Jama’ah : “Jo menurutmu Pandemi Corona yang semakin dibuat menakutkan di akhir tahun lalu itu akan segera sirna apa masih lama.”

Paijo : “Lho memangnya kenapa kang, toh sejak tiga bulan setelah Pandemi Corona diumumkan, kita sudah hidup dalam kebiasaan lama. Hanya saja kita lebih biasa pakai masker dan lebih disiplin dalam hal menjaga kebersihan diri. Karena kita sadar sudah hidup dengan “tetangga” baru yakni si virus Corona.  Selain itu tidak ada yang baru dan semua biasa saja.  Tidak ada yang menakutkan dengan Corona di masyarakat bawah seperti kita ini kang. Karena sejak lahir kita ini sudah terbiasa susah dan tidak kenal rasa takut. Malah aneh kalau tiba-tiba sekarang kita ketakutan.”

Jama’ah : “Tapi berita media massa dan sosmed begitu ramai dan sepertinya semakin membuat ekonomi dunia tidak jelas. Bagaimana nasib kita dan anak-anak di masa depan Jo? Aku kok merasa semakin pesimis dengan hidup di tahun 2021. Aku merasa Corona ini sudah mencapai level adzab Allah untuk kita Jo?”

Paijo : “Ya kalau akang disibukkan dengan melihat berita di media massa dan terutama sosmed. Maka pikiran akang akan disetir informasi yang nggak jelas hakekat kebenarannya. Kang, tahun 2020 (dan mungkin tahun 2021) adalah tahun yang berat sekaligus penuh peluang buat siapapun yang bisa tetap menjaga kewarasan. Apakah Corona itu adzab atau justru nikmat, sebenarnya itu cuman cara pandang saja kang.”

Jama’ah : “Lho kok bisa begitu Jo? Aku semakin bingung dengan cara pikirmu. Corona kang penyakit Jo?”

Paijo : “Memang betul Corona itu virus penyakit yang bisa mengancam kesehatan manusia. Tapi coba kita renungkan bagaimana perilaku kita sebelum masa Pandemi dan setelah masa Pandemi. Bukankah setelah ada Pandemi akang jauh lebih dekat dengan Tuhan, keluarga dan bahkan alam lingkungan dimana kita hidup? Tiba-tiba orang sadar bahwa Tuhan tidak bisa lagi diremehkan dengan rutinitas semata. Tuhan ingin ada pengakuan tulus dari manusia bahwa Dialah yang Maha Merekayasa Kehidupan manusia. Sekarang banyak orang suka berkebun dan bertani, padahal mereka bukan petani. Agama yang dahulu mengalami inflasi pada tataran formal simbolik sekarang mulai dicari substansinya. Sebab mereka tidak lagi bisa lagi berwisata dengan alasan ibadah. Bertahun-tahun ibadah Haji dan umroh telah kehilangan makna substantifnya dan menjadi sekedar perjalanan wisata orang-orang kaya semata. Tuhan bukan lagi menjadi tujuan, tetapi dijadikan alasan agar dinilai hebat di mata manusia lainnya. Seberapa sering kita berhaji dan berumroh itulah yang dibanggakan. Do’a yang dirapalkan pun hanya berkisar semoga bisa kembali ke tanah suci berkali-kali. Mereka tidak ingat banyak sekali orang susah yang benar-benar ingin ibadah haji yang tertunda karena perilaku orang super kaya yang bisa berhaji dan berumrah seenaknya.”

Jama’ah : “Waduh kamu betul Jo, aku yang dulu susah berkumpul dengan keluarga karena kesibukan kantor sekarang setiap saat bisa melihat dan bercengkrama dengan mereka sambil kerja. Aku bahkan bisa berjamaah dengan tenang di rumah.  Kenapa aku jadi bodoh begini ya Jo, nggak jauh berpikir kayak kamu?”

Paijo : “Yang bodoh itu aku kang, kalau aku sepintar akang aku nggak bakalan jadi penjaga warung. Aku akan jadi manager seperti akang.”

Jama’ah : “Tapi benar Jo kamu ternyata lebih cerdas ketimbang saya. Kenapa ya saya jadi telo begini?”

Paijo : “Kang kadang rutinitas dan kebiasaan yang berulang-ulang menjadikan kita merasa tidak perlu melakukan refleksi akan kebiasaan kita itu. Bahkan terkadang sampai menganggap kebiasaan itu sebagai kebenaran mutlak, meski menyalahi sunnah Tuhan. Lihatlah kebiasaan bermedsos masyarakat kita sekarang ini. Ada yang bertahun-tahun nyinyir pada seseorang sehingga seolah menjadi ibadah wajibnya. Bahkan mereka dengan seenaknya melabeli kemungkaran itu  dengan sebutan amar makruf nahi mungkar. Ada pula yang selalu memuji-muji idolanya hingga sang idola kayak tuhan yang nggak bisa salah dan marah kalau ada yang mengkritiknya. Kang kita ternyata sudah terlalu lama meremehkan Tuhan. Sudah saatnya di awal tahun 2021 kita bertaubat dan bersyukur masih bisa yakin bahwa Tuhanlah satu-satunya  zat yang Maha Merekayasa. Corona itu sesuatu yang kecil, mari kita kembalikan pada yang Maha Besar. Serta kita syukuri bersama karena dengan Corona banyak hikmah yang ternyata menyadarkan kita, betapa kita selama ini terlalu sering meremehkan Tuhan.” #SeriPaijo

Tawangsari, 1 Januari 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *