ini cukup monumental dan bersejarah.  Meski belum pernah dicetak secara khusus, syarah kitab ini ada di kitab Khil’ah Fikriyah, yg merupakan syarah kitab Hadis Arbain Al-Tarmasi. Selain itu, menurut beberapa informasi, naskah ini telah banyak disalin oleh ulama dari berbagai Negara, seperti Mesir, India dan lainnya.

Beruntung naskah kitab saat ini masih utuh dan tersimpan baik di Pondok Pesantren BUQ, Betengan, Demak Jateng.

Beberapa ulasan penting tentang naskah monumental masyayikh Pondok Tremas, bisa dibaca di buku #Manuskrip_Tremas.

Informasi lebih lengkap hubungi SINI 

Kredit Foto : Salahsatu lembar naskah kitab tsulatsiyat, juga kolofon (lembar akhir) kitab Tsulatsiyat.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *