Dzikir adalah aktifitas hati yg menjadi pusat ruhaniah manusia. Hati yg suci bersih akan mudah menerima hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sementara hati yg penuh noda dosa akan tertutup dari cahaya petunjuk-Nya. Akibatnya, membuat seseorang hidup bergelimang dosa dan maksiat. Karena hati itu ibarat tanah, akan gersang dan membatu jika tidak tersentuh air, dan dzikir itulah air yg akan menyuburkan hati.

Allah telah memerintahkan dalam kitab-Nya kepada hamba2-Nya yg beriman agar memperbanyak dzikir kepada-Nya, baik ketika berdiri, duduk, dan berbaring, ketika malam maupun siang, di daratan maupun lautan, saat safar maupun mukim, waktu kaya maupun miskin, ketika sehat maupun sakit, rahasia maupun terang2an, dan di segala keadaan. Lalu diberikan kepada mereka disebabkan oleh dzikir berupa ganjaran yg melimpah, pahala yg besar, dan tempat kembali yg indah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا. تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا

“Wahai orang2 beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yg banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang. Dia-lah yg bershalawat atas kamu dan malaikat-Nya untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan Dia sangat penyayang terhadap orang2 beriman. Salam penghormatan mereka pada hari berjumpa dgn-Nya adalah ‘salam’, dan Dia menyiapkan untuk mereka ganjaran yg mulia.” (QS. Al-Ahzab : 41-44)

Jika kita ingin berdzikir di luar sholat seperti sambil duduk, berbaring, sambil jalan, di atas kendaraan, saat duduk2 bermajelis, itu tidak harus berwudhu dan menghadap kiblat. Tapi silahkan berdzikir sebanyak2nya, karena itu sangat dianjurkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إنَّ في خَلْقِ السَّماوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda2 bagi orang2 yg berakal, (yaitu) orang2 yg mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 190-191)

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Allah subhanahu wa ta’ala, memerintahkan kita untuk berdzikir mengingat-Nya ketika berdiri, duduk dan berbaring, bagaimana mungkin kita dapat melakukannya? 

Mengigat Allah subhanahu wa ta’ala, bisa dilakukan didalam hati tidak perlu dilafazkan, sebagaimana disebutkan dalam surat Al A’raaf 205:

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dgn merendahkan diri dan rasa takut, dan dgn tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang2 yg lalai (Al A’raaf 205)

Karena itu, tidak ada halangan bagi kita untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, sambil melakukan aktifitas sehari2, dimana pun. Kita bisa berdzikir mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, ketika sedang berjalan, duduk dikendaraan (mobil, kereta, pesawat), mengemudi mobil, menyelesaikan tugas kantor, sedang rapat, mengikuti seminar, mengikuti tender, menunggu dihalte bis, ruang tunggu rumah sakit, apotik dan lain sebagainya.

Berdialog dan bercakap2 dgn Allah subhanahu wa ta’ala secara bathin, sudah termasuk kegiatan dzikir mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Aktifitas ini, merupakan kegiatan siir (tersembunyi), yg tidak diketahui oleh siapapun dikiri kanan kita.

Biasakan kita berdzikir dgn menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala, didalam hati dimanapun berada. Bisa juga berdzikir dgn membaca ayat2 Qur’an yg dihafal, didalam hati secara berulang ulang, hingga terasa mantap didalam hati. Tentu saja tidak mudah melakukan kegiatan tersebut jika tidak dilatih dan dibiasakan setiap hari.

Ulama kibar tabi’in  senior, Imam Abul Khattab Qatadah bin Di’amah as-Sadusi atau Imam Qatadah rahimahullah (680 – 735 M di Iraq), mengatakan, “Inilah keadaanmu wahai manusia. Ingatlah Allah ketika berdiri. Jika tidak mampu, ingatlah Allah ketika duduk. Jika tidak mampu, ingatlah Allah ketika berbaring. Inilah keringanan dan kemudahan dari Allah.”

Barang siapa dzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada dirinya, maka Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya pada diri-Nya. Barang siapa dzikir kepada Allah di tengah khalayak manusia, maka Allah menyebutnya di khalayak yg lebih baik daripada mereka. Sedangkan orang yg lupa Allah, niscaya Allah melupakannya.

Orang2 yg banyak berdzikir pada Allah subhanahu wa ta’ala, mendapatkan keberuntungan yg besar dan bagian yg sempurna berupa penyebutan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap mereka. Begitu pula shalawat Allah atas mereka dan para malaikat-Nya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu (619 M, Mekkah – 687 M, Tha’if, Arab Saudi)

Tentang makna ayat di atas, bahwa beliau berkata, “Apabila kamu melakukan hal itu; yakni memperbanyak dzikir kepada Allah; niscaya Allah akan bershalawat kepada kamu dan juga para malaikat-Nya.”

Oleh karena itu, penting bagi setiap mukmin untuk menyuburkan hatinya dgn aktifitas dzikir. Dengan dzikir, seseorang akan senantiasa mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, merasakan, serta menghadirkan-Nya dalam segala aktifitas yg dilakukan. Sehingga, keyakinan yg kuat akan kehadiran dan pengawasan Allah ini akan menutup celah untuk bermaksiat.

Termasuk sifat orang2 yg beriman, adalah tidak terlalaikan dari dzikirnya oleh suatu apapun. Allaah ‘subhanahu wa ta’ala menjelaskan,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ.

“Bertasbih kepada Allaah di masjid2, yg telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada pagi dan petang, laki2 yg tidak dilalaikan oleh perniagaan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut terhadap suatu hari yg (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur : 36 – 37).

Wallahu a’lam

Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *