Membela Penjajah
Namun sayang, karena Sultan Haji, raja Banten berikutnya lebih cenderung membela kepentingan penjajah, perjuangan Syaikh Yusuf pun semakin melemah hingga akhirnya tertangkap pada tahun 1683. Setelah dipindah-pindahkan dari penjara Cirebon ke Batavia, akhirnya pada tanggal 12 September 1684 ia dibuang ke Ceylon, Afrika Selatan. Di negeri itu ia menghabiskan sisa usia dengan berdakwah, mengajar dan menulis kitab. Hingga kini masyarakat Ceylon masih menganggap sang Syaikh sebagai wali dan pahlawan kebanggan mereka.
Abad enam belas dan tujuh belas memang merupakan masa-masa penting dalam penyebaran thariqah di nusantara. Pada abad-abad tersebut, mulai banyak santri dari Nusantara yang lazim dikenal dengan orang Jawah atau Jawi yang menetap di Tanah Suci untuk belajar ilmu agama. Bahkan saat itu, jumlah jamaah haji dari Nusantara termasuk yang terbesar dibanding dari dari negeri-negeri muslim lain.
Para santri Jawah itu hidup dalam satu komunitas tersendiri yang terpisah dari santri-santri negeri lain. Karena kemampuan berbahasa Arab mereka yang rata-rata pas-pasan, santri-santri junior lebih banyak belajar kepada para santri senior asal Jawah juga. Setelah cukup matang barulah mereka mulai belajar kepada ulama besar setempat. Kemudian, sebagaimana yang dilakukan para pendahulu mereka, setelah usai mengaji ilmu syariat, para santri Jawah itu lalu berguru ilmu tasawuf kepada ulama sufi terkenal di kota itu. Setelah era Syaikh Al-Qusyasyi dan Al-Kurani, pada abad 18, tokoh ulama sufi yang menjadi tujuan belajar utama santri Jawah adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammani (wafat 1775 M), penjaga makam Baginda Nabi Muhammad SAW. Ulama yang produktif menulis itu mengajarkan perpaduan ajaran thariqah Khalwatiyyah, Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah dan Syadziliyyah. Sufi yang dikenal banyak memiliki karamah itu juga menyusun sebuah ratib dan mengajarkan metode berzikir baru yang belakangan dikenal sebagai wirid Thariqah Sammaniyyah.
Karena kehebatan karamahnya, thariqah itu sangat diminati para santri Jawah dan segera saja tersebar luas di nusantara. Salah satu murid utama Syaikh Samman asal nusantara adalah Syaikh Abdul Shomad Al-Falimbani, ulama pejuang asal Palembang, Sumatera Selatan yang mengarang beberapa kitab terkenal berbahasa Melayu. Berkat Syaikh Abdul Shomad pula thariqah itu diterima dengan tangan terbuka dan berkembang pesat di Kesultanan Palembang. Bahkan, beberapa waktu setelah sang syaikh wafat, Sultan Palembang membangun sebuah zawiyyah Thariqah Sammaniyyah di kota pelabuhan Saudi Arabia, Jeddah. Karena besarnya kecintaan para Sultan Palembang kepada Syaikh Samman dan thariqahnya, tak heran hingga saat ini Thariqah Sammaniyyah terus berkembang pesat di Sumatera Selatan, bahkan sampai pulau-pulau lain. Di beberapa daerah di pesisir utara Jawa, misalnya, hingga ssat ini syair tawassul kepada Syaikh Samman masih sering dikumandangkan setiap usai shalat tarawih dan witir di bulan Ramadhan.
Thariqah ini juga menjadi alat pemersatu rakyat, ulama dan umara Palembang dalam pertempuran penjajah pada tahun 1819. Dalam sebuah karya sastra setempat dikisahkan, sekelompok pengikut thariqah yang mengenakan pakaian serba putih dan menyandang senjata tampak berzikir dengan keras hingga mencapai fana atau ekstase. Kemudian tanpa rasa gentar mereka menyerbu dan mengobrak-abrik barisan tentara Belanda.
Syaikh Abdul Shamad Al-Falimbani sendiri di masa tuanya hijrah ke Pattani, untuk berdakwah dan membantu umat Islam setempat yang tengah berjuang melawan penjajah eropa yang datang silih berganti.Seiring kepulangan santri Jawah yang telah selesai belajar di tanah suci, menjelang akhir abad delapan belas, berbagai thariqah telah tersebar luas di nusantara. Setiap daerah memiliki kekhasan thariqahnya sendiri, sesuai yang dianut petinggi agama setempat. Beberapa daerah juga memiliki tradisi yang merupakan perpaduan dari berbagai thariqah terkenal.
Bermodal Kesaktian Jejak Thariqah Qadiriyyah dan Rifa’iyyah, misalnya, bisa dikenali lewat kesenian debus yang tersebar mulai di berbagai kesultanan seperti Aceh, Kedah, Perak, Minangkabau, Banten, Cirebon, Maluku, dan Sulawesi Selatan. Bahkan kesenian yang mengedepankan aspek kesaktian itu juga dikenal di komunitas Melayu di Cape Town, Afrika Selatan, yang mungkin mendapatkannya dari Syaikh Yusuf Al-Makassari dan murid-muridnya.
Pada mulanya ilmu kebal debus diberikan para guru thariqah untuk menambah semangat juang murid-muridnya dalam menghadapi penjajah. Tak heran pertempuran demi pertempuran meletus di berbagai daerah yang digelorakan oleh ulama dan pengikut tarekat. Selain di Pelambang, pertempuran lain melawan penjajah yang dilakukan para pengikut thariqah juga tercatat pernah meletus di Kalimantan Selatan (tahun 1860an), Jawa Barat (1888) dan Lombok (1891).
Dua pertempuran yang disebut terakhir itu digerakkan oleh ulama dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), tarekat baru yang didirikan oleh ulama sufi Makkah asal Kalimantan Barat, Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasi (wafat 1878). Sufi besar itu mempunyai tiga orang khalifah (asisten, yang kelak bisa menggantikan sebagai guru utama), yakni Syaikh Abdul Karim Banten, Syaikh Tholhah Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah Madura (tinggal di Makkah). Sepeninggal Syaikh Ahmad Khatib Sambas, kepemimpinan tertinggi Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah di Makkah dipegang oleh Syaikh Abdul Karim Banten. Kharisma kuat yang memancar dari diri Syaikh Abdul Karim membuat thariqah ini segera tersebar luas di nusantara, khususnya Jawa Barat, Jawa Tengah bagian utara dan Jawa Timur.
Setelah Syaikh Abdul Karim wafat, kepemimpinan TQN tidak lagi terpusat. Thariqah itu berkembang pesat di berbagai daerah di bawah kepemimpinan para khalifah generasi seudahnya. Pada paruh kedua abad dua puluh, terdapat setidaknya empat pusat TQN yang penting di Pulau Jawa : Rejoso (Jombang – Jawa Timur) yang dipimpin oleh Kiai Musta’in Romly, Mranggen (Demak –Jawa tengah) dipimpin Kiai Muslikh, Suryalaya (Tasikmalaya – Jawa Barat) dipimpin oleh Abah Anom, dan Pagentongan (Bogor – Jawa Barat) dipimpin oleh Kiai Tohir Falak. Keempat tokoh besar TQN itu kini telah wafat. Namun hanya tinggal Suryalaya pula yang sepeninggal pengasuhnya, kepemimpinan thariqahnya masih efektif hingga saat ini. Sementara ketiga pusat pengajaran lainnya tidak berhasil melakukan regenerasi.
Di Jawa Timur, misalnya, Kiai Mustain Romly yang terjun ke politik praktis mulai ditinggalkan pengikutnya. Ketokohannya kemudian digantikan oleh Kiai Adlan Aly dari Tebuireng. Sepeninggal Kiai Adlan Aly, ketokohan TQN di Jawa Timur dipegang Kiai Utsman Al-Ishaqi Surabaya dan dilanjutkan oleh putranya yang legendaris, K.H. Asrori A-Ishaqi. Sementara di Jawa Tengah, sepeninggal Kiai Muslikh yang kharismatik, kiprah kethariqahan Mranggen berangsur-angsur surut. Hal yang sama juga terjadi di Pesantren Pagentongan, Bogor, yang sempat berjaya pada masa kepengasuhan Abah Falak.
Selain thariqah-thariqah yang sudah disebut di muka, masih banyak lagi thariqah besar yang masuk ke nusantara pada pertengahan abad 19. Yang paling besar tentu saja Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah (TNK), hasil pembaruan thariqah Naqsyabandiyyah yang dilakukan oleh Maula Khalid Al-Baghdadi.Thariqah ini, menurut berbagai sumber yang dikutip Martin VB dalam Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, masuk nusantara untuk kali pertama melalui Syaikh Ismail Al-Minangkabawi, yang mengajar di Singapura. Melalui tokoh mendapat ijazah dari Syaikh Abdullah Barzinjani (khalifah Maula Khalid) itu TNK-pun menyebar ke Kerajaan Riau, Kerajaan Minang kemudian seluruh tanah air.
Perang Paderi
Di Minang, para pengikut Naqsyabandiyyah Khalidiyyah yang dipimpin Syaikh Jalaluddin Cangking sempat terlibat bentrokan dengan pengikut tarekat Syattariyah yang berpusat di Ulakan. Para penganut Naqsyabandiyyah yang menganggap diri mereka pembaharu mengecam kaum konservatif di Ulakan, yang ajaran thariqahnya dianggap sudah tercemari sinkretisme. Belakangan, para tokoh Naqsyabandiyyah di Cangking terlibat peperangan melawan penjajah Belanda dalam perang Paderi, yang dipimpin Imam Bonjol. Cerita seputar hubungan antara Perang Paderi dengan thariqah Naqsyabandiyyah belakangan kembali dipertanyakan, terutama oleh sejarawan Minang dan Tapanuli. Pemicuya adalah beberapa buku sejarah yang menyatakan Imam Bonjol dan pasukannya adalah penganut paham Wahhabi yang bermaksud menggusur kaum muslim tradisionalis di kawasan itu. Wallahu a’lam bish shawwab.
Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah semakin berkembang pesat di tanah air melalui jamaah haji sejak Syaikh Sulaiman Zuhdi, khalifah thariqah tersebut membuka zawiyyah di Jabal Abi Qubais, Makkah Al-Mukarramah. Untuk wilayah Jawa, misalnya, Syaikh Sulaiman menunjuk tiga khalifah: Syaikh Abdullah Kepatihan (Tegal), Syaikh Muhammad Ilyas Sokaraja (Banyumas), dan Syaikh Muhammad Hadi, Girikusumo (Salatiga).Khalifah pertama hingga wafatnya tidak mengangkat pengganti. Sedangkan kekhalifahan Syaikh Ilyas diteruskan oleh putranya Kiai Abdul Malik, Purwokerto, lalu oleh Habib Luthfi Bin Yahya, Pekalongan. Sementara kekhalifahan Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo dilanjutkan oleh putranya Kiai Manshur Popongan Klaten, lalu oleh cucunya Kiai Salman Dahlawi dan muridnya Kiai Arwani Amin Kudus.
Selain mewariskan Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah, Kiai Abdul Malik juga mewariskan ijazah kemursyidan beberapa thariqah kepada Habib Luthfi Bin Yahya, salah satunya adalah Thariqah Syadziliyyah. Bahkan, belakangan pemimpin tertinggi Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah itu lebih identik dengan tarekat yang berasal dari Afrika Utara tersebut.
Selain melalui jalur Kiai Abdul Malik, Thariqah Syadziliyyah di Jawa juga dibawa oleh K.H. Muhammad Dalhar Watucongol, Muntilan, Magelang, K.H. Ahmad Ngadirejo (Klaten/Solo?) dan K.H. Idris Jamsaren, Solo. Ketiganya memliki mata rantai yg sama: Kyai Ahmad, Mbah Malik dan Mbah Dalhar mendapatkan ijazahnya dari Syaikh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Makki dari Syaikh Muhammad Shalih Al-Mufti Mazdhab Hanafi. Sementara Kiai Idris Jamsaren yang satu generasi lebih tua mendapatkan ijazah kemursyidannya dari Syaikh Muhammad Shalih Mufti Al-Hanafi.
Dari Mbah Dalhar, ijazah kemursyidan itu turun kepada putranya K.H. Ahmad Abdul Haqq (Mbah Mad Watucongol), Abuya Dimyathi (Cidahu, Pandeglang) dan Kyai Iskandar (Salatiga). Sayang ketiga pewaris kemursyidan Mbah Dalhar itu kini telah wafat. Sementara dari Mbah Idris Jamsaren, ijazah kemursyidan itu diturunkan kepada K.H.R. Abdul Mu’id Tempursari, Klaten, kemudian diteruskan oleh putranya K.H.R. Ma’ruf Mangunwiyoto yg bermukim di kampung Jenengan, Solo. Mbah Ma’ruf sendiri tidak menurunkan kemursyidannya kepada siapa pun.
Selain kepada putranya, Kyai Ma’ruf, Kyai Abdul Mu’id Tempursari juga memberi ijazah bai’at kepada K.H. Soeratmo bin K.H. Amir Hasan, yg akrab disapa Mbah Kyai Idris Kacangan. Selain mendapat ijazah dari Tempursari, Mbah Idris Kacangan juga mendapatkan ijazah kemursyidannya dari K.H. Abdul Razaq Tremas Pacitan, yang mendapatkan ijazah kemursyidannya dari K.H. Ahmad Ngadirejo.Melalui jalur K.H. Ahmad Ngadirejo, kemudian K.H. Abdul Rozaq Tremas ini, Thariqah Syadziliyah juga diturunkan kepada K.H. Mustaqim Tulungagung. Kemursyidan Kiai Mustaqim kemudian dilanjutkan oleh K.H. Abdul Jalil Mustaqim, pengasuh Pondok Pesantren Peta (Pesulukan Tarekat Agung) Tulungagung.
Dan pada akhir abad dua puluh, pusat pengajaran Thariqah Syadziliyyah terbesar berada di beberapa pesantren : Pesantren Peta di Tulungagung dengan guru mursyidnya Kiai Abdul Jalil Mustaqim, Pesantren Watucongol Magelang dengan mursyid Kiai Muhammad Abdul Haqq bin Dalhar alias Mbah Mad, Pesantren Parakan Temanggung oleh Kiai Muhaiminan Gunardo, dan Pesantren Cidahu Pandeglang oleh Abuya Dimyathi.
Selain di beberapa pesantren tersebut, pengajaran Thariqah Syadziliyyah juga diberikan oleh guru mursyid non pesantren. Yang terkenal di desa Kacangan Boyolali oleh Kiai Idris dan –yang terbesar– di Noyontakan Pekalongan yang diasuh oleh Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya. Namun sayangnya saat ini hanya tinggal Habib Luthfi saja yang masih hidup, sementara yang lain telah wafat sepanjang satu dasa warsa lalu.
Yang menarik, meski baru tersebar luas di awal abad dua puluh, konon Thariqah Syadziliyyah sudah masuk negeri ini, khususnya Jawa Timur, sejak awal akhir abad 18. Pembawanya adalah Syaikh Maulana Abdul Qadir Khairi As-Sakandari, seorang ulama asal dari Iskandariyyah Mesir yang kini dimakamkan di makam auliya Desa Tambak, Kelurahan Ngadi, Kecamatan Mojo, Kediri, Jawa Timur.

No responses yet