Ijazah Dari Rasulullah
Thariqah besar lain yang ikut mewarnai khazanah muslim nusantara adalah Thariqah Tijaniyyah yang didirikan oleh Syaikh Ahmad At-Tijani (1737 – 1815) Sufi dari Afrika Utara. Karena usianya yang masih muda, thariqah ini baru masuk Indonesia setelah tahun 1920an, melalui Jawa Barat. Pembawanya adalah Syaikh Ali bin Abdullah At-Thayyib Al-Azhari, ulama pengembara kelahiran Makkah.
Di negeri ini kehadiran Thariqah Tijaniyyah sempat mengundang polemik, karena pendirinya mengaku mendapat ijazah langsung dari Rasulullah dalam keadaan sadar dan thariqahnya menyempurnakan serta menutup thariqah-thariqah lain. Meski sempat ditentang oleh ulama thariqah lain, Tijaniyyah tumbuh subur di Cirebon dan Garut dengan Pesantren Buntet, Cirebon sebagai pusatnya. Saat ini terdapat tak kurang dari 28 muqaddam, istilah untuk guru mursyid dalam thariqah ini, yang tersebar di seluruh Indonesia. Masih banyak lagi thariqah-thariqah lain yang saat ini terus tumbuh dan berkembang di tanah air, baik yang mu’tabar (keabsahannya diakui) maupun yang belum diakui. Dari yang diperkirakan datang bersamaan dengan tibanya wali songo seperti Thariqah Kubrawiyyah, sampai yang baru masuk Indonesia di penghujung abad dua puluh, seperti Thariqah Naqsyabandiyyah Haqqaniyyah.
Masalah kemu’tabaran itu memang selalu menjadi isu krusial dalam dunia thariqah, karena dengan menyandang status mu’tabar suatu thariqah diakui ketersambungan sanadnya sampai kepada Rasulullah. Kemu’tabaran suatu thariqah sekaligus juga menyiratkan kemurniannya dari pengaruh ajaran metafsik lain yang menyesatkan. Untuk menjaga kemurnian dan kemu’tabaran ajaran thariqah-thariqah tersebut, sejak tahun 1979, pada muktamarnya ke-26, warga Nahdlatul Ulama membentuk Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, badan otonom NU yang melaksanakan mandat warga nahdliyyin seputar dunia pertarekatan. Dan saat ini Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah telah mengakui kemu’tabaran empat puluh empat thariqah di Indonesia.
Dari organisasi ini diharapkan akan semakin banyak kemanfaatan lahir dan tersebar di nusantara, dari kaum thariqah. Sebagaimana selama ini insan thariqah telah membuktikan jati dirinya melalui dakwah, dzikir dan perjuangan merebut kemerdekaan. Semoga!. (Kang Iftah, Januari 2009)
Sumber : Martin VB (Tarekat Naqsyabandiyyah di Indonesia dan Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat), dan beberapa sumber lain

No responses yet