Setiap pejalan menuju Allah (salik) pastilah memiliki tujuan agung yang tidak terbendung, yaitu keinginan untuk sampai kepada-Nya. Ini bermakna setiap salik harus menempuh jalan yang dapat mengantarkannya sampai kepada tujuannya tersebut. 

Beruntung berkat ‘inayah Allah, Dia memperkenalkan jalan menuju diri-Nya itu. Sebuah jalan kesempurnaan hidup, yang jikalau tidak dibumikan-Nya atau malah disembunyikan-Nya, niscaya akan banyak manusia yang tidak menempatkan dirinya di atas jalan-Nya itu.

Mereka akan kehilangan arah, panduan, kompas, dan destinasi hidup. Meruyaklah sebagai akibatnya berbagai kerumitan, malapetaka, dan kehancuran dalam kehidupan yang berawal dari dilahirkannya banyak jiwa yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang menuju perusakan diri dan jurang kehacuran. 

Dan mengingat betapa berjalan menuju-Nya bukan hal mudah, wajarlah bila Allah kemudian memandu para pecinta-Nya dengan doa yang tercantum dalam surah yang menjadi bacaan wajib setiap kali salat didirikan—sehingga disebut juga “tujuh yang diulang-ulang” (as-Sab’u al-Matsâni) , yang juga merupakan surah dengan keistimewaan dan kedalaman makna nan tiada pernah kering ditimba. 

Dalam surah al-Fâtihah tersebut, kita akan menemukan frasa;

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus” .

Pejalan, pecinta, dan bahkan kekasih Allah sekalipun… tak akan ada yang rela meninggalkan doa ini.

Jika kau belajar pada seseorang, atau kau melihat seseorang belajar… namun hasil dari belajar itu adalah kesombongan, keangkuhan, gelap mata pada cinta dunia…

Maka jauhi dan tinggalkanlah !!!

Itu bukan jalan para kekasih. Itu hanya jalan yang mirip, yang dibuat oleh sosok makhluk yang merasa paling dekat dengan Sang Mahakasih ;  IBLIS yang tersisih.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *