Oleh: Ichwan Ndeso

Dalam masa berkabung almarhum bapak kandung saya, Mohammad Fuad Syafiq (wafat Sabtu, 26/12/2020), saya Mohammad Ichwan, silaturahim ke _dalem_ Kyai Bahauddin bin Nursalim di kompleks Pondok Pesantren Al Qur’an di Desa Narukan Kecamatan Kragan, Kabupatèn Rembang, Provinsi Jawa Tengah. 

Saya _sowan_ kepada kyai yang akrab dipanggil Gus Baha’ ini pada Rabu, (30/12/2020) sore hari. Kedatangan saya diantar oleh Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Muhdi Hasan. 

Kang Muhdi, begitu saya biasa memanggil sahabat saya ini. Saya asal Desa Sedan, dia tinggal di Desa Karangasem, sama-sama di Kecamatan Sedan. Kang Muhdi adalah wali murid di Ponpes Al-Qur’an yang diasuh oleh Gus Baha’. Jadi dia sowan _sisan_ nengok putrinya yang sudah tiga tahun mondok di situ.

Sebenarnya kami sudah diberitahu “Santri nDalem” (istilah untuk menyebut santri yang mengabdi di rumah kyai, yang bertugas mengatur jadwal Gus Baha’ menerima tamu), bahwa kami bisa diterima Selasa (29/12/2020). Ketika kami nelpon Selasa sore, diberitahu bahwa tamu sedang sangat banyak. Semua dari luar Kabupaten Rembang. Maka kami datang malam hari. 

Sekretaris MWC NU Kec. Sedan Mustofa menemani kami. Ditambah keponakan Kang Muhdi, Habib, kami datang berempat. Kami sampai di rumah Gus Baha’ sudah lewat jam 21.00 WIB. Santri nDalem bilang: “Wah, jênêngan telat. Sekarang Pak Yai (Gus Baha’) sudah istirahat. Harusnya tadi bakda sholat Isya’ persis”.

Waduh. gagal. Maka kami pun pulang.

Rabu, begitu siang hari dapat pesan dari Santri nDalem, Kang Muhdi langsung menggeber sepeda motor untuk menjemput saya, lalu kami  berboncengan menuju Narukan. Targetnya mengejar waktu bisa sholat Jama’ah Asar di Pondoknya Gus Baha’.

Alhamdulillah. Persis menjelang iqomat, kami sampai. Dan langsung wudhu lalu sholat jama’ah. Usai jamaah, kami Gus Baha’ meminta kami ke ruang tamu beliau..

Gus Baha’ duduk memegang kitab. Dengan gaya khas beliau: bersarung longgar, kemeja putih yang digulung ujung lengannya, dengan kopyah hitam diangkat ke atas kening hingga nampak ujung rambutnya.

Begitu kami masuk, beliau langsung meletakkan kitab, lalu mempersilakan kami masuk. Heran saya, beliau menolak saya cium tangannya. Padahal sewaktu saya menjadi panitia Haul ke-117 Kyai Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang 2017 lalu, beliau datang bersana Gus Taj Yasin (sebelum menjadi wakil gubernur Jateng) bebas saya cium tangannya. Lalu ketika saya jadi panitia Acra Harlah NU di PWNU Jateng tahun 2019 dan Gus Baha’ hadir sebagai pembicara, tangan beliau bebas saya cium.

Saya colek Kang Muhdi, dia menjawab keheranan saya itu: “Biyen kan sampean durung dikenal. Saiki wis ngerti sampean wong Sedan, dadine ra gelem disungkemi”.

Memang Gus Baha’ belum mengenal saya ketika itu, tentu saja. Wong saya hanya anggota panitia yang tidak penting. Dan saat itu ratusan orang menyerbu salaman sama beliau. Pasrah saja “diseret” kesana kemari dan diciumi tangannya secara berebutan  oleh begitu banyak orang. Sedangkan sowan saya ini, benar-benar silaturahmi pribadi. 

Segera saya duduk lesehan di hadapan beliau. Saya matur kedatangan saya sebagai sekretaris Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat (KOPISODA). Sebagaimana umumnya wong Rembang, khususnya Sedan, saya gabisa basa-basi. 

Dan persis dugaan saya, Gus Baha’ tidak menanyakan apapun tentang diri saya. Cukup dengan kata kunci “Kula tiyang Sedan, Gus” beliau sudah langsung mengidentifikasi bahwa saya adalah santri standar “Sedan”. Bahkan saya rasakan Gus Baha’ _niteni_ saya ini alumni madrasah mana dan pesantren mana, punya guru siapa dan terhubung dengan siapa saja.

Akibatnya, saya jadi kesulitan menjalankan misi khusus. Yaitu ingin membujuk Gus Baha’ agar mau mengaji (membacakan) kitab  *Faidhur Rohman fi Tarjuman Tafsiri Kalami Maliki al-Dayyan* karya Kyai Sholeh Darat. Jamaah kami, KOPISODA.

Bersambung

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *