Tangerang Selatan, jaringansantri.com – Dr. Ngatawi Al-Zastrouw mengatakan bahwa kebudayaan Nusantara memiliki karakter yang elastis dan fleksibel karena bagian dari produk situasi yang beragam. Karakter ini membuat daya tampung dan kekuatan merajut setiap unsur kebudayaan luar.

Hal ini disampaikan saat mengisi Kajian bertema “Akar Seni Budaya Islam Nusantara” bersama Z. Milal Bizawie di sekertariat Islam Nusantara Center (INC). Sabtu, 9 Desember 2017.

Ia mengatakan “Karena dituntut berdialog dengan keberagaman. Dipaksa oleh keadaan untuk mencari bentuk-bentuk keseimbangan, pola-pola negosiasi untuk saling bertenggangrasa antara yang berbeda ini.”

Budaya Nusantara memiliki kemampuan merajut persatuan. Ini tercermin dalam kemampuannya menjadi “katalisator” terjadinya proses akulturasi dan sikretisasi budaya. “sebagaimana tercermin dalam berbagai ritus keagamaan yang juga melahirkan berbagai karya seni,” kata budayawan yang akrab disapa Sastro ini.

Selain itu juga terlihat dalam kekuatannya mempersatukan kebudayaan dalam satu ikatan hingga membentuk “affinitas budaya” yang kokoh. Kekuatan inilah yang akhirnya memebentuk lapis-lapis kebudayaan Nusantara yang berasal dari negeri yang berbeda-beda.

“Jadi khittohnya bangsa Nusantara memang fleksibel. Karena didik oleh alam seperti itu. Beda dengan orang arab, bangsanya ya itu, bahasanya ya itu dengan suasana alam yang keras seperti itu,” ujarnya.

Seni budaya Nusantara, lanjut Sastro, mengalami pengayaan ketika bersentuhan dengan budaya Islam yang datang dari berbagai penjuru duni, terutama China, India, Persia dan Arab. Beberapa negara tersebut menyebarkan Islam dengan membawa ragam seni budaya masing-masing.

Seni budaya Islam Nusantara terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan derajad kreatifitas ummat Islam Indonesia. “Meski mengalami berubahan dari segi format dan penampilan, namun satu hal yang tetap dipertahankan yaitu; nilai-nilai etik dan spirit religiusitas,” terang Sastro.

“Kenapa Islam di Indonesia diinjak (dijajah) selama 3,5 abad masih bertahan? tidak seperti Islam di Spanyol. Itu karena berpijak pada akar tradisi yang kuat,” pungkasnya. (Damar).